Kim Jong-un Rela Puasa Rokok Demi Perdamaian Korea

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kim Jong-un berpuasa dari rokok saat di gedung Peace House dalam pertemuan dengan Moon Jae-in telah menjadi pergunjingan pada waktu lalu. Aksi Kim Jong-un ini bisa saja ditafsir sebagai upaya simbolik akan suatu perdamaian. Bisa pula ditafsir lain, seturut kepentingan para pelahap berita.

Meski sebetulnya aksi Kim Jong-un ini berbanding terbalik dengan tradisi Kepala Suku Sioux (Lakota), Indian, suku asli di Benua Amerika, dimana merokok menggunakan Channunpa (pipa untuk menghisap tembakau) yang merupakan bagian dari ritus perdamaian. Sehingga pipa itu kemudian dikenal sebagai pipa perdamaian.

Yang seiring perkembangannya kemudiaan, makna ritus itu bergeser menjadi bagian dari pemuas kesenangan (leisure) belaka, setelah tembakau dipopulerkan Bangsa Eropa. Hingga masa sekarang.

Mata dunia boleh simpatik, boleh juga ujug-ujug sinis. Sinis lantaran Kim Jong-un yang sedianya pada pertemuan itu sudah disediakan asbak. Eh, si perokok berat dari Korea Utara itu malah tidak menyalakan rokok. Kalau istilah anak kampung sebelah disebutnya “kecele” sudah pihak Korea Selatan.

Baca Juga:  FCTC dan Penggiringan Opini yang Meresahkan

Terus terang kalau dilihat dari aspek adab wal etiketnya sebagai perokok, Kim Jong-un ini layak dikalungi predikat sebagai ambasadornya perokok santun.  Cukup dengan bersulang dan meneguk minuman beralkohol isyarat perdamaian sah sudah diwakili selepas seruan “cheers”.

Kabarnya Kim Jong-un pada ruang resepsi Peace House malam itu bukan berarti tidak merokok sama sekali. Dengan cara diam-diam Ia berpindah ke ruang peruntukkan, dan segera mengebulkan asap rokoknya.

Boleh jadi hal ini bagi kita (baca: perokok santun) bukan hal yang mencengangkan. Karena kerap pula mengalaminya pada peristiwa yang berbeda. Selepas meeting dengan klien di ruang ber-AC misalnya. Ataupula saat di dalam rumah ibadah saat tengah menjalani suatu rangkaian peribadatan.

Tidak ada yang aneh memang, lain bagi mata dunia yang mengidap “voyeuris” terhadap perilaku orang-orang tertentu yang diincar sebagai komoditas berita. Selebrasi akan tindak-tanduk tokoh dunia maupun sosok berpengaruh, tak akan lepas memang dari pergunjingan. Apalagi itu ada hubungannya dengan produk yang kontroversial: rokok.

Baca Juga:  Surat Tanggapan Kepada Buya Syafii Maarif, Dari Penghisap Nikotin

Antirokok yang kerap berdalih atas nama kesehatan dalam kampanyenya, sedikitpun tidak menyinggung soal bahaya alkohol yang diminum pada perjamuan di Peace House itu. Tetap saja yang digunjingkan iya seputar rokoknya, tak terelakkan.

Pertemuan diplomatik itu menjadi gambaran sederhana kepada kita untuk menarik beberapa hal yang memberi spektrum pembelajaran. Terutama jika disoroti dari itikad baik dalam rangka menghargai sebuah pertemuan, yang di situ, entah Kim Jong-un maupun kita juga memiliki sikap yang sama ketika itu memang diperlukan untuk puasa rokok.

Apalagi minggu depan sudah masuk bulan Ramadhan. Banyak perokok di Indonesia—muslim muslimat khususnya—sanggup seharian tidak merokok tidak makan dan tidak minum. Yang dari sini bisa dibilang merupakan kritik nyata terhadap kampanye antirokok yang merepetisi mitos rokok itu adiktif, bikin orang kecanduan susah berhenti. Omong kosong belaka.

Lihat saja pada bulan puasa nanti, banyak santri-santri maupun masyarakat umum yang perokok, sanggup melakoni kewajiban berpuasa dengan baik, melampaui yang dilakukan Kim Jon-un pada pertemuan diplomatik itu. Dan alhamdulillahnya lagi, saya pun terbiasa melakoninya dari tahun ke tahun.

Baca Juga:  Perang Troya, Perang Nikotin
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah