Larangan Merokok di Gunung Tidak Bakal Efektif, Lebih Baik Lakukan Edukasi Saja

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebagai orang yang baru tiga kali mendaki gunung, agaknya saya kurang cocok membahas perilaku para pendaki. Beberapa tahun yang lalu, ketika heboh sebuah film, banyak orang-orang yang jadi gemar mendaki. Kemudian gunung-gunung pun jadi penuh sampah dan perilaku orang-orang yang mendaki gunung ini dikritisi banyak pihak.

Kala itu memang peningkatan jumlah pendaki terlampau tinggi. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang baru mendaki. Jadi, masih ada banyak dari mereka yang tidak memahami pedoman dan tata krama kala mendaki. Karenanya, edukasi  terhadap pendaki-pendaki tersebut banyak dilakukan.

Mengingat pernah hebohnya perkara ini, saya kira pelarangan merokok bagi pendaki di Gunung Merbabu tidak perlu dilakukan. Kalaupun alasannya demi menghindari kebakaran hutan, saya kira edukasi agar mereka tak membuang puntung sembarangan bakal lebih efektif ketimbang melakukan pelarangan. Toh selama ini, banyak larangan yang dibuat juga tidak dipatuhi.

Beberapa waktu lalu pengelola Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengeluarkan aturan agar para pendaki untuk tidak membuat api unggun saat berada di camp pendakian serta tidak menyalakan rokok saat berada di jalur pendakian. Hal ini dilakukan untuk menghindari kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Gunung Lawu.

Baca Juga:  Merokok Sebagai Bentuk Kesalehan Sosial

Tindakan preventif semacam ini memang patut diapresiasi. Biar bagaimanapun menghindari lebih daripada mengobati. Sayangnya, tindakan yang dilakukan adalah dengan membuat aturan yang kita sama-sama tahu bakal tidak ditaati. Karena memang merokok dan membuat api unggun adalah bagian penting dari melakukan pendakian.

Sebenarnya bisa saja pengelola menyediakan tim pengawas di camp-camp pendakian yang tentu saja berfungsi untuk mengontrol keadaan di sana. Kalaupun ada orang yang membuat api unggun, tinggal diberi arahan saja agar apinya tidak terlalu besar dan areanya tidak luas. Selain itu juga pengelola bisa memberi pemahaman kepada mereka agar selalu waspada pada jejak api yang ditinggalkan agar tidak menimbulkan kebakaran.

Pun pada persoalan merokok di gunung, saya kira para pendaki yang merokok hanya perlu diberi pemahaman. Selama ini segala aturan yang melarang dan menakut-nakuti perokok tidak pernah efektif. Semua hanya menjadi angin lalu karena larangan hanya menjadi larangan, tanpa pernah ada upaya memberi pemahaman dan edukasi buat mereka.

Padahal ya mana ada seorang perokok yang tidak mengisap ududnya tatkala mendaki? Ini ibarat orang-orang yang makan Indomie goreng tapi bumbunya nggak dipakai. Nggak sah lah. Lagipula para pendaki mengisap rokok (atau bahkan meminum minuman keras) di gunung sebagai upaya menghangatkan tubuhnya. Saya kira sah-sah saja mereka melakukan hal-hal itu saat mendaki.

Baca Juga:  Cukai Rokok, FCTC, dan Pengaruhnya Bagi Dunia Film

Hanya saja, memang mereka harus memperhatikan jejak yang ditinggalkan. Berikan pemahaman buat mereka untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan. Karena memang puntung rokok (apalagi yang masih terbakar) bisa membahayakan orang lain. Karenanya, beri saja para pendaki edukasi ketimbang melarang mereka merokok.

Masa iya orang-orang harus dilarang mendaki karena banyak di antara mereka membuang sampah sembarangan. Kalau memang ingin sampah-sampah tidak berserakan di gunung, ya lakukan edukasi agar mereka tidak melakukannya. Pun terkait rokok, ya lakukan hal yang sama buat perokok. Saya kira orang-orang bakal lebih menerima pemahaman yang disampaikan dengan baik ketimbang dilakukan dengan cara yang melarang-larang saja.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit