Perokok Keluar Banyak Uang Untuk Beli Rokok, Terus Zakatnya Gimana?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ada anggapan yang salah dari masyarakat terhadap perokok. Sebuah anggapan yang menyebut, perokok bakal mengeluarkan berapapun duit untuk membeli rokok. Katanya sih, itu terbukti dengan pasti dibelinya rokok seberapa mahal pun harganya.

Hal ini kemudian membuat mereka membuat anggapan lain, yakni: para perokok menghabiskan banyak uang untuk rokok, padahal zakat saja tidak. Aduh duh, begini amat ya nasib jadi perokok. Membeli suatu produk yang dikonsumsi aja udah susah banget, eh masih dipandang miring melulu.

Perlu diketahui bahwa tidak semua perokok itu memiliki keuangan yang baik. Ada juga perokok yang hidupnya pas-pasan, bahkan kekurangan. Jadi, tidak mungkin mereka mengeluarkan uang yang lebih besar untuk membeli kebutuhan rokok ketimbang urusan hidup yang lain.

Sebagai contoh, seseorang yang tidak memiliki uang bisa saja meminta rokok kepunyaan temannya untuk diisap. Ya merokok itu tidak melulu perkara membeli, tapi bisa saja diberi rokok oleh orang lain atau ya meminta. Toh, ada juga banyak orang yang memilih tembakau iris untuk dikonsumsi. Semua ya bergantung kekuatan finansial saja.

Baca Juga:  Menyediakan Ruang Merokok di Stasiun adalah Amanat Undang-Undang

Kalaupun membeli, tidak semua orang membeli rokok yang dalam hitung-hitungan kalian selalu mahal itu. Masih banyak merek rokok dengan harga bersahabat yang biasa dikonsumsi masyarakat. Dengan harga di bawah Rp 10 ribu per bungkus, saya kira wajar-wajar saja kalau mereka mengalokasikan sebagian uangnya kepada alat rekreatif dari hidup yang teramat berat ini.

Jadi, tidak semua perokok bakal membeli sebungkus rokok dengan harga yang mahal. Mereka akan beradaptasi dengan kondisi, dan mengikuti kebutuhan merokok dalam kapasitas masing-masing. Ada yang tingwe, beli rokok murah, atau malah lebih sering meminta ke teman.

Dan terkait zakat, aduh duh, tentu saja kedua hal ini tidak bisa dibandingkan secara apel ke apel. Membayar zakat, baik mal ataupun fitrah, adalah kewajiban bagi kaum muslim yang berkemampuan. Jadi, mau merokok atau tidak, kalau diwajibkan ya harus membayarkannya. Itu sudah perintah agama.

Jadi, tidak akan berpengaruh bagi seseorang yang membeli rokok hingga tidak bisa mengeluarkan zakat. Toh mereka membeli rokok dengan perhitungannya masing-masing. Tidak mungkin orang membeli rokok mahal, atau berlebih jika mereka tak punya uang. Pun dengan urusan zakat, tidak bakal uang rokok mengambil jatah uang zakat.

Baca Juga:  Rokok dari Ibu Menteri

Kemudian, jika yang dipersoalkan adalah mereka yang miskin dan merokok, ya itu juga hak mereka. Bahwa mereka tetap bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan agar keluarga bisa tetap hidup. Tapi di sisi lain. Mereka juga butuh produk rekreatif yang bisa meredakan beban mereka. Dan tentu saja, bisa membantu mereka lebih semangat mencari uang untuk keluarga.

Lagipula, kalaupun mereka menjadi penerima zakat, uang ataupun sembako yang mereka terima tidak bakal dibeli ataupun ditukar dengan rokok. Merayakan Idul Fitri bagi mereka yang menerima zakat juga hal yang penting. Saya kira mereka bakal lebih mendahulukan uangnya untuk membeli kebutuhan hidup. Para perokok, sekalipun miskin, juga punya otak kok.

Karenanya, buat saya, lebih penting agar kita belajar untuk adil kepada para perokok. Jangan sedikit-sedikit, perokok itu dianggap salah melulu. Padahal ya, yang membuat hidup tak nyaman dan tak tenang adalah perasaan benci dan pikiran buruk yang biasanya selalu ditimpakan pada perokok. Hambok hidup yang berbahagia gitu, kayak perokok.

Baca Juga:  Penghargaan Palsu untuk Perda KTR

 

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit