Refleksi Perokok Pada Hari Laut Sedunia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”

(Pramoedya Ananta Toer)

Tahukah kamu bahwa dua per tiga isi dunia ini adalah lautan? Air laut mendominasi komposisi bumi. Laut, sebagai bagian terbesar di planet ini, memiliki hari khusus untuk diperingati. 8 Juni adalah hari yang disepakati sebagai Hari Laut Sedunia (World Oceans Day).

Gagasan Hari Laut Sedunia lahir pada tahun 1992 di Rio De Janeiro, Brasil. Hari peringatan ini lalu disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2008. Laut merupakan salah satu sumber utama kehidupan manusia. Laut menyediakan bahan makanan, obat-obatan dan jalur distribusi hasil bumi ke setiap sudut dunia.

Momentum peringatan ini dijadikan hari refleksi guna meningkatkan kesadaran akan peran penting laut dalam kehidupan manusia dan peran penting manusia untuk melindungi laut. Eratnya keterikatan manusia dan laut itulah yang menjadi landasan kesepakatan Earth Summit di Brasil, 1992 dulu.

Jika dianalogikan, laut berperan seperti darah dalam tubuh. Darah membawa asupan nutrisi ke seluruh penjuru tubuh, sebagaimana laut menjadi jalur distribusi bahan makanan sejak dulu. Di dalam laut ada kehidupan jutaan spesies makhluk, yang kemudian menghidupi jutaan makhluk lainnya (manusia).

Baca Juga:  Kebijakan Menkes yang Tidak Bijak

Wilayah Indonesia pun didominasi oleh laut. Sebagaimana dunia, dua per tiga luas Nusantara juga diisi oleh lautan. Dari keadaan inilah Indonesia akrab dengan julukan Negara Maritim.

Di rejim Jokowi, ada dua kementerian yang mengurus perkara laut; Kementerian Koordinator Kemaritiman serta Kementerian Kelautan  dan Perikanan. Pos menteri Kemaritiman diisi oleh Luhut Binsar Panjaitan. Sedang pos Menteri Kelautan dan Perikanan diisi oleh Susi Pudjiastuti. Nama yang disebut terakhir ini cukup menyita perhatian publik sejak terpilih jadi menteri.

Sosok Susi yang kontroversial membuat aktivitasnya akrab dengan media. Susi adalah satu-satunya menteri yang bukan sarjana atau lulusan perguruan tinggi. Selain itu, Susi merupakan perempuan bertato dan merupakan seorang perokok. Aktivitas merokoknya tersebutlah yang paling menimbulkan kontroversi.

Dari Susi kita mengenal istilah “tenggelamkan”, sebagaimana yang sering Ia sampaikan ketika ada kapal asing yang mengusik laut Indonesia. Susi Pudjiastuti, meski kerap distigma negatif akibat kebiasaan merokoknya, tetap membuktikan bahwa merokok atau tidak bukanlah indikator moral seseorang. Secara tidak langsung beliau membuktikan bahwa perokok juga bisa berkontribusi pada negara, termasuk menjaga teritori laut.

Baca Juga:  Peraturan Soal Rokok di Aceh Harus Inklusif Terhadap Perokok

Kalaupun saya harus mengaitkan refleksi Hari Laut Sedunia dengan rokok, ruang yang sekiranya tersedia adalah kampanye perokok santun. Perokok juga perlu mengabadikan semangat Hari Laut Sedunia dengan praktik-praktik yang punya pengaruh pada kelestarian laut.

Sialnya, laut tengah menghadapi ancaman serius. Sampah yang didominasi plastik banyak ditemukan di laut. Sebagai sumber penghidupan, laut tak selayaknya dikotori oleh manusia-manusia tak bertanggung jawab.

Melalui momentum Hari Laut Sedunia, perokok yang santun harus terlibat aktif dalam pembangunan kesadaran publik untuk menjaga lingkungan hidup, termasuk laut. Bukankah kita harus berterimakasih pada segala yang memberi kehidupan?

Selamat Hari Laut Sedunia!

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd