Rokok Membahagiakan, Budaya Konsumerisme yang Memiskinkan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Beberapa warteg sudah mulai tutup. Pedagang-pedagang yang biasa ‘manggung’ di pinggir jalan juga sudah mulai menghilang. Suasana semacam ini adalah ciri umum lebaran yang semakin dekat, selain jalanan Jakarta yang semakin lengang, tentunya.

Masyarakat, khususnya umat muslim, sudah terbiasa dengan tradisi mudik di hari raya. Ya, mudik memang bukan bagian dari ritual ibadah Idul Fitri, hanya sebuah tradisi. Namun tradisi ini seolah berlaku umum mengingat aktivitas harian yang jauh dari kampung halaman dan orang tua. Untuk mengobati rindu tersebut, pulang kampung atau mudik menjelang lebaran dirasa jadi pilihan paling solutif.

Tak semua orang mampu mudik di hari raya. Ada banyak dari mereka yang setia menjaga ibu kota kala jutaan umat lainnya halal bi halal bersama teman masa kecil. Banyak faktor yang jadi penyebab, mulai dari tuntutan pekerjaan hingga yang paling umum; masalah finansial. Sungguh bukan hari raya yang indah jika dilewati tanpa keluarga.

Masalah finansial ini jadi urusan banyak orang. Terutama di momentum lebaran, budaya konsumtif seolah jadi bagian dari tradisi yang tidak bisa tidak dilakukan. Toko-toko pakaian dan makanan berlomba-lomba mengadakan potongan harga. Tunjangan Hari Raya (THR) yang didapat hasil dari loyalitas dan konsistensi bekerja selama bertahun-tahun, tak sampai seminggu sudah ludes dari genggaman.

Baca Juga:  Menilik Kepentingan dari Sertifikasi Bibit Tembakau

Pusat perbelanjaan mendadak membludak oleh riungan manusia yang masuk perangkap pengusaha bernama diskon. Miris, ketika makna kembali suci dalam hari raya seperti lebaran hanya diartikan sebatas materi yang serba baru. Memang disunahkan bagi umat muslim yang akan merayakan lebaran untuk maisyah, tetapi maisyah bukan berarti harus menggunakan pakaian yang serba baru, namun mengenakan pakaian yang terbaik, tak perlu baru.

Nah, paham yang menjadikan seseorang mengonsumsi barang-barang mewah dan serba baru secara berlebihan atau tidak sepantasnya dan dilakukan secara sadar serta berkelanjutan disebut sebagai budaya konsumerisme. Budaya konsumerisme inilah yang kemudian menimbulkan dampak kemiskinan. Setelah terjebak dalam budaya ini, seseorang akan membeli apa yang dia mau, sekalipun dia tidak butuh.

Hukum ini berlaku umum bagi semua jenis komoditas; pakaian, makanan, tak terkecuali rokok. Maksudnya, penyebab kemiskinan sejati adalah watak manusia itu sendiri, bukan barang yang dikonsumsi. Jadi, agak absurd ketika mendengar ada anggapan yang menyebut rokok menyebabkan kemiskinan. Dikonsumsi atau tidaknya rokok bukan ditentukan oleh rokok, melainkan hasrat dan keinginan manusia itu sendiri. Kecuali jika kalian percaya bahwa benda mati punya kuasa menentukan hidup manusia.

Baca Juga:  Tak Mau Berpikiran Buruk, Djarot Lebih Memilih Merokok

Fenomena yang umum menjelang lebaran ini bisa dijadikan momen kontemplasi bagi kita untuk otokritik. Kita tidak bisa menyalahkan produsen pakaian yang membuat baju bagus hingga kita ingin memiliki. Kita tidak bisa menyalahkan restoran yang membuat masakan enak hingga membuat kita ngiler lantas membenarkan budaya konsumerisme. Kita tidak bisa menyalahkan rokok dan menganggapnya sebagai biang keladi kemiskinan. Semuanya kembali pada diri sendiri.

Tapi, setelah sebulan penuh menahan nafsu, kembali bebas merokok di siang hari memang berhasil menimbulkan nuansa kemenangan. Yha, gimana yhaa, enak! Hihihi.

Buat perokok yang mudik, bisa liat tips mudik asyik di sini. Selamat hari raya!

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd