Bahaya Laten Anti-antian dan Betapa Dekatnya Mereka Dengan Radikalisme

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diamankannya 4 orang yang diduga teroris oleh Densus 88 di Depok membawa cerita yang menarik. Berdasar cerita dari beberapa tetangga dan masyarakat yang tinggal di lingkungan para terduga teroris, ada satu sikap yang membedakan perilaku mereka dengan masyarakat. Hal tersebut adalah: kebencian mereka pada rokok.

Diungkapkan oleh seorang warga, kehidupan bermasyarakat para terduga teroris dapat terciri karena mereka biasanya menutup diri meski kerap mengadakan pertemuan-pertemuan di rumahnya. Selain itu, satu ciri yang khas adalah mereka antirokok.

Sebenarnya bukan hanya anti kepada rokok saja, tapi ketidaksukaan mereka bahkan ditunjukkan dengan cara mengata-ngatai warga yang merokok. Warga dikatai hanya karena mereka berbeda. Warga ada yang merokok, dan mereka tidak. Dan perilaku ini yang kemudian menjadi salah satu ciri paling diingat warga dari para terduga teroris tersebut.

Cerita ini sebenarnya tidaklah begitu mengejutkan. Mengingat paham keras yang biasanya dimiliki kelompok teroris, wajar saja kalau mereka juga mengharamkan rokok. Toh, melakukan kekerasan demi ajaran yang mereka pahami saja dilakukan. Tapi begitulah kiranya ketakutan yang saya dapatkan, apakah kebiasaan anti-antian terhadap sesuatu bisa menjadi batu pijakan untuk menjadi radikalis?

Baca Juga:  Kisah Kim Jong-Un, Diktator Kontroversial Yang Akrab Dengan Rokok

Perlu dipahami bahwa kebiasaan anti-antian ini tentu saja tidak selalu ditujukan hanya kepada rokok. Kepada bank, ada yang anti. Kepada orang berbeda agama, ada yang anti. Bahkan pada orang seagama berbeda aliran, ada saja yang anti. Inilah yang menjadi dasar dari ketakutan tadi.

Tentu saja tidak semua orang yang anti-antian pasti menjadi radikalis. Tapi, kebiasaan menjadi anti-antian bisa jadi memengaruhi hal tadi. Misal saja ketika orang sudah terbiasa dengan pemahaman untuk anti dan tidak suka pada hal berbeda, kemungkinan orang menjadi radikal menjadi ada. Apalagi, biasanya orang-orang menjadi radikal karena tidak bisa menerima pemahaman lain.

Pada tahap selanjutnya, orang tersebut bahkan bisa menjadi ekstremis ketika sikap anti-antiannya pada kelompok berbeda sudah membuat mereka melakukan kekerasan pada orang lain. Hal inilah yang kemudian harus kita waspadai dari sikap anti terhadap sesuatu hal yang berbeda.

Mungkin saja pada kasus terduga teroris di Depok, mereka baru melakukan kekerasan verbal kepada masyarakat. Namun tidak menutup kemungkinan mereka bisa saja melakukan kekerasan fisik ketika semakin benci pada aktivitas merokok warga. Entah ketika melihat orang merokok, bisa saja orang tersebut menoyor atau bahkan memukul.

Baca Juga:  Menikmati Hidup, Musik, dan Kretek Seperti Danilla Riyadi

Melihat persoalan ini, ada satu hal yang kemudian perlu kita waspadai, yakni persoalan menjadi seseorang yang anti terhadap sesuatu. Dengan anti terhadap sesuatu, dan kebiasaan tersebut terus berlanjut, maka bisa jadi orang tersebut menjadi radikalis dan ekstremis yang membahayakan orang lain. Dan ternyata, sikap anti-antian begitu dekat dengan radikalisme.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd