Opini

Benarkah Orang Lebih Memilih Rokok Ketimbang Rumah?

Saya sudah terbiasa menghadapi kegilaan banyak orang hanya karena rokok. Dibilang rokok mengandung darah babi lah, padahal ya MUI bilang tidak. Dibilang rokok bikin mati muda lah, padahal banyak orang lanjut usia tetap sehat dan merokok. Dan yang paling menyedihkan adalah, ketika orang bilang rokok itu memiskinkan.

Ini adalah fitnah yang kejam. Buat kami para orang yang dianggap miskin oleh negara, rokok adalah penyemangat kami saat bekerja. Di saat semua harga semakin mahal, rokok adalah alternatif hiburan kami yang tidak punya uang. Mau nonton bioskop, setidaknya harus keluar uang Rp35 ribu. Untuk ngopi-ngopi cantik di coffee shop, setidaknya harus keluar Rp50rb.

Karenanya ketika rokok dianggap memiskinkan, tentu saja saya marah. Kalau negara gagal menyejahterakan rakyatnya jangan kambinghitamkan rokok dong. Saya sih nggak mau menyalahkan Jokowi tentang apa-apa harga mahal. Tapi, kalau rezim malah menyalahkan rokok, ini jadi sebuah upaya melarikan diri dari tanggung jawab bos.

Sudah gitu, beberapa waktu lalu pembantunya presiden (Kepala Bappenas) malah bikin pernyataan yang bikin kami para sahabat kontrakan emosi. Dia bilang: bayangkan orang lebih care rokok daripada punya rumah, jadi kamu lebih senang kena hujan daripada nggak rokok. Ini sebuah pernyataan yang menghina hati kami segenap orang-orang yang belum punya rumah.

Baca Juga:  Industri Kretek Bukan Sebatas Pabrik Rokok

Perlu Anda ketahui, yang terhormat Bapak Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, satu-satunya alasan kenapa kami belum sanggup memiliki rumah adalah karena harganya yang mahal. Bayangkan, untuk mendapatkan sebuah rumah yang layak huni setidaknya kami harus mengeluarkan uang Rp200 juta. Darimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu???

Okelah ada rumah subsidi yang harganya di kisaran Rp120 juta. Namun, apakah kalian tahu bagaimana busuknya rumah subsidi? Ya namanya juga rumah subsidi, pasti ada saja kualitas yang dikurangi untuk menekan harga. Sudah begitu, luas tanah dan bangunan juga tidak seberapa. Baiklah, jangan anggap soal kelayakan. Yang penting ada rumah dengan harga segitu dulu.

Tapi tetap saja, harga segitu masih tidak terjangkau buat orang dengan penghasilan ya, pas-pasan saja belum. Berikut saya berikan contohnya:

Di daerah Rajeg, Kabupaten Tangerang sonoan lagi, harga rumah subsidi Rp120 juta masih tersedia. Jika mengikuti aturan Bank Indonesia soal DP rumah, maka untuk mendapatkannya kita harus membayar sekira Rp40 juta di muka. Sisanya, ya cicilan KPR. Sekitar Rp1 juta selama 15 tahun.

Untuk mendapatkan uang DP, kami harus menabung sekitar 3 tahun. Ya tiga tahun tanpa nongkrong dan lain-lain. Belum lagi gaji yang masih ada di standar upah minimum, atau malah di bawah. Coba deh kalian ke pabrik-pabrik di Tangerang dan tanya para buruhnya, masih ada loh yang dikasih gaji di bawah UMR.

Baca Juga:  Tari Sintren dan Rokok Sajen di Dalamnya

Buat orang-orang seperti kami, mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah susah. Bensin makin mahal. Harga makanan di warteg juga naik. Mau makan di KFC, paling sebulan sekali baru bisa kesampean. Lah udah begini hematnya aja, uang tabungan buat DP rumah kadang masih terpakai untuk beberapa hal yang di luar dugaan seperti orang tua sakit.

Kalau mau niat, tentu kami bisa membeli rumah. Masalahnya, selain niat yang belum mencukupi, uang kami masih diperas kebutuhan hidup yang masa ampun banyaknya. Dari makan, pakaian, juga pulsa. Belum ditambah nongkrong dan sebagainya.

Satu lagi, buat banyak anak muda seperti saya, satu beban yang tentu lebih kami pikirkan (ketimbang rokok seperti yang Bapenas kira) adalah biaya nikah yang juga mahal. Buat kami, ini lebih memiskinkan ketimbang beras atau bahkan rokok.

Jadi, jika memang negara mau tegas memberantas kemiskinan, tolong lah itu biaya nikah dan harga rumah dibuat murah. Jangan sampai, kita mau beli rumah nggak kesampean, mau nikah nggak cukup modal, eh pas merokok dibilang nggak peduli sama masa depan. Taek kucing, Pak.

You might also like