Tak Mau Berpikiran Buruk, Djarot Lebih Memilih Merokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sore itu, raut muka Djarot nampak tak seperti biasanya. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu lebih banyak diam. Maklum, Ia baru saja mengalami kekalahan keduanya di Pilkada. Tahun lalu, saat mendampingi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Djarot juga kalah oleh pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di putaran Pilgub DKI.

Pada kali kedua, pria bernama lengkap Djarot Saiful Hidayat ini berpasangan dengan Sihar Sitorus dalam kontestasi elektoral memperebutkan kursi Gubernur Sumatera Utara. Hingga Rabu (27/6) sore, hasil hitungan quick count berbagai lembaga survey menempatkan mereka di bawah pasangan Edi Rahmayadi dan Musa Rajekshah. Djarot kembali kalah. Telak!

Menyikapi hasil tersebut Djarot memilih berada di kediamannya, Jalan Kartini Kota Medan. Berdasarkan pantauan beberapa wartawan, usai melaksanakan salat Ashar berjamaah, Djarot pindah ke ruang makan bersama beberapa kerabat. Di sela-sela jarinya terdapat sebatang rokok menyala yang Ia hisap secara berkala. Di hadapannya, di atas meja, terdapat dua bungkus rokok lengkap dengan asbak dan korek api.

Baca Juga:  Hikayat Menanam Cengkeh di Bali

Nampak beliau berupaya menenangkan diri. Ya, di saat kenyataan hidup mengecewakanmu, rokok teman paling setia. Begitu kata Om Tony Q Rastafara, reggae boys ternama. Sensasi rileks dari tembakau linting, sejak dulu kala, memang dipercaya mampu menghadirkan ketenangan. Djarot tak nampak gusar. Ia tenang. Tak ada Ahok, rokok pun jadi. Kira-kira begitu.

Apa yang Djarot tunjukkan sebenarnya sekaligus membantah tuduhan pada rokok yang dianggap menyebabkan segala jenis keburukan. Kita bisa lihat, Djarot cukup legowo menerima kekalahan. Bahkan kekalahan kedua.

Djarot tak berupaya playing victim dengan narasi kecurangan-kecurangan yang dilakukan lawannya. Djarot tidak mengklaim kemenangan saat mayoritas lembaga survey menyatakan Ia kalah. Djarot tak banyak biacara. Ia memilih diam dan merokok. Begitu positif dampak rokok bagi suasana hati Djarot. Berlebihan? Nggak juga, ah.

“Saya ini kalau stres, bawaannya memang mau terus merokok,” ujar Djarot sembari bakar rokok sebelum salat. Hampir tak ada lagi yang beliau sampaikan ke media. Sebagai perokok, saya sepakat sama Pak Djarot. Merokok memang solusi stres. Setidaknya, kita bisa terhindar dari pikiran buruk. Fokus saja ngudud dengan khusyuk.

Baca Juga:  Menjajaki Logika Koplak Antirokok

Sebenarnya saya juga mau sekalian saran buat peserta yang kalah Pilkada di daerah lain: mending merokok dari pada merong-rong.

Buat Sudirman Said yang kalah di Pilgub Jateng, daripada nyari-nyari alasan kekalahan, apalagi nyalah-nyalahin tim lawan, mending tenangin diri. Buat Sudrajat yang kalah di Pilgub Jabar, coba merokok, deh. Siapa tahu, kelar sebatang dua batang, sampeyan jadi legowo, lalu dengan sikap ksatria berani menyampaikan ucapan selamat pada Kang Emil.

Sebentar. Saya cuma saran pada mereka yang memang perokok. Buat yang bukan perokok, yaa, coba ngobrol-ngobrol saja sama perokok. Niscaya kau dapat pelajaran berharga tentang menyikapi kekalahan dan kekecewaan. Percayalah.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd