Tembakau Penyelamat Muka dan Polusi Kendaraan di Jakarta

  • 50
  •  
  •  
  •  
  •  
    50
    Shares

Sembilan tahun silam, seorang teman di pekerjaan valuasi ekonomi mengatakan kalau gas yang berasal dari emisi kendaraan sangat berpengaruh terhadap emosi manusia. Itu di luar ribuan unsur yang jauh lebih membahayakan daripada rokok.

Katanya, haemoglobin yang bersenyawa dengan karbon yang kita hirup menjadi jauh berkurang kemampuannya, lemot, saat mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya bagi manusia jelas, suplai oksigen sangat kurang dan manusia menjadi gampang meledak emosinya. Tanggal pula nalarnya.

Bukan karena udara atau cuaca panas, tetapi karena kita menghirup racun yang melimpah. Ini baru ngomongin pengaruh karbon, belum ngomongin ratusan atau bahkan ribuan unsur membahayakan kesehatan yang berasal dari emisi kendaraan.

Beberapa hari ini beredar informasi kalau Jakarta merupakan salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Tidak perlu dibantah, saya yakin dengan survey tersebut. Sudah belasan tahun hidup di Jakarta, daya dukung lingkungan pun semakin memburuk.

Kata seorang teman di Kudus, orang Jakarta itu mesakke. Hidupnya kasihan betul. Sudah tiap hari menghadapi macet, stress pekerjaan, polusi, tiap hari mengeluhkan gubernurnya. Dulu mengeluhkan Foke, berikutnya mengeluhkan Jokowi, lanjut Ahok, eh sekarang giliran Anies.

Baca Juga:  Ade Rai dan Gagal Paham Soal Produk Konsumsi

Dalam batas tertentu, saya tidak akan menyangkal cara menduga tersebut.

Apakah karena orang Jakarta terpapar beragam unsur berbahaya dari emisi gas buang seperti CO? Pm10? Entahlah. Buktinya saya tidak banyak ngomel, malah cenderung cekikikan kalau melihat status benci Ahok di masa lalu, dan Anies saat ini. Dari pagi ke pagi lagi tanpa henti, hehehe…

Tapi begini, ada berita lain lagi kalo BPJS terus diupayakan mendapatkan suntikan sekian triliun dari duiit cukai rokok. Ini jelas membuat kening kita berkerut. BPJS memang defisit, itu risiko untuk negara yang mencoba menggunakan pendekatan kesejahteraan.

Tapi dimana dari waktu ke waktu industri tembakau digasak dan dipersempit dengan beragam aturan yang dapat membunuh dari petani hingga pengusahanya. Kira-kira nalar apa yang tengah dikembangkan saat tanpa malu memanfaatkan duit cukai untuk menambal defisit tersebut?

“Heh… BPJS yang gak mau nanggung biaya orang yang sakit karena disebabkan rokok mau ngglogok duwit dari cukai rokok?”

“He eh!”

Saya suka dengan kota ini, jatuh cinta dengan kota ini, dan sudah pasti sangat kerasan. Tapi memang selalu menguatirkan kesehatan mental para pengambil keputusannya. Bukan yang di provinsi saja, tetapi juga di pusatnya.

Baca Juga:  Santai Saja, Rokok Itu Tidak Haram

Polusi di kota ini beratus kali lipat lebih berbahaya dari asap tembakau. Tetapi industri tembakau yang terus dicekik selama beberapa tahun ini hingga modar, diam-diam menyelamatkan muka pemerintah.

Haryo Setyo Wibowo

Konsultan Ekonomi Partikelir