Bambang Hartono Atlet Tertua di Asian Games 2018, Mempopulerkan Olahraga yang Bikin Tidak Cepat Pikun

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bukan hanya prestasi para atlet muda dari berbagai cabang olahraga populer di Asian Games yang mendulang perhatian. Ada sosok kontroversi yang belakangan juga turut menyita mata publik serta komentar banyak netizen. Adalah Bambang Hartono. Yang lebih dikenal publik sebagai orang terkaya di dunia urutan ke 75 versi majalah Forbes.

Dari cabang Atletik kita sempat dibuat cengang oleh prestasi Lalu Zohri, dari cabang Taekwondo kita dibuat bangga oleh prestasi Defia Rosminar, pula Jonatan Christie dan Anthony Ginting melalui cabang Badminton.

Bagaimana dengan cabang olahraga Bridge? Yang kalau di masyarakat umum kita lebih populer dengan istilah main kartu remi. Nah, Bambang Hartono ini mempopulerkan satu cabang olahraga yang jarang diketahui publik kita. Cabang olahraga yang di masyarakat kita lebih sering diasosiasikan sebagai main judi.

Beberapa waktu lalu netizen lebih sering menyinyiri Bambang Hartono lantaran statusnya sebagai bos PT Djarum, menyinyiri kekayaannya yang didapat dari berbagai bisnis yang dikelolanya. Satu lagi tafsir mereka yang belum mau mengakui aktivitas bermain kartu remi sebagai olahraga. Sudah barang tentu bagi antirokok ini menjadi gorengan tersendiri. Apalagi kalau bukan ujung-ujungnya menggiring opini publik untuk membenci industri rokok.

Baca Juga:  Cukai Rokok, FCTC, dan Pengaruhnya Bagi Dunia Film

Mereka yang nyinyiran itu tidak pernah mau ambil peduli, bahwa ada perjuangan yang tidak sepele yang dilakukan Bambang Hartono terkait cabang olahraga Bridge agar dapat masuk Asian Games 2018 ini. Pun andil PT Djarum dalam mencetak atlet-atlet berprestasi dari cabang Badminton.

Bambang Hartono yang sudah berusia sepuh, yang sudah menginjak usia 79 tahun ini jelas membuktikan satu hal penting pada kita, bahwa usia tua bukanlah batasan dalam meraih prestasi dalam olahraga. Ia dan Timnas Bridge Indonesia pernah mengalahkan juara dua dunia dari Prancis pada turnamen Atlanta Summer North America Bridge di Amerika Serikat.

Sejak tahun 2008, beliau tercatat sudah mengantongi berbagai medali seperti, Kejuaraan Dunia Senior Bridge (perunggu), Tahun 2009 Kejuaraan Dunia Senior Bridge (perunggu) dan Zona Asia Senior (emas). Tahun 2011 juara pertama Zona Asia Senior (emas), Tahun 2015 mengikuti APBF Championship (emas) dan terakhir, Tahun 2017 mendapatkan perak untuk Zona Asia Senior.

Melalui tulisan ini kita tak perlu jauh-jauh meninjau prestasi maupun kekayaannya. Justru ada satu hal penting yang mungkin luput dari perhatian publik. Bahwa ada motivasi mendasar yang membuat atlet tertua pada Asian Games 2018 itu menggemari olahraga Bridge. Ketika ditanya apa yang membuatnya masih menggeluti Bridge sebagai atlet profesional, Bambang menjawab: “Supaya tidak cepat pikun.”

Baca Juga:  Ketika Muhammadiyah Menyerukan Perang Kepada Rokok

Kiranya kita bisa memetik satu hikmah, yang tak ada salahnya pula jika antirokok dapat meneladaninya, terutama dalam rangka mengentaskan persoalan yang ditengarai mewabah di masyarakat kita, yakni penyakit pikun. Jikalau penyakit itu mewabah di kalangan orang muda, iya apa salahnya juga wahai orang muda untuk belajar dari cara Bambang Hartono dalam menyiasati penyakit pikun itu. Yuk, main kartu kita.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah