Melihat Peranan Orang Tua dalam Fenomena Balita Merokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Balita yang merokok adalah fenomena. Karena fenomena, ia tidak dapat digeneralisir. Meski kemudian, kita tidak boleh memalingkan muka bahwa fenomena ini adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan.

Kisah-kisah perokok balita selalu dimulai dengan orang tua yang tidak bisa mengurus anaknya. Alasan-alasan seperti anaknya mengamuk jika tidak diberi tetaplah alasan. Bagaimanapun, orang tua harus bisa lebih berkuasa kepada anak, dan memilih untuk tegas ketimbang kalah pada rengekan anak.

Pada kasus yang terjadi di Sukabumi, si balita diperkirakan mengenal rokok dari kebiasaan di sekitar dan puntung rokok yang berserakan. Kemudian, sang anak dengan berani meminta rokok pada orangtuanya. Jika tidak diberi, anaknya mengamuk. Takut akan hal itu, anaknya kemudian diberi rokok. Beritanya sih, sampai 2 bungkus sehari.

Dari kasus tadi kita dapat melihat betapa lemahnya peranan orang tua sang balita dalam menghindarkan rokok dari anaknya. Mereka tidak mampu mengendalikan anaknya untuk berhenti melakukan aktivitas yang tidak boleh dilakukan orang seusianya. Apalagi kemudian mereka malah mengakomodir keinginan sang anak dengan memberi rokok berapapun jumlahnya.

Baca Juga:  Wafatnya Dalang Kondang Tak Luput dari Anasir Kampanye Antirokok

Bahwa memang ada kesalahan dari orang-orang di sekitar sang balita, tapi hal yang paling berperan dalam fenomena ini jelas ketidaktegasan orangtuanya. Seandainya sedari awal mereka tegas menolak rengekan anaknya, walau kemudian harus mengamuk, harusnya mereka bisa mengendalikan anaknya. Setidaknya, mereka harus bisa menunjukkan kuasa orang tua pada anaknya.

Hampir di semua kasus balita merokok, peranan orang tua sangat mempengaruhi bagaimana hal tersebut terjadi. Pun dengan kasus yang terjadi di Nunukan, amukan anak membuat orang tua menjadi lemah dan malah membiarkan anaknya merokok. Padahal, harusnya mereka dapat bertindak dan menunjukkan pada anaknya bahwa ketegasan orang tua tidak bisa diganggugugat.

Tapi tentu saja, kita tidak bisa menyalahkan orang tua terus menerus. Peran lingkungan dan masyarakat dalam hal ini juga penting. Seandainya tetangga si balita bisa memberi saran agar orangtuanya berani bertindak tegas, bisa jadi hal seperti ini tidak akan berlarut-larut terjadi. Atau seandainya orang-orang di lingkungan sekitar sang balita berani memarahi si anak ketika sedang merokok, mungkin sang anak bisa belajar bahwa merokok di usia segitu bukanlah hal yang tepat.

Baca Juga:  Sandiaga Uno dan Janji-janji Mulianya Tentang Tembakau

Peran para perokok untuk menghindari permasalahan seperti ini pun sangat penting. Bagaimana mereka tidak merokok ketika bersama anak-anak, juga ketika mereka tidak membuang puntung rokok sembarangan. Semua hal yang membuat anak-anak mengenal rokok sejak dini bisa dihindari.

Sebenarnya sih, jika mau berlaku yang benar, anak-anak itu harusnya diberikan edukasi sejak dini terkait rokok. Beri mereka alasan-alasan jelas mengapa anak-anak belum boleh merokok. Beri mereka pemahaman dengan benar agar mereka bisa mengerti bahwa mereka belum boleh merokok. Tapi, sayangnya, hal seperti ini adalah musuh bagi mereka yang suka menjadikan kasus-kasus semacam ini sebagai dagangan.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit