Randy Martin, Duta Anti Rokok yang Tak Paham Dengan Ucapannya Sendiri

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Remaja milenial sekaligus selebritis muda, Randy Martin, dipilih oleh Kementerian Kesehatan dan Yayasan Plan International Indonesia sebagai duta anti rokok. Saat ditunjuk menjadi duta, Randy mengaku kaget. Tapi, Ia akhirnya menerima dengan alasan tergerak untuk mengajak anak muda menjalani gaya hidup yang lebih baik. Pertanyaannya, apakah menjadi perokok secara otomatis membuat seseorang menjalani gaya hidup tidak baik?

Begini, merokok atau tidak adalah pilihan bebas tiap individu. Jadi, siapapun berhak merokok. Begitu pun sebaliknya, siapapun berhak untuk tidak merokok. Ada beberapa alasan; pertama, rokok adalah barang legal. Dari tiap batang rokok yang dikonsumsi turut berkontribusi bagi pemasukan negara. Kedua, isu kesehatan yang kerap dikaitkan dengan rokok adalah ‘mainan’ anti rokok yang terus direpetisi tanpa pembuktian valid dan kredibel. Ketiga, sudah ada beberapa penelitian juga yang menjelaskan tentang khasiat dari tembakau, bahan baku rokok.

Yang miris dari fenomena ini adalah Randy memaknai penunjukan dirinya menjadi duta anti rokok sebagai bukti keberhasilannya menerapkan pola hidup sehat.

Baca Juga:  Perang Nikotin Di Balik Isu Kesehatan

 “Ini tuh bagus buat diri aku dan memberi contoh untuk anak muda lainnya, bagaimana menyenangkannya menjalani hidup dengan sehat,” ucap Randy Martin dalam jumpa pers di Plaza Kuningan.

Mungkin dia tak kenal dengan artis cantik yang kerap melakukan kampanye pola hidup sehat, Dian Sastro, seniornya. Dian Sastro merupakan seorang perokok. Jadi, mempertentangkan aktivitas merokok dengan kesehatan bagai merekatkan magnet pada kutub yang sama. Konyol!

Randy Martin, sang duta anti rokok yang sehat bugar itu juga menghimbau pemerintah untuk mengurangi iklan rokok.

“Sebaiknya iklan rokok dikurangi, terutama bagi pemerintah karena dampaknya besar sekali,” kata Randy.

Randy benar, dampak iklan rokok memang besar. Tak hanya iklannya, rokoknya juga punya dampak besar bagi negara. Plt. Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Direktorat Jendral Bea Cukai, Nugroho Wahyu Widodo, mengakui bahwa dari sebungkus rokok seharga Rp 20.000, negara mendapat keuntungan sekitar Rp 13.000. Itulah besarnya sumbangsih rokok bagi negara. Tapi, rasanya bukan itu dampak yang dimaksud oleh Randy. Entah apa. Mungkin Ia juga tak paham dengan ucapannya.

Baca Juga:  Kemunculan Produk Alternatif Tembakau Adalah Bukti Perang Nikotin Terjadi

Terakhir, Randy Martin juga mengatakan bahwa generasi penerus bangsa tak perlu merokok.

“Generasi muda adalah penerus bangsa, jadi it’s cool to not smoke,” katanya.

Dik Randy ini perlu tahu bahwa banyak di antara para founding father bangsa ini yang merupakan seorang perokok. Mungkin Dik Randy belum pernah melihat foto populer saat presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, merokok bersama Nikita Kruschev pada musim dingin di Rusia. Perokok tak bisa jadi penerus bangsa? Coba jelaskan, Dik. Jelaskan!!!

Hmm, saya sedikit ragu dengan kapasitas Randy Martin baik secara mentalitas dan wawasan tentang dunia pertembakauan, khususnya rokok. Randy perlu tahu bahwa status anti rokok sangat sarat kepentingan. Mungkin tujuan Randy baik, ingin berbagi pengalamannya hidup di lingkungan perokok. tapi, bisa jadi ada pihak yang diuntungkan dari kerja-kerja Randy sebagai duta anti rokok yang Ia jalani dengan niat tulus.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd