Kanker Paru Juga Mengancam Mereka Yang Tidak Merokok

Kanker Paru Juga Mengancam Mereka Yang Tidak Merokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho tengah berjuang melawan penyakit yang dideritanya, yaitu kanker paru. Ya, Sutopo divonis mengidap kanker paru stadium 4B. Sutopo menyatakan dirinya masih sakit dan sedang dalam tahap pemulihan.

“Fisik rasanya makin lemah. Nyeri punggung dan dada kiri menyakitkan. Rasa mual, ingin muntah, sesak napas dan lainnya, saya rasakan. Bahkan tulang belakang saya sudah bengkok karena tulang terdorong massa kanker, makanya jalan saya miring,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari tempo.co.

Sutopo mengaku syok setelah divonis mengidap kanker paru. Pasalnya, beliau merasa selama ini tidak pernah merokok dan selalu menjalankan pola hidup sehat.

“Awalnya syok karena saya tidak merokok, genetik tidak ada, dan makan sehat,” katanya.

Ini yang perlu kita kaji ulang: tidak merokok bukan berarti aman dari ancaman kanker paru, pun begitu sebaliknya, perokok belum tentu mengidap kanker paru.

Selama ini masyarakat sudah terbiasa dengan anggapan bahwa kanker paru-paru disebabkan oleh merokok. Anggapan ini sudah turun temurun dipropagandakan agen-agen antirokok kepada masyarakat hingga menjadi sebuah dogma. Sayangnya, semakin banyak penelitian dan ahli kesehatan sendiri yang membantah anggapan tersebut.

Baca Juga:  Menalar Citra Bali Ketika Aturan Terhadap Rokok Semakin Ketat

Dr. Su Jang Wen, misalnya. Dia adalah ahli bedah Toraks dan Kardiovaskular dari Gleneagles Hospital Singapura. Menurutnya, anggapan “Saya tidak merokok jadi tidak punya kanker paru-paru” adalah pernyataan yang salah. Saat ini, sudah banyak ditemukan kasus orang yang tidak merokok tapi tetap terkena kanker (khususnya kanker paru).

Dalam sebuah pertemuan di Plaza Bapindo, dr Su menjelaskan, penyebab seseorang terkena penyakit kanker paru-paru bisa banyak hal. Bisa karena riwayat keluarga juga bahan kimia yang terkandung dalam udara. Hal terakhir banyak ditemukan pada kota-kota besar dengan angka polusi udara yang tinggi.

Tapi, apa masyarakat bisa menerima hal ini begitu saja, mengingat apa yang dipropagandakan agen antirokok kalau penyebab kanker paru-paru adalah rokok sudah seperti dogma? Begitu juga para agen antirokok yang bakal sekuat tenaga menutupi hal-hal seperti ini, meski banyak dari mereka adalah dokter dan ahli kesehatan. Kalau ditemukan korban pengidap kanker paru yang bukan perokok, para antirokok sudah pasti akan menuduh asap rokok orang lain adalah penyebabnya. Korban akan disebut sebagai perokok pasif. Intinya, rokok harus selalu salah. Kira-kira begitu.

Baca Juga:  Larangan Display Rokok di Warung Klontong Adalah Regulasi yang Berlebihan

Sayang memang, ketika para agen antirokok yang dengan lantang menyalahkan rokok sebagai penyebab penyakit tapi mereka tidak mau mengungkapkan hal-hal seperti diatas. Mereka yang berjuang atas nama kesehatan pun lebih memilih menghabisi rokok ketimbang bersama-sama menyelesaikan masalah polusi udara. Oh ya, kebanyakan dari mereka juga naik mobil sih, penyumbang utama polusi udara.

Seandainya agen-agen antirokok itu mau jujur dan adil dalam memerangi segala bentuk perusak kesehatan, beranikah mereka menentang penggunaan bahan bakar fosil yang digunakan kendaraan mereka? Atau setidaknya, mereka berani melawan segala bentuk barang yang membahayakan kesehatan masyarakat? Ah, fakta bahwa orang yang tidak merokok bisa kena kanker saja mereka tidak berani ungkapkan, apalagi hal-hal seperti itu.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd