Perokok Dinista, Perokok Penyelamat Bangsa

Kenapa Iklan Layanan Masyarakat Soal Berhenti Merokok Tidak Efektif?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pernah melihat papan iklan tentang bahaya merokok di jalan raya? Atau iklan di kaca bus Transjakarta tentang ajakan agar orang-orang berhenti merokok? Saya kira, jika Anda hidup di Jakarta, iklan-iklan macam itu adalah makanan sehari-hari ketika berada di jalanan. Apalagi jika Anda kerap beraktivitas di kawasan Rasuna Said, tempat Kantor Kementerian Kesehatan berada.

Iklan-iklan semacam ini dibuat dan diduplikasi dengan satu tujuan, untuk menghindarkan masyarakat dari aktivitas merokok dan membuat orang-orang yang merokok kemudian berhenti. Konten dari iklannya, tentu saja mengerikan. Misal seperti rokok memiliki ratusan zat kimia berbahaya atau matikan rokok sebelum rokok mematikanmu. Iklan-iklan itu juga dilengkapi gambar tengkorak yang terbuat dari asap, sehingga kesan mengerikannya semakin mengena.

Persoalannya, seberapa signifikan keberadaan iklan layanan masyarakat semacam itu dalam kehidupan masyarakat? Apakah benar, para perokok memutuskan berhenti setelah setiap hari mengonsumsi iklan seperti tadi? Sepertinya tidak juga.

Ada beberapa alasan kenapa iklan layanan masyarakat seperti itu tidak berguna. Pertama, iklan yang selama ini ada terkesan terlalu mengerikan. Memang segala iklan yang dibuat tentang rokok ini memiliki makna menakutkan dan mematikan, yang seakan dikaitkan dengan ‘bahaya’ rokok itu sendiri. Seakan, karena rokok itu dianggap mematikan, iklan yang dibuat juga harus mematikan.

Baca Juga:  Siapa Bilang Tokoh Agama Tidak Merokok?

Padahal, iklan-iklan mengerikan semacam ini justru membuat orang-orang antipati terhadap kontennya. Karena sudah menakutkan sejak awal, para perokok lebih memilih acuh pada iklan-iklan tersebut. Toh, gambar seram yang ada di bungkus rokok juga tidak mereka pedulikan.

Kemudian, iklan layanan masyarakat itu dibuat dalam konteks memaksa orang untuk berhenti merokok. Tentu saja ini adalah hal yang mengesalkan buat orang-orang yang merokok. Buat iklan kok pengennya maksa orang berhenti merokok, padahal ya ‘ora urus sama kehidupanmu’. Begitu lah kira-kira.

Coba bayangkan, Anda sebagai seorang konsumen telah membeli satu produk dengan uang sendiri, kemudian dijelek-jelekan oleh iklan macam itu. Apalagi, jika kemudian kita dipaksa untuk berhenti mengonsumsi itu. Padahal ya uang yang kita bayarkan itu kemudian dinikmati juga untuk pembangunan.

Dan yang terakhir, dan yang paling penting, iklan layanan masyarakat yang ada tidak pernah dimaksudkan untuk memberi edukasi pada perokok. Seharusnya, iklan yang ada diberikan untuk melakukan edukasi agar para perokok bisa lebih bertanggungjawab. Dengan menyentuh perasaan para perokok, saya kira itu bakal lebih membuat mereka berlaku santun dalam urusan merokok ini.

Baca Juga:  Apa Masih Mau Menaikkan Tarif Cukai Rokok?

Cobalah buat iklan, jangan merokok saat berkendara, jangan merokok di angkutan umum, jangan merokok di dekat anak kecil dan ibu hamil, atau beragam seruan lain yang dapat dijadikan iklan layanan masyarakat. Pastinya, para perokok bakal lebih mendengarkan dan mengikuti hal-hal berbau edukatif semacam ini ketimbang seruan menakut-nakuti perokok. Ya kalau mau bikin iklan seram terus sih tidak apa juga. Toh kita sama-sama tahu siapa yang otaknya lebih bebal dalam urusan rokok ini.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit