Prevalensi Perokok Anak dan Larangan Display Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Antirokok melalui isu kesehatannya kerap kali mengait-ngaitkan keberadaan iklan rokok dan etalase rokok sebagai faktor utama meningkatnya angka perokok pemula. Masyarakat dipaksa percaya akan adanya kebenaran bahwa iklan rokoklah penyebab tunggal atas munculnya beberapa kasus terkait anak di bawah umur yang merokok.

Logika andalan yang dipandang ampuh itu tujuannya jelas untuk menutup display rokok di semua ritel yang ada. Dari cara berpikir semacam itu antirokok sebetulnya telah mempolitisasi keberadaan anak-anak. Padahal untuk perkara tersebut bisa diatasi dengan memberi edukasi yang bijak kepada anak. Toh dengan menerapkan larangan menjual rokok kepada anak di ritel-ritel rokok itu sudah cukup. Iya dong, janganlah anak diajari kebencian, justru kenalkan pandangan bijak kita terkait produk konsumsi orang dewasa tersebut.

Iya memang rokok sebagai produk konsumsi yang memiliki faktor risiko perlu dibatasi, jangan sampai itu dikonsumsi oleh anak-anak yang belum cukup umur. Namun tentu letak kesalahannya bukan ada pada etalase penjual rokok, yang kemudian Kemenkes dan para pihak (baca: antirokok) lantas mengambil langkah yang sekan-akan serius dalam upaya menerapkan Perda KTR. Sehingga penampakan rokok sebagai barang legal jadi terkesan ilegal dalam proses jual-belinya.

Baca Juga:  Bisnis Rokok Elektrik Kini Mulai Memanfaatkan Peran Pejabat Daerah

Kita ambil contoh yang paling sederhana saja, di luar rokok juga ada produk legal lain yang belum pantas diakses oleh anak-anak, produk tersebut malah sama sekali tidak disinggung ataupula dibatasi. Sebut saja produk alat kontrasepsi yang dipajang persis di dekat meja kasir. Selain itu ada pula jenis lem kaleng yang berpotensi dipakai untuk mabuk, obat batuk cair yang juga tak jarang disalahgunakan serupa. Kenapa hanya rokok yang didiskriminasi. Kok ya jadi malah spesial gitu rokok diperlakukan.

Kalau soal prevalensi usia yang mengacu pada riset kesehatan dasar dan Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) yang menunjukan persentase perokok remaja Indonesia mengalami peningkatan pada 2016. Itu satu hal yang perlu ditelisik lagi, di antaranya terkait alasan psikis apa yang bikin mereka merokok. Jangan-jangan justru karena mereka ditekan dengan peringatan yang kelewat keras, sehingga muncul jiwa rebel mereka.

Jangan sampai karena ketidakmampuan orang tua maupun guru di sekolah dalam mengedukasi, lantas menyalahkan rokok sepenuhnya. Pernah tidak itu diteliti, bahwa ada peningkatan gejolak kejiwaan yang disebabkan perilaku orang dewasa dan lingkungan dalam menyikapi fase transisi usia mereka, salah satu di antaranya dengan mengecilkan mereka. Meremehkan kemampuan mereka yang sebetulnya ingin mendapatkan perlakuan setara. Pernahkah itu diteliti?

Baca Juga:  Potret Perempuan-Perempuan Tangguh Pembuat Rokok

Jika sampel riset itu besar didapat dari wilayah yang rata-rata masyarakat dewasanya kerap memperlakukan remaja seperti itu, iya sangat besar kemungkinan tinggi angka porsentase mereka yang ingin tampak rebel itu. Coba saja tengarai gejala di kalangan remaja (perempuan khususnya) kekinian yang secara tampilan mulai mengenakan busana maupun dandanan ala ala wanita dewasa. Yap. Itu satu contoh lain memang untuk menilik hasrat mereka untuk diapresiasi dan bersetara, sebagai satu isyarat kecil atas penolakan mereka terhadap iklim diskriminasi.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah