Sewindu Komunitas Kretek dan Tugas Kebudayaan yang Berestafet

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tahun ini, usia Komunitas Kretek genap sewindu. Sepanjang 8 tahun lembaga ini berjalan, telah banyak agenda yang dilakukan terkait advokasi hak dan edukasi terhadap konsumen. Semua dilakukan demi harapan: konsumen kretek tidak lagi didiskriminasi dan kretek dilepaskan dari beragam stigma negatif.

Stigma negatif dan segala bentuk diskriminasi pada perokok memang menjadi satu dasar yang membuat Komunitas Kretek berdiri. 8 tahun yang lalu, ketika para ‘bapak komunitas’ menggagas komunitas ini, muncul sejumput ide membentuk satu perkumpulan yang bisa melakukan advokasi pada diri sendiri (baca: perokok). Hal yang saat itu (mungkin hingga saat ini) belum ada dan tersedia.

Karena semakin hari diskriminasi terhadap perokok makin terasa, maka gagasan tersebut diwujudkan dalam sebuah deklarasi yang dilakukan di Jember. Satu hal yang menjadi fokus saat itu adalah, bagaimana hak mereka sebagai perokok dapat diperjuangkan. Jangan sampai, karena tidak ada kelompok yang bisa mengadvokasi, hal-hal buruk yang ditimpakan pada perokok melulu dibiarkan.

Untuk itulah, kalau tidak ada yang mau mengadvokasi kita, mari kita bangun perkumpulan itu.  Maka setelah deklarasi di Jember itu, Komunitas Kretek berdiri dengan markas besar yang berada di Yogyakarta. Ketika itu, dipilihlah tanggal 3 Oktober sebagai hari lahir Komunitas Kretek yang sengaja dibarengi dengan perayaan Hari Kretek yang berbasis tanggal berdirinya Museum Kretek di Kudus.

Baca Juga:  Bijak Dalam Menaikkan Cukai Rokok

Meski dilandasi oleh keinginan untuk mengadvokasi hak pribadi sebagai perokok, nyatanya aktivitas Komunitas Kretek tidak melulu hanya berbicara soal hak dan advokasi konsumen kretek. Ketika mulai bergulat di isu ini, kami sadar bahwa produk budaya karya Haji Djamhari ini merupakan satu komoditas strategis yang harus dimaksimalkan negara. Nilai ekonomi dan kedekatannya secara kultur dengan masyarakat membuat kami makin yakin bahwa, barang konsumsi ini harus diperjuangkan agar terus bertahan.

Dengan landasan berpikir tersebut, kami melakukan riset-riset termutakhir untuk membuktikan bahwa anggapan buruk yang dituduhkan pada rokok hanyalah upaya global untuk menguasai bisnis nikotin. Dari riset-riset itu, puluhan buku kami publikasi dengan harapan: riset kami dapat membuka wacana alternatif tentang rokok yang selama ini dikuasai kelompok antitembakau.

Selain melakukan riset dan publikasinya, 8 tahun yang kami lalui banyak diisi dengan kegiatan advokasi, baik litigasi maupun non litigasi. Dan yang paling utama tentu saja, kampanye.

Kampanye kreatif adalah hal yang paling sering kami lakukan. Mulai dari kampanye yang mendorong isu tentang hak konsumen, hingga yang belakangan jadi fokus kampanye kami, yakni edukasi pada para konsumen kretek. Setidaknya, hal yang terakhir ini menjadi program utama Komunitas Kretek dalam dua tahun terakhir.

Baca Juga:  Memprotes Pernyataan Diskriminatif IDI Terhadap Perokok

Perdebatan dan perseteruan antara para perokok dan yang tidak merokok saat ini sebenarnya sudah masuk ke tahap yang menyebalkan. Yang tidak merokok, karena termakan stigma dan kebencian, mengganggap segala hal tentang rokok selalu buruk. Pokoknya rokok itu berbahaya dan perokok itu penjahat. Sialnya, hal ini turut didukung oleh perilaku buruk dari perokok itu sendiri.

Hingga hari ini masih ada perokok yang tidak bertanggungjawab atas barang yang dikonsumsinya. Dari membuang puntung rokok sembarangan, merokok di sembarang tempat, termasuk mengganggu kenyamanan orang lain lewat paparan asap rokok yang mereka isap. Hal ini kemudian membuat, kebencian dan ketidaksukaan masyarakat makin besar.

Karena itulah, menurut kami harus dilakukan satu upaya penyadaran agar kebencian itu tidak makin mengakar. Sebuah upaya edukasi bagi para perokok agar dapat mempertanggungjawabkan barang konsumsi yang mereka isap. Sebuah upaya untuk mengajak kretekus tidak lagi mengganggu kenyamanan masyarakat yang tidak merokok.

Seandainya kita bisa membuktikan bahwa perokok tidak seperti anggapan mereka dengan tindakan-tindakan kecil dengan tidak membuang puntung sembarangan dan mengganggu orang lain, semoga saja kita bisa meminimalisir anggapan miring masyarakat pada para perokok.

Baca Juga:  Menolak Tirani Perusahaan

Ke depannya, hal ini menjadi pekerjaan rumah besar buat Komunitas kretek dan para kretekus sekalian. Tentu saja Komunitas Kretek tidak memiliki sumber daya untuk melakukan edukasi kepada seluruh perokok yang ada di Indonesia. Tapi dengan bantuan kalian, semoga tindakan kecil yang kita lakukan ini bisa menjadi hal baik untuk seluruh masyarakat.

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara