Peran Serta Masyarakat Dalam Penyusunan Perda Adalah Kunci Rasa Adil Bagi Semua Pihak

Larangan Display Rokok di Warung Klontong Adalah Regulasi yang Berlebihan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Gerakan dan kampanye anti-rokok semakin brutal. Semakin hari semakin menjadi. Manuver mereka (baca: anti-rokok) kini menembus batas-batas yang selama ini dianggap wajar. Larangan display rokok di berbagai ritel yang tersebar di Kota Bogor dan Kota Depok adalah contoh betapa mereka telah memasuki tahap ‘keterlaluan’ dalam mendiskriminasi rokok dan perokok.

Memajang rokok di etalase adalah hal yang wajar, setidaknya begitu menurut saya. Para kasir di ritel tak pernah menunjuk ke arah display rokok seraya menawarkan rokok pada setiap pembeli ketika hendak membayar. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya hanya pernah mendapat tawaran untuk mengisi pulsa atau tawaran membeli aneka roti di meja kasir.

Saya juga gak akan keras kepala membela jika ada kasir yang kedapatan ngomong “Sekalian rokoknya, Mas,” pada pembeli, terutama anak dan ibu hamil. Lantas, kok masih ada yang melarang display rokok dengan alasan menekan prevalensi anak dan ibu hamil yang merokok?

Kampanye buruk tentang rokok kini tak hanya dilakukan lewat propaganda-propaganda kesehatan, tapi juga lewat berbagai regulasi (terutama Perda), tentunya dengan narasi kesehatan juga. Pemerintah Daerah kini telah bertransformasi jadi stimulan dalam gerakan anti-rokok. Amat disayangkan ketika Pemda mau mengakomodir logika absurd anti-rokok dalam menyusun regulasi.

Baca Juga:  Agar Lebih Dihargai oleh Mereka yang Tidak Merokok

Sikap kami tentang regulasi larangan display rokok di Kota Bogor bisa dilihat di sini. Dari regulasi itu, nampak jelas sikap Pemda (dalam hal ini Pemda Kota Bogor) yang tidak proporsional pada persoalan rokok. Kalau tidak segera disikapi, Kota Bogor bisa saja menjadi role model bagi daerah lain.

Di Kota Depok, larangan display rokok tak hanya berlaku bagi ritel modern. Larangan ini telah menjamur ke tingkat kelurahan. Di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, larangan display rokok telah diberlakukan hingga ke warung-warung klontongan. Regulasi ini dilegitimasi oleh Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Kelurahan. Setiap orang dan/atau badan usaha yang menjual rokok hanya boleh memberi tanda “di sini menjual rokok”.

“Kami buat surat edaran dan diserahkan langsung kepada pemilik usaha agar memperhatikan penjualan rokok terutama bagi anak di bawah umur dan ibu hamil. Karena akan berdampak pada kesehatan dan masa depan mereka,” ijar Plt Lurah Mekarsari, Iqbal Faroid.

Berlebihan, bukan?

Saya semakin takjub setelah mengetahui alasan diberlakukannya larangan tersebut adalah untuk mengantisipasi anak dan ibu hamil yang merokok di wilayah Mekarsari. Sungguh sebuah regulasi yang jelas tidak tepat sasaran. Setidaknya ada dua hal yang, menurut saya, membuat regulasi ini jelas tidak tepat sasaran.

Baca Juga:  Rokok Kretek sebagai Propaganda Politik Anti Jepang

Pertama, anak dan ibu hamil bisa mendapat rokok dari manapun. Mereka bisa tetap merokok tanpa membeli langsung ke warung. Mereka bisa saja diam-diam merokok setelah mengambil rokok ayahnya secara diam-diam pula. Ini tentu bukan hal yang baik. Tapi, setidaknya cukup untuk membuktikan bahwa larangan display rokok di warung klontong tidak efektif untuk menekan prevalensi perokok anak dan ibu hamil.

Kedua, ada hal yang lebih masuk akal untuk dilakukan daripada melarang display rokok; membangun kesadaran bagi pedagang, anak dan ibu hamil dengan pendekatan yang persuasif. Pemda setempat bisa memberi edukasi bagi pedagang agar tak menjual rokoknya pada anak kecil. Pemda juga bisa memberi penyuluhan melalui sekolah-sekolah dan menjelaskan bahwa merokok boleh saja, tapi kalau sudah 18 tahun. Begitu pun dengan ibu hamil, mereka berhak atas edukasi bahwa janin yang dikandungnya tidak cukup kuat untuk menerima risiko rokok. Meski sebenarnya saya juga tak pernah bertemu ibu hamil yang sedang asyik nyebats.

Warung-warung klontong memang identik dengan display dan iklan rokok. Tapi, gambar-gambar rokok rasanya tak cukup ampuh untuk menghipnotis seseorang yang ke warung untuk membeli sabun, berubah pikiran jadi membeli rokok. Sangat amat berlebihan jika menganggap gambar dan iklan rokok itu sebagai faktor kuat seseorang merokok.

Baca Juga:  Membedah Hukum Merokok dalam Islam

Beberapa warung memang bermitra dengan distributor rokok. Tujuannya jelas: sebagai siasat ekonomis. Para pedagang kerap mendapat keuntungan dari kerja samanya dengan pihak distributor. Keuntungan tersebut, meski tak seberapa, boleh jadi sangat berpengaruh bagi kelangsungan usaha mereka.

Sebenarnya saya sudah cukup maklum dengan logika absurd anti-rokok. Sialnya, logika yang absurd ini ternyata cukup ampuh bagi gerakan mereka. Kalau larangan display rokok bagi warung kelontong dibiarkan berlanjut dan menjadi lumrah, saya khawatir memajang rokok di dapur pun dilarang di kemudian hari. Anda mau dapur anda dirazia oleh anti-rokok? Hiiii..

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *