smokingarea-loteng

Mengapa Sekolah Sebaiknya Bebas dari Asap Rokok?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Buat saya, semua tempat umum memang baiknya menyediakan ruang merokok. Bahkan jika kita berada di tempat peribadatan, kita masih bisa sebats di warung-warung yang berlokasi dengan tempat tadi. Ya ibadah mah ibadah, abis ibadah kan boleh kita sebats.

Namun untuk perkara sekolah, saya menyepakati bahwa area tersebut harus steril dari rokok. Setidaknya, jangan sampai ada aktivitas merokok yang terlihat di area sekolah. Kalau sudah di luar area sekolah, ya tidak apa guru membeli rokok di sana. Kalau mau sebats ya para guru bisa mampir di warung kopi yang agak jauh dari wilayah sekolah. Kalau bisa yang agak jauh.

Memang merokok adalah hak bagi setiap orang dewasa atau mereka yang telah berusia 18 tahun ke atas. Tapi kemudian, ada aturan-aturan yang tentu saja harus dipahami agar dapat dipatuhi. Bahwa sekolah adalah bagian dari kawasan yang melarang aktivitas merokok, mari kita patuhi bersama.

Di luar aturan KTR, ada beberapa alasan pendukung mengapa sebaiknya kita tidak merokok. Pertama, tentu saja soal bagaimana kita mengajarkan kepada para pelajar untuk menaati peraturan. Jika ada seseorang, apalagi jika Ia adalah guru, melakukan aktivitas merokok di sekolah, tentu itu akan membuat para siswa punya alasan untuk melanggar aturan. Toh gurunya juga melakukan hal yang sama.

Baca Juga:  Mewaspadai Kepentingan Bisnis di Balik Produk Alternatif Pengganti Tembakau

Boleh jadi, mengajarkan para siswa untuk melanggar aturan memang menjadi hal yang biasa di sekolah. Bukan cuma soal guru yang melanggar aturan tidak boleh merokok. Tapi juga seperti kejadian sekolah yang membolehkan pelajar untuk membawa motor ke sekolah, padahal belum tentu mereka telah memiliki surat izin mengemudi. Mungkin, sekolah memang tempat yang begitu.

Kembali ke persoalan merokok. Selama ini, para perokok di bawah usia 18 tahun tidak pernah mendapatkan edukasi yang baik soal rokok. Mereka tidak memahami besarnya tanggung jawab sebagai seorang perokok. Apalagi, ketidakpahaman karena kurangnya edukasi itu diperparah dengan contoh negatif dari guru yang merokok di sekolah. Ini alasan selanjutnya mengapa sebaiknya para guru tidak boleh merokok di sekolah.

Para pelajar belum paham bahwa rokok adalah sebuah barang konsumsi yang memiliki potensi mengganggu kenyamanan orang lain. Karenanya, agar tidak ada masyarakat yang terganggu, hanya orang dewasa yang diperbolehkan merokok dengan asumsi mereka telah memiliki mental dan pemahaman yang cukup soal beban tadi. Dan merokok di area sekolah jelas bukan hal yang pantas dicontohkan orang yang sudah dewasa.

Baca Juga:  Perang Troya, Perang Nikotin

Kemudian, demi terciptanya rasa adil bagi semua pihak, ketika para pelajar tidak diperbolehkan merokok karena aturan dan batasan usia, para guru pun harusnya menaati aturan tidak merokok di area sekolah. Seperti yang telah saya bahas di atas, guru punya hak untuk merokok, tapi sebaiknya tidak di area sekolah.

Jangan sampai, para pelajar memiliki alasan untuk membantah aturan batasan usia untuk merokok karena perilaku para gurunya. Jika memang kalian adalah guru yang baik, juga perokok yang santun, sebaiknya kalian beri edukasi para siswa terkait rokok. Jangan cuma melarang-larang saja, beri mereka pemahaman bahwa perokok itu tanggung jawabnya besar. Dan tanggung jawab itu dimulai dari perkara tidak merokok, sampai usia dan mentalnya cukup.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit