perokoksepuh

Paru Hitam Kanker Bukan Milik Perokok

  • 71
  •  
  •  
  •  
  •  
    71
    Shares

Kampanye antitembakau memang dipenuhi kebohongan. Selain membawa sentimen agama melalui isu darah babi di filter rokok Indonesia yang kemudian dibantah MUI, isu dengan kebohongan terbanyak tentu saja jatuh pada persoalan kesehatan. Ada begitu banyak kebohongan yang muncul, termasuk kampanye paru-paru berwarna hitam yang katanya punya perokok.

Kebohongan ini mengatakan bahwa ada dua jenis paru di dunia ini. Yakni, paru merah muda dan bersih milik mereka yang tiak merokok. Dan paru hitam mengerikan yang katanya sih punyanya para perokok. Pertanyaannya, apakah benar begitu.

Asal tahu saja, paru hitam mencekam yang katanya punya perokok itu sebenarnya adalah paru yang terjangkit kanker. Penyakit mengerikan itu menggerogoti paru orang yang terjangkit, kemudian membuat warnanya menjadi hitam mencekam seperti biasa disebar antirokok. Sayangnya, hal ini tidak pernah dibahas karena memang, bagi kelompok pembenci rokok, kebohongan semacam ini diperlukan agar masyarakat ikut membenci rokok.

Bahwa rokok adalah barang konsumsi dengan faktor risiko penyakit tertentu, kita tidak bisa pungkiri. Tapi menyatakan kalau paru-paru semua perokok berwarna hitam mengerikan seperti tadi juga bukan hal yang bisa diterima akal sehat. Karena hal itu sama saja pembohongan publik yang menyesatkan, serta merugikan nama baik para perokok yang menjaga kualitas hidupnya.

Baca Juga:  Cukai Rokok dan Logika Perputaran Uang

Satu hal yang kerap dipungkiri oleh masyarakat adalah, ada banyak perokok yang hidup sehat hingga usia tua. Semua terjadi karena mereka bisa menjaga pola hidupnya dengan baik. Hingga urusan sehat wal afiat bukan mitos yang tidak bisa mereka rasakan. Hal ini tentu membantah pandangan kalau perokok itu bakal mati muda.

Hal lain yang kemudian tidak bisa dibiarkan terus ada adalah, anggapan bahwa semua penyakit itu penyebabnya adalah rokok. Kanker, penyebabnya rokok. Jantung, karena rokok. Struk, rokok juga. Bahkan, diabetes juga menuduh rokok sebagai biang keroknya. Lama-lama, penyebab cantengan bisa jadi bakal dituduhkan kepada rokok juga.

Pada perkara ini, saya kira tidak adil jika menyebut rokok sebagai biang kerokok pada seluruh penyakit. Toh, kanker dan jantung yang terlalu diidentikkan dengan rokok saja tidak bisa melulu disebabkan rokok. Toh, ada banyak orang yang tidak merokok juga terkena penyakit mematikan tersebut.

Kalaupun ada perokok yang terkena kanker, tidaks erta merta penyebabnya adalah rokok. Boleh jadi, selain merokok, gaya dan pola hidupnya tidak baik. Konsumsi kolesterol berlebih melalui makanan berminyak, tidak berolahraga, juga stres berlebih turut menyumbang potensi untuk terkena penyakit mematikan.

Baca Juga:  Pelarangan Memajang Rokok di Kota Depok, Diskriminasi yang Mengulang Kekonyolan

Kalau sudah begini, jalan terbaik untuk tetap sehat tentu saja bukan dengan tidak meorkok. Tapi menjamin pola hidup yang berkualitas dan baik. Jikapun ada orang yang menghindari rokok agar tetap sehat, pun tidak ada masalah. Sebagai orang dewasa, kita berhak menentukan hidup seperti apa yang hendak kita pilih. Bukan malah memilih takut pada kebohongan segolongan pihak yang menjadikan apa saja benar asal orang-orang membenci rokok.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit