Prosesi Pernikahan Kyai Pulung Seto dan Nyai Srintil

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin ngga sih kalau resepsi pernikahan dilakukan tiap tahun?

Ngga mungkin? Tunggu dulu. Kalau kalian pikir hal itu tidak mungkin, kalian mestinya menengok tradisi pernikahan yang ada di Kabupaten Magelang. Di sana, resepsi pernikahan dengan pasangan yang sama dilakukan setiap tahun dan tentunya dengan pesta mewah!

Resepsi pernikahan yang dilakukan di Dusun Gopaan, Desa Genito, Kecamatan Windusari ini adalah pasangan dari tanaman tembakau. Ya, tembakau di sana dinikahkan layaknya sepasang muda-mudi yang diselimuti kebahagiaan. Tradisi ini bukan bukan kawin silang seperti dalam ilmu biologi. Tradisi ini hanya untuk mensyukuri hasil tembakau yang melimpah karena tembakau di sana menjadi sumber perekonomian warga setempat.

Adalah Kyai Pulung Seto dan Nyai Srintil yang menjadi pusat perhatian ribuan warga setiap diadakan resepsi pernikahan tersebut. Tak hanya warga dari Dusun Gopaan, warga dari berbagai daerah pun turut mengikuti resepsi tersebut. Mereka diarak keliling desa diiringi suara gending jawa dan tabuhan musik kuda lumping serta sesaji. Nama Kyai Pulung Seto berartikan keberuntungan putih, sedangkan Nyai Srintil mengacu pada nama tembakau istimewa yang hanya ditemukan di sekitar Gunung Sindoro dan Sumbing.

Baca Juga:  Siapa Bilang Tokoh Agama Tidak Merokok?

Tradisi yang dilakukan pada Selasa Pahing, Bulan Safar (penanggalan Jawa) ini diawali dengan kirab tumpeng persembahan dari warga menuju mata air Sendang Gopaan yang tidak jauh dari dusun. Sebenarnya bukan tumpeng saja sih, ada beberapa sesaji berupa rempah-rempah, sayur-mayur hingga buah-buahan. Nantinya, sesajian hasil bumi tersebut di sebuah bangunan kecil atau pesanggrahan Kyai Gopaan di dekat mata air tadi.

Setelah itu, warga melanjutkan prosesi dengan grebeg gunungan di pusat dusun. Dalam rangkaian resepsi tersebut, ada juga pertunjukan ragam kesenian tari dan musik tradisional, seperti jathilan, dayakan, dan sebagainya. Warga mengikuti prosesi tersebut dengan khidmat. Mereka mengikuti prosesi menggunakan pakaian khas Jawa. Warga yang lain juga antusias menonton pertunjukkan demi pertunjukan yang disajikan.

Tahun ini, resepsi pernikahan tembakau sudah yang ketujuh kalinya. Di tahun ketujuh tradisi ini dilaksanakan, petani tembakau mendapatkan hasil yang baik dibanding tahun 2017 lalu. Cuaca mendukung, jadi panen tembakau dianggap sukses. Maka tak heran jika harga jual tembakau mencapai 75 ribu per kilonya. Itu berarti ada peningkatan ekonomi yang dialami oleh masyarakat setempat.

Baca Juga:  Tak Mau Berpikiran Buruk, Djarot Lebih Memilih Merokok

Terdapat banyak macam tradisi di Indonesia untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi. Di Jawa sendiri sudah umum didengar Tradisi Apitan atau Sedekah Bumi. Tradisi tersebut untuk mensyukuri hasil bumi yang diperoleh. Di Buleleng, Bali ada Tradisi Ngaturang Buah-buahan setelah panen raya buah. Dan masih banyak lagi tradisi-tradisi yang ada di Indonesia untuk mensyukuri hasil bumi yang diperoleh.

Tembakau, sebagai salah satu hasil bumi Indonesia memang harus disyukuri karena faktanya tanaman ini memberi manfaat yang begitu besar untuk petani. Terutama bagi Dusun Gopaan yang mayoritas warganya menggantungkan kehidupannya pada komoditas ini.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit