Sudah Waktunya Meninjau Angka Harapan Hidup Bukan Melulu dari Perkara Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Berdasar data yang diturunkan National Cancer Institute, tembakau menjadi penyebab kematian penyakit yang bisa dicegah. Dinyatakan bahwa angka harapan hidup perokok tiga kali lebih pendek dibanding bukan perokok, risikonya juga sama antara pria dan wanita. Dalam penjelasan lainnya disebutkan, rata-rata para perokok meninggal 10-12 tahun lebih cepat.

Pada berbagai kesempatan, data tersebut tak jarang diadopsi dalam pernyataan antirokok di Indonesia. Bahkan semakin dipertebal dengan menyebutkan bahwa rokok telah menyebabkan 443.000 kematian setiap tahunnya, termasuk 49.000 kematian karena menjadi perokok pasif. Angka-angka semacam ini yang juga dipakai antirokok untuk menakut-nakuti perokok. Gila ya segitunya.

Sementara jika kita bandingkan dengan data yang dilansir BPS, terkait Indeks Pembangunan Manusia  (IPM) di tahun 2017 justru mengalami peningkatan dibanding tahun 2016. IPM tahun 2017 tercatat mencapai 70,81 atau naik 0,63 % dibanding tahun sebelumnya.

Perlu diketahui juga, bahwa IPM merupakan indikator penting untuk mengetahui keberhasilan meningkatkan kualitas hidup manusia. Meningkatnya angka tersebut menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dst.

Baca Juga:  Awas, Perda KTR Tangsel Sarat Kriminalisasi

Melalui data pembanding ini, terkait angka harapan hidup sejumlah negara pada tahun 2040—berdasar hasil studi para peneliti—disebutkan Spanyol mengambil posisi teratas angka harapan hidup masyarakatnya. Dengan proyeksi 85,8 tahun. Yang sebelumnya menduduki urutan empat.

Sejak dulu Spanyol dikenal memiliki tradisi tapas, yang artinya rokok, bir dan makanan kecil disajikan secara bersamaan dalam berbagai perhelatan. Jika memang tradisi semacam itu masih berlaku sampai tahun yang diproyeksikan, terkait premis tentang tradisi tapas adalah salah satu penyebab pendeknya masa hidup orang Spanyol iya gugur sudah itu. Boleh jadi sebaliknya, indeks kebahagian di Spanyol akan terus tumbuh tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di benua Amerika lantaran masih merawat tradisi semacam itu.

Selain itu Jepang, salah satu negara di Asia yang cukup tinggi jumlah perokoknya, justru angka harapan hidup diproyeksi rata-rata 83,7 tahun. Yang secara peringkat berada di bawah Spanyol. Jepang sejatinya dikenal juga sebagai negeri perokok. Meski penerapan regulasi terkait rokok cukup ketat di Jepang, namun pemerintahnya tidak ingin mencederai rasa keadilan bagi perokok. Artinya, walaupun banyak tanda larangan merokok di berbagai ruang publik, tetap di area yang tak jauh disediakan juga fasilitas untuk perokok, spot-spot boleh merokok sungguh tak kurang.

Baca Juga:  Perkara Etika Tongkrongan Perokok bagi Orang Madura

Cina juga terdaftar sebagai negara yang mengalami peningkatan angka harapan hidup jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Diproyeksikan angka harapan hidup rata-rata masyarakat Cina 81,9 tahun. Sementara perokok di Cina, yang merokok di atas usia 15 tahun terhitung 53%. Lain halnya dengan Amerika Serikat yang mengalami penurunan peringkat, diproyeksikan angka harapan hidup di AS 79,8 tahun. Ya banyak variabel yang menentukan naik-turunnya indeks harapan hidup suatu masyarakat. Berdasar hasil penelitian itu pula peringkat Indonesia disebutkan naik, dari posisi 117 ke 100.

Rokok memang salah satu produk konsumsi yang memiliki faktor risiko, tidak mutlak negatif. Setiap yang kita konsumsi niscaya memiliki faktor risiko bagi kesehatan. Ada sejumlah variabel lain yang bisa ditinjau lebih dalam, apalagi jika itu menyangkut kesehatan, kualitas hidup manusia dan proyeksi masa hidupnya.

Boleh jadi, justru perokok di Indonesia yang mayoritas mengonsumsi kretek, dapat terus terawat etos hidupnya disebabkan warisan budaya itu. Bukan hanya karena ada kretek, namun pula masih terpeliharanya rasa saling menghormati satu sama lain. Maka tidaklah keliru jika ruang-ruang merokok diwujudkan sebagai upaya menunjang etos saling menghargai.

Baca Juga:  Tarif Cukai Tidak Naik Tak Lantas Membuat Harga Rokok Menjadi Murah

Jika rokok dikatakan penyebab tunggal atas berbagai penyakit dan pendeknya usia hidup seseorang, toh berdasar hasil studi para peneliti, diproyeksikan adanya peningkatan angka harapan hidup pada sejumlah negara dengan angka perokok yang tidak kecil. Apa itu artinya coba? Kuncinya ya ada di pola hidup yang seimbang, Bos. Itu yang menentukan kualitas hidup kita pula.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah