5 Resolusi Tahun Baru 2019 dari Perokok Santun yang Ingin Tetap Santun

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tahun baru sudah di ujung tanduk. Setelah tanggal 31 ini, besok kita sudah menapaki tahun 2019. Setiap orang pasti punya resolusi yang akan dicapai di tahun baru nanti. Tentunya resolusi itu adalah hal-hal baik yang memberi manfaat bagi diri, keluarga, dan kehidupan sosial.

Sebagai perokok santun yang ingin tetap santun, setidaknya saya pribadi punya beberapa keinginan yang berkaitan dengan aktivitas nyebats sehari-hari. Resolusi tak harus muluk-muluk sih menurut saya, asal itu realistis dan tidak bikin ruwet, ya dilakoni. Haiya, jika dirasa cocok juga untuk masuk daftar resolusi Anda sebagai sesama perokok, saya tidak keberatan kok jika resolusi ini ditiru. Hiya hiya hiya.

Pertama, jika tahun lalu saya suka membantu menghabiskan rokok teman. Pada tahun baru nanti saya akan membatasi diri untuk tidak terlalu gemar melakoni kebiasaan yang satu itu. Kalau lagi tidak punya rokok lantaran duit pas-pasan harus dibagi untuk kebutuhan beli bensin misalnya, iya sudah terima nasib saja. Tak perlu merokok dulu. Tapi lain hal kalau teman memberi uang rokok ataupula sebungkus rokok lantaran ada sedikit jasa saya yang dianggap berguna. Iya diterima dong, namanya juga rejeki. Karena itu uang rokok iya buat beli rokok saja, tak eloklah kalau sampai ditabung buat beli gadget yang lebih wah.

Baca Juga:  Dear Kak Seto, Menjauhkan Anak dari Rokok Tidak Butuh FCTC

Kedua, berencana membawa korek lebih dari satu sebagai cadangan, ini penting bagi saya. Tahu sendiri kan perokok kalau sudah kehilangan korek mau tak mau harus ambil jurus minta api ke perokok lain. Kalau kena situasi harus minta api seperti itu, kok rasanya turun sedikit gitu derajat kemandirian saya sebagai perokok. Lagipun kalau punya dua-tiga korek di kantong halal toh buat modus untuk dapat kenalan baru dengan sesama perokok, “sudah, bawa saja koreknya buat kamu”. Itu pun kalau ada perokok yang mengalami kemalangan karena jadi korban curankor juga, dan itu pun jika dia tetap berprasangka baik ke saya.

Ketiga, mulai membiasakan lagi membawa asbak saku ke mana-mana. Kemarin-kemarin seringnya ketinggalan di rumah kalau sudah selesai dicuci. Terlanjur sudah mendaku diri perokok santun soalnya, masak buang abu dan puntung sembarangan. Jika memang sudah mendaku diri perokok santun, iya salah satu bentuk terkecil dari pembuktiannya di situ. Tidak merokok sembarangan dan selalu menjaga kebersihan. Tahu sendiri antirokok kalau sudah melihat perokok bencinya kayak apa, sukanya main pukul rata dengan tudingan buruk ke semua perokok.

Baca Juga:  Gus Dur Sang Pahlawan Petani Cengkeh

Keempat, agar tidak menambah volume sampah di keranjang. Ada baiknya memang bungkus rokok yang sudah kosong dibawa ke warung rokok langganan. Ditawarkan ke penjual rokoknya untuk memanfaatkan lagi bungkus kosong tersebut siapa tahu ada konsumen yang membeli rokok ketengan, jadi manfaat pastinya buat bungkus rokok lagi. Eh iya, jangan dibawa ke mini market, itu salah alamat pastinya. Mini market tidak menjual rokok ketengan soalnya.  Iya kaleee.

Kelima, karena harga rokok sudah mulai terasa mahal apalagi rokok kretek favorit saya hampir menyentuh harga 20.000 rupiah. Salah satu upaya untuk menyiasati itu saya akan bawa juga tembakau linting yang sudah saya racik dan akan dilinting saat saya kepingin. Jadi selang-seling gitu mengonsumsinya. Ini perlu diketahui juga sedikitnya, saya punya hasrat narsis yang perlu disalurkan loh, salah satunya iya dengan cara seperti itu. Meracik sendiri, melinting sendiri, menghisapnya sendiri, dan kadang suka menyedap-nyedapkan racikan sendiri, enak juga rokok racikan ogut ya, mmmhh.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah