natal

Belajar Toleransi Dari Natal

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pada malam natal tahun ini genap 18 tahun kepergian Riyanto. Ia adalah seorang anggota Barisan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang gugur terkena ledakan bom yang diamankannya ketika ikut menjaga Gereja Eben Haezer pada malam sebelum puncak perayaan Natal di tanggal 24 Desember 2000.

Riyanto merupakan seorang muslim taat. Tidak diwajibkan baginya untuk menjaga keamanan malam natal. Rasa toleransi lah yang memanggil Riyanto untuk bersama-sama pasukan Banser NU yang lain menjaga kedamaian ibadah malam natal umat Kristiani di Mojokerto.

Nama Riyanto kini tak lagi dibicarakan senyaring dulu, ketika aksi heroiknya menjadi headline di media massa. Kini, berbagai macam keriuhan senantiasa mengiringi perjalanan bulan Desember di Indonesia. Ya, bulan Desember memang kerap riuh. Lini masa sosial media tak jarang menampilkan perdebatan yang mengiringi euforia natal.

Ada yang beda pendapat soal boleh atau tidak umat Muslim mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen, ada pula yang berdebat soal haram atau halal topi santaclause bagi pekerja beragama non-Kristen. Tapi, di luar itu semua, masyarakat Indonesia senantiasa memahami, bahwa perbedaanlah yang mempersatukan. Dengan atau tanpa ucapan selamat Natal lintas agama, damai Natal tetap dirasakan bersama-sama. Bhineka Tunggal Ika!

Hal-hal seperti inilah yang perlu dipelajari dari setiap momen Natal. Sekalipun hari raya telah lewat, sikap toleransi harus selalu dikedepankan. Selalu menghargai hak orang lain sebagaimana hak kita sendiri ingin dihargai.

Baca Juga:  Koboi-Koboi Berkulit Coklat

Dalam konteks aktivitas merokok, orang yang merokok harus menghargai mereka yang bukan perokok dengan tidak mengepulkan asap di hadapan mereka. Mereka yang tidak merokok menginginkan udara segar tanpa asap rokok. Ya kalau anda mau merokok, silahkan pindah ke ruang merokok.

Begitupun sebaliknya, orang yang bukan perokok pun perlu menghargai mereka yang memilih untuk menjadi seorang perokok. Sederhana saja, anda yang bukan perokok tidak perlu sampai membuat ruang merokok karena ketersediaan ruang merokok adalah kewajiban pemerintah dan swasta yang ingin membangun ruang publik. Setidaknya mampu menghargai keberadaan perokok. Cukup dengan tidak menggerutu atau protes ketika melihat ada yang merokok, apalagi jika anda sedang berada di tempat yang memperbolehkan orang untuk merokok.

Sikap saling menghargai antara perokok dan bukan perokok juga merupakan salah satu bentuk toleransi di tengah keberagaman. Memang, masih ada perokok yang belum mampu menghargai hak orang lain yang bukan perokok. Masih ada perokok yang merokok di angkutan umum, masih ada juga perokok yang mencuri-curi kesempatan merokok di tempat umum lainnya. Juga sebaliknya, tak sedikit orang-orang yang bukan perokok menunjukan sikap diskriminatif dan tidak menghargai hak seorang perokok. Mulai dari menggerutu hingga sindiran dengan kibasan tangan di depan muka seolah mengusir asap yang tercium, padahal sedang berada di ruang merokok yang ada tanda boleh merokok. Pada tahap paling klimaks, kita akan menemukan anti rokok yang tak segan merazia dan mengusir perokok.

Baca Juga:  Tembakau, Kekuatan Ekonomi Indonesia

Sekali lagi, ketersediaan ruang merokok adalah kewajiban pemerintah dan swasta sebagai pengelola ruang publik. Maka, sebagai seorang perokok yang sadar akan hak dan kewajiban, saya tidak menuntut masyarakat yang bukan perokok untuk menyediakan ruang merokok. Cukup dengan menghargai keberadaan dan kenyamanan seorang perokok. Sebagaimana Riyanto yang menjaga keamanan gereja yang bukan rumah ibadahnya.

Sikap saling menghargai antara perokok dan bukan perokok harus senantiasa dipertahankan, semata-mata demi menjamin perlindungan hak masing-masing. Toh semua sudah ada ruangnya. Tinggal bagaimana masing-masing dari kita memiliki kesadaran bertoleransi, maka tak akan ada lagi hak yang terampas. Kretekus juga perlu bertoleransi.

Selama setiap orang bisa saling menghargai, maka perbedaan adalah hal yang sah untuk dirayakan. Semoga damai Natal tahun ini dapat mengusung semangat toleransi yang pernah dibayar mahal dengan nyawa Riyanto.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd