harga rokok

Betapa Rokok Sangat Dicintai Oleh Media

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Setiap harinya isu rokok pasti menjadi pemberitaan di media. Baik di media mainstream hingga media abal-abal yang memang dibentuk untuk menghembuskan isu negatif soal rokok, sama-sama memiliki porsi yang besar untuk memberitakan isu rokok. Media yang seharusnya memberikan informasi dan mencerdaskan masyarakat, justru bertransformasi menjadi salah satu stimulan gerakan anti rokok.

Tuduhan ini tentu hanya dialamatkan pada media-media tertentu. Tidak semua. Media-media ini (yang menjadi stimulan gerakan anti rokok), kerap menggunakan kata kunci “rokok” untuk menghasilkan judul bombastis. Tujuannya jelas memanfaatkan frasa “rokok” yang memang trafiknya cukup tinggi di mesin pencarian Google.

Ada beberapa media yang menggunakan kata rokok dikaitkan dengan suatu fenomena sosial yang mengerikan seperti pembunuhan, misalnya. Seperti judul berita di Tribunnews ini: Diminta Berhenti Merokok, Pria Ini Tikam Istrinya yang Sedang Hamil Sebanyak 8 Kali. Mengerikan, bukan?

Setelah membaca muatan beritanya, kita bisa paham bahwa masalahnya ini bukan sekadar perkara ‘diminta berhenti merokok’. Lebih dari itu, ternyata sang suami sedang dalam pengaruh alkohol alias mabuk. Pertanyaan saya: kenapa judulnya tak menyebut suami mabuk? Kok, terkesan menjadikan rokok sebagai sebab? Dan ternyata kejadian ini pun jauh di Rusia sana. Apa kepentingan Tribunnews Pekanbaru memberitakan hal semacam ini?

Baca Juga:  Benarkah Industri Kretek Telah Berpihak Pada Buruh?

Contoh lain, juga dari Tribunnews: Gara-gara Puntung Rokok, Jembatan Lama Kota Kediri Nyaris Terbakar. Dalam berita ini, redaktur justru tidak berani memberi kepastian tentang penyebab kebakaran. Kalimat yang digunakan adalah “diduga karena puntung rokok”. Tapi entah dengan alasan apa mereka membuat judul yang seolah-olah kebakaran itu pasti disebabkan oleh rokok.

Sebelumnya juga ada berita, yang belakangan diketahui sebagai hoax, menyebut seekor gajah ditemukan sedang merokok. Faktanya, sang gajah hanya memakan kayu  bekas bakaran hingga abu yang menempel di kayu tersebut mengepul seperti asap. Penampakan itu lantas disimpulkan oleh berbagai media sebagai fenomena gajah merokok. Bak gayung bersambut, komentar warganet pun bervariasi. Banyak diantara mereka yang tiba-tiba mengutuk rokok.

Ada banyak contoh lainnya. Kita bisa dengan mudah menemukan berita yang menggunakan kata “rokok” pada judulnya, namun tak ada kaitannya sama sekali dalam berita. Silahkan coba mulai mencari di internet. Banyak!

Hal-hal tersebut jelas bertujuan pada klik. Berita-berita dengan judul yang bombastis memang kerap menjebak pembaca, khususnya mereka yang punya rasa penasaran tingkat tinggi. Dan kata “rokok” adalah salah satu dari sekian banyak keyword seksi yang potensial untuk digunakan dalam judul berita.

Baca Juga:  Empat Alasan Pacar tidak Melarang Merokok

Selain dari pada itu, ada dampak lain yang, sadar atau tidak, justru menguntungkan satu kelompok. Kelompok yang dimaksud adalah anti rokok. Mereka mendapat ruang untuk mengampanyekan bahaya dan efek negatif rokok dengan modal berita-berita macam tadi. Kita tidak tahu, apakah berita-berita buruk tentang rokok itu memang sekadar bertujuan meraup klik dari pembaca, atau memang hasil dari sebuah kerja sama yang super licik demi keuntungan semata. Wallahu a’lam.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd