Regulasi Soal Kretek dan Produk Alternatif Tembakau Tidak Boleh Dibedakan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Selama ini produk alternatif tembakau kerap dianggap sebagai solusi untuk menyelesaikan perkara rokok. Buat sebagian orang, rokok itu berbahaya produk alternatif tembakau tidak. Karenanya, regulasi antara kedua hal tadi dipaksakan untuk berbeda. Padahal tidak perlu seperti itu.

Di Indonesia, wacana untuk mendorong regulasi produk alternatif tembakau agar dibedakan dengan regulasi rokok mulai disuarakan. Tujuannya jelas, agar rokok dan produk alternatif mendapatkan status yang berbeda di hadapan publik. Bahwa yang satu berbahaya, dan yang satu lebih sehat.

Itulah kenapa sejak lama produk-produk seperti vape selalu digaungkan lebih sehat dari rokok. Selain agar orang-orang menganggap produknya lebih sehat, ya tentu saja untuk menggerus pasar perokok tradisional yang begitu loyal di Indonesia. Pada konteks ini, upaya membedakan regulasi keduanya akhirnya semata upaya dagang dan penguasaan pasar.

Yang paling pertama perlu kita pahami adalah, rokok maupun produk alternatif itu sama-sama dibuat dengan bahan baku tembakau. Jadi, persoalan sehat-sehatan itu tidak relevan dengan kesamaan bahan baku antar keduanya. Kandungan nikotin yang menjadi jualan utama juga terdapat dalam kedua produk itu.

Baca Juga:  Pemerintah DKI Jakarta Jangan Latah Membuat Raperda KTR

Kedua produk itu juga sama-sama memiliki potensi mengganggu orang lain. Ya selama menghasilkan asap, tentu saja punya potensi mengganggu. Dan karena produk alternatif tembakau yang ada di Indonesia masih berbatas vape atau rokok elektrik, ya sama saja.

Kemudian yang terakhir dan yang paling penting, posisi kretek yang menjadi andalan begitu banyak masyarakat di Indonesia. Ini hal yang membedakan Indonesia dengan negara lain. Biar bagaimanapun, kretek memiliki peran penting buat bangsa dan negara. Apalagi kretek juga padat karya yang dari hulu hingga hilirnya menyerap banyak tenaga kerja.

Melihat segala hal diatas, agak aneh jika kemudian Indonesia justru membuat aturan yang membedakan kedua produk tadi. Baik rokok maupun yang alternatif, tetap saja berbahan tembakau dan menjual nikotin. Jadi upaya membedakan karena urusan kesehatan tidak dapat diterima oleh akal sehat.

Apalagi keduanya juga berpotensi sama mengganggu orang lain. Dan Indonesia sudah punya regulasi yang mengatur agar masyarakat tidak terganggu. Ketimbang membuat regulasi pembeda, tentu akan lebih tepat jika produk barunya yang kita masukkan ke regulasi yang berlaku. Nggak usah boros-boros deh.

Baca Juga:  Beberapa Penelitian Terbaru Terkait Bahaya Vape

Dan terakhir, melihat pentingnya industri kretek di Indonesia, tentu saja membuat regulasi yang membedakan adalah sebuah upaya bunuh diri oleh pemerintah. Biar bagaimanapun, upaya mendorong regulasi pembeda ini adalah usaha untuk mematikan industri kretek. Nanti kalau sudah mati, penguasaan bisnis nikotin bakal menguasai pasar Indonesia.

Kalau sudah begitu, barulah kita menyesal atas matinya industri nasional yang begitu penting untuk kita. Dan kalau sudah telat begitu, baru kita mulai teriak asing-aseng menguasai pasar nasional. Meski kemudian kita sadar, semuanya sudah terlanjur basi.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit