petani tembakau

Ketika Menanam Tembakau Lebih Menguntungkan Buat Petani

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dalam satu dekade terakhir agaknya serangan-serangan yang dilancarkan kelompok antitembakau tidak lagi hanya menyasar konsumen dan pabrikan, melainkan juga para petani tembakau. Ketika konsumen dihajar isu miring dan pabrikan diserang regulasi, maka petani tembakau ikut digiring untuk mendiversifikasi tanamannya. Ya, mereka digiring agar tidak lagi menanam tembakau.

Dalam isu yang dibawa, mereka dibujuk rayu oleh keuntungan dari menanam komoditas jenis lain. Katanya sih, tembakau itu tidak menguntungkan. Katanya lagi, ada banyak petani tembakau miskin. Karena itu, lebih baik meninggalkan tanaman tembakau yang cuma bisa ditanam semusim itu.

Dengan bujuk rayu itu, ada sebagian petani yang mengalihfungsikan lahannya untuk menanam kopi. Bahwa itu adalah hak mereka, ya kita tidak bisa melarangnya. Namun dengan menanam tanaman tahunan seperti kopi, para petani tidak bisa menanam tanaman jenis lain di sela pergantian musim, yang untuk kasus tembakau justru menguntungkan.

Setidaknya begitulah hal yang disampaian para petani dari Kelompok Tani Sri Lestari di Desa Gemplang, Cilacap Jawa Tengah. Berdasar pengakuan mereka, keuntungan menanam tembakau bisa mencapai dua kali lipat ketimbang menanam padi. Tentu saja, hal ini dinyatakan berdasar pengalaman mereka selama menanam padi dan tembakau.

Baca Juga:  Ahok, Susi, dan Bahasa Lenong tentang Rokok

Jadi begini, tembakau masuk kategori tanaman semusim. Untuk varietas yang biasa ditanam, bisanya masa tanam berkisar pada musim kemarau. Karena itu, ketika musim tidak baik untuk ditanami komoditas macam padi atau cabai, petani memilih untuk menanam tembakau. Dan karena itu mereka mendapat keuntungan yang berlipat ganda.

Ketika masuk musim kemarau, tanaman seperti padi yang membutuhkan banyak air terlalu merepotkan untuk diurus. Mereka rentan mati jika kekurangan air. Sementara tembakau justru berkarakter sebaliknya, tidak membutuhkan banyak air. Jadi di musim kemarau itu para petani bisa mendapatkan untung tatkala menanam tembakau yang tidak banyak menyita air.

Nantinya, ketika masuk musim hujan, tembakau sudah selesai panen. Lahan yang kosong pun bisa ditanami oleh padi, jagung, atau cabai bergantung kultur dari petaninya sendiri. Jadi ketika mereka tidak menanam tembakau, mereka bisa mendapatkan penghasilan dari komoditas lainnya. Hal ini bisa terjadi karena tembakau merupakan tanaman musiman, beda dengan kopi.

Keuntungan dari menanam tembakau biasaya dijadikan simpanan bagi para petani untuk menghadapi musim-musim yang lain. Sementara, pendapatan dari komoditas lainnya dijadikan pegangan untuk hidup mereka sehari-hari. Inilah yang membuat keuntungan petani menjadi berlipat, sudah hidup lebih terjamin, mereka punya simpanan juga.

Baca Juga:  Pemerintah DKI Jakarta Jangan Latah Membuat Raperda KTR

Harga tembakau sendiri menjadi salah satu yang paling tinggi dari semua komoditas yang ada di Indonesia. Memang sih kopi juga memiliki harga yang cukup tinggi, tapi karena masuk dalam kategori tanaman tahunan, pendapatan yang diterima juga bersifat setahun sekali. Beda dengan tembakau. Oh iya, sekadar info, meski punya disparitas harga yang lumayan tinggi, harga tertinggi tembakau ketika musim panen bisa mencapai jutaan rupiah per kilogram loh.

Karena itu, argumentasi dan bujuk rayu yang kerap menyasar para petani tidak melulu berhasil menaklukkan mereka. Mengingat, berdasar pengalaman mereka bersama tembakau, keuntungan yang diraih justru melebihi ketika mereka menanam komoditas lain. Dan yang paling penting, bersama tembakau hidup mereka telah berjalan selama puluhan bahkan ratusan tahun. Hal semacam bujuk rayu sih nggak bakal mempan-mempan amat, terutama kepada para petani yang turun-temurun menanam emas hijau di bumi nusantara ini.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit