olahraga

Rajin Olah Raga Justru Baik Bagi Perokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dalam hidup ini ada banyak kegiatan yang enak dilakukan sembari merokok. Ketika bekerja, menunggu, nongkrong sama teman, atau malah ketika sedang ritual di jamban. Ya sebenarnya sih melakukan aktivitas sembari merokok bisa dilakukan senyamannya kita berkegiatan saja.

Meski demikian, ada juga beberapa kegiatan yang baiknya tidak kita lakukan sembari merokok. Ketika momong anak, berkendara, atau ketika beribadah baiknya tidak dilakukan sembari merokok. Ya jangan sampai aktivitas kita atau bahkan orang lain malah terganggu oleh rokok. Pun sebaliknya, aktivitas merokok kita terganggu oleh kegiatan lainnya.

Olah raga juga merupakan salah satu aktivitas yang sebaiknya tidak dilakukan sembari merokok. Ketika bermain futsal, misalnya, akan sangat berbahaya jika kita lakukan sambil merokok. Selain dapat melukai orang lain dan rumput lapangan, merokok sambil bermain futsal justru berpotensi membuat kita mandul. Maksudnya, bukan kesulitan berkembang biak, tapi kesulitan mencetak gol karena konsentrasi yang terbagi. Kira-kira begitu.

Di luar sana, ada banyak orang yang coba menempatkan rokok dan olah raga pada posisi yang berhadap-hadapan atau saling bertolak belakang. Narasi yang dibangun tidak jauh dari perkara kesehatan. Katanya, olah raga memacu kerja jantung, sedang merokok dapat menyumbat pembuluh darah di jantung. Benarkah demikian?

Baca Juga:  Kisah Kim Jong-Un, Diktator Kontroversial Yang Akrab Dengan Rokok

Agak sulit untuk menerima narasi yang bahkan sudah terbantah oleh beberapa penilitian ilmiah. Penelitian yang tak banyak dipublikasikan karena memang menjelaskan bahwa rokok (setidaknya) tidak berkaitan langsung dengan segala macam penyakit. Bahwa rokok memiliki faktor risiko, saya sepakat. Hal tersebut juga berlaku pada semua barang konsumsi.

Air putih pun tak menyehatkan jika diminum melalui hidung. Nasi juga akan menjadi zat yang berbahaya jika dikonsumsi berlebihan oleh penderita diabetes. Artinya, kondisi pengguna, dosis dan metode penggunaan menentukan kadar risiko dari segala hal yang dikonsumsi. Bukankah demikian?

Kembali menyoal rokok dan olah raga. Saya termasuk golongan orang yang tidak mau langsung merokok ketika baru selesai berolah raga. Alasannya sederhana, bukan tak sampai mengkaji persoalan jantung dan pembuluh darah. Saya kurang menikmati rasa rokok jika diisap dalam keadaan terengah-engah atau kehausan pasca berolah raga. Sudah, itu saja.

Jadi, tak perlu menakut-nakuti dengan narasi kesehatan yang bahlul bin absurd. Seseorang yang sudah berusia lebih dari 18 tahun tak lagi bisa disebut anak-anak. Perokok adalah manusia dewasa. Kalau mau menjelaskan ke orang dewasa ya jangan pakai mitos-mitos ngawur yang hanya ampuh untuk mengelabui anak-anak.

Baca Juga:  Musuh Utama Perokok

Di atas semua itu, yang perlu kita pahami adalah kenyataan bahwa merokok itu pilihan bebas. Siapa pun berhak untuk merokok. Pun sebaliknya, siapa pun berhak untuk tidak merokok. Batasannya jelas, usia minimal sesuai regulasi dan kondisi tubuh yang bisa diukur oleh masing-masing individu.

Kalau kita rajin berolah raga, merokok bukanlah suatu hal yang mengkhawatirkan. Dengan demikian, rokok dan olah raga, bagi saya, adalah dua hal yang saling melengkapi. Tidak bertolak belakang. Tabik!

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd