Tembok Tebal di Antara Nalar Publik dan Fakta Ilmiah Menyoal Rokok

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

Stigma bahwa rokok adalah biang segala penyakit terus saja diulang bunyinya oleh antirokok di berbagai forum yang mereka gelar. Hal itu membuktikan betapa bebalnya mereka dalam melihat persoalan kesehatan.

Tahun lalu, Kepala Dinkes DKI Jakarta, Koesmedi Priharto, dalam sebuah talkshow dengan tema ‘Musik Keren Tanpa Rokok’, pernah menyebut bahwa Jakarta adalah daerah dengan jumlah penderita tuberkolosis (TBC) nomor satu terbanyak yaitu 37.114 jumlah penderita. Apa yang dianggap menjadi faktor utamanya? Yap, rokok!

Bagi saya, pernyataan itu terlalu prematur untuk dipercaya. Apalagi itu disebabkan sepenuhnya karena asap rokok. Kalau saja kita mau gali lebih dalam, penyebab dari penyakit TBC itu sendiri sebagian besar disebabkan oleh lingkungan tinggal yang kotor dan kumuh. Tapi, ya, namanya antirokok, mau apa pun penyakitnya, pasti rokok penyebabnya.

Itu belum seberapa. Kelompok antirokok bahkan tak sungkan untuk mengaitkan prevalensi penderita TBC dengan masifnya papan reklame rokok. Dalam logika mereka, iklan rokok akan secara otomatis menghipnotis publik ke alam bawah sadar yang paling dalam, hingga akhirnya merokok dan, lagi-lagi, berujung pada berbagai penyakit, termasuk TBC. Logika absurd semacam itulah yang membawa Pemprov DKI pada sebuah ide untuk menurunkan semua baliho dan papan reklame rokok sebagai solusi menekan jumlah penderita TBC.

Baca Juga:  Bisnis dan Kuasa Pengetahuan dalam PP Tembakau

Sampai sini, silakan tertawa.

Merujuk pada data Kemenkes, terdapat 842 ribu kasus TBC di Indonesia pada 2017. Indonesia juga menempati posisi ketiga untuk negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Kita tinggalkan dulu logika absurd antirokok, jangan terburu-buru menyalahkan papan reklame, mari cari tahu penjelasan ilmiah untuk memahami fenomena tersebut.

Dikutip dari laman tirto.id, Direktur Kesehatan Ditjen Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan, dr. Arie Zakaria, SpOT menyebut bahwa perilaku merokok tidak ada hubungan langsung dengan penyakit TBC. Menurutnya, TBC disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis.

“Kalau tidak ada kumannya, mau merokok banyak bagaimanapun tidak akan kena,”¬†ujar Arie usai diskusi di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Rabu (19/3/2019).

Menurutnya, para penderita TBC, khususnya mereka yang merokok, seringkali tidak menyadari kalau mereka mengidap penyakit tersebut. Sehingga ketika mereka batuk, akan langsung dikaitkan dengan perilaku merokoknya. Padahal, masih menurut Arie, setiap kali penderita TBC batuk, mereka akan mengeluarkan jutaan kuman mycobacterium tuberculosis yang apabila mengendap di tempat lembab dan jauh dari paparan sinar matahari, akan menular begitu dihirup oleh manusia, termasuk para antirokok yang super-duper mahadahsyat bebalnya sehatnya.

Baca Juga:  Mengapa Sekolah Sebaiknya Bebas dari Asap Rokok?

Jadi, jelas bahwa penularan TBC tidak berkaitan langsung dengan perilaku merokok seseorang, melainkan karena kondisi lingkungan yang kumuh dan tidak sehat. Harusnya Pemprov DKI kala itu bereaksi dengan konsen pada perbaikan tata kota dan kesehatan lingkungan, bukan dengan menurunkan papan reklame.

Penjelasan ilmiah semacam ini perlu dikedepankan dalam proses edukasi pada masyarakat. Sialnya, para antirokok sangat giat membangun tembok tebal di antara nalar publik dan fakta ilmiah. Tujuannya jelas agar pemahaman masyarakat terus dalam kendali mereka, gagal membaca fenomena, kemudian digiring menuju jurang logika absurd yang paling dalam.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd