beli rumah

Benarkan Asap Rumah Tangga Berbahaya?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Lebay. Begitu istilah yang tepat buat mereka yang menuding asap rumah tangga yang berasal dari kayu bakar disebut-sebut sama membunuhnya dengan asap rokok. Pandangan lebay semacam ini jelas mendiskreditkan etos budaya di masyarakat kita. Lagi-lagi dalih kesehatan yang menjadi pembenaran atas pandangan tersebut.

Jauh sebelum kita mengenal kompor berbahan bakar minyak tanah ataupun gas, masyarakat Indonesia sudah lebih dulu dikenal menggunakan tungku berbahan bakar kayu dalam proses masak-memasak. Dapur tradisional yang disebut sebagai pawon merupakan representasi dari tata kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, baik dari tata letak, fungsi, serta isinya.

Penggunaan tungku tradisional dalam proses memasak tentu tidak hanya di kenal di masyarakat Jawa. Di Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua masih terbilang lazim menggunakan tungku tradisional yang oleh Kirk Smith disebut-sebut menghasilkan asap pembakaran yang tidak sempurna dan membunuh.

Setiap daerah di Indonesia melahirkan falsafah dan idiom yang berangkat dari realitas dapurnya. Seperti halnya falsafah satu tungku tiga batu di Papua yang merupakan simbol harmoni antar agama. Umur sila ketiga dari Pancasila terjaga baik karenanya. Artinya, realitas dapur tradisional memiliki arti penting dalam mencipta berkah sosial di masyarakat.

Baca Juga:  Isu Tembakau Bukan Dagangan Politik

Pandangan lebay dalam kuliah umum di FKM-UI yang disampaikan Kirk Smith, Direktur Kesehatan Global dan Program Lingkungan Masyarakat dari University of California pada waktu lalu. Boleh dikata adalah salah satu bentuk paranoia antirokok dalam mendiskreditkan kearifan lokal masayarakat kita. Beberapa alasan kesehatan yang dikemukakan di antarnya menyoal pula dampak kesehatan kognisi anak yang terpapar asap rumah tangga. Padahal jika memang benar begitu, tentu banyak tokoh pendiri bangsa kita yang mutu berpikirnya rendah dong. Ketahuilah, para tokoh bangsa terdahulu dibesarkan di lingkungan yang proses memasaknya masih menggunakan cara-cara tradisional lho, bos.

Sejarah mencatat para tokoh bangsa kita memiliki pemikiran yang briliyan dalam memperjuangkan harkat bangsanya. Iya dengan kata lain, Kirk Smith ini mungkin alpa membaca sejarah perjuangan bangsa ini yang juga dibahan-bakari semangatnya oleh dapur umum, selain itu Ia memang tidak dibesarkan di lingkung kebudayaan masyarakat kita. Khazanah etnografi masyarakat Nusantara yang kaya agaknya terabaikan oleh Direktur Kesehatan Global itu.

Dapur masyarakat tradisional kita juga sudah mengenal sistem ventilasi—yang ketika proses masak-memasak berlangsung asap pembakaran tersebut keluar melalui saluran ventilasi—biasanya berupa jendela sederhana yang letaknya tak jauh dari  tungku masak.

Baca Juga:  Yang Perlu Diperhatikan Pemerintah Sebelum Menaikkan Tarif Cukai Rokok

Pernyataan yang memang lazim disertai data-data itu sebetulnya tak jauh berbeda dengan cara-cara antirokok dalam mendiskreditkan rokok. Justru dari pernyataan Kirk Smith itu kita dapat membaca nilai apa yang tengah disasar oleh rezim standarisasi. Iya barangkali inilah konsekuensi yang harus dilalui oleh masyarakat dunia ketiga, bahwa hal-hal yang dianggap tradisional dan masih berakar perlu terus dimutakhirkan. Sehingga ‘pasar’ dalam definisi rezim standarisasi akan berjalan seturut kepentingan mereka.

Satu hal yang bikin miris kemudian, ketika kelak instalasi tungku tradisional harus dipunahkan karena semua orang dipaksa percaya dalih kesehatan yang lebay semacam itu. Kemudian harus beralih menggunakan bahan bakar gas atau lainnya. Sehingga kemudian kita akan kehilangan nilai kita yang Indonesia banget. Lalu kita hanya akan bisa mendapati simbol dapur itu dimanfaatkan oleh resto-resto ternama berskala internasional. Dengan kata lain telah terjadi akuisisi nilai.

Jadi begini, pandangan umum sering mengganggap masyarakat yang memasak dengan kayu bakar karena dilatari persoalan ekonomi. Penggunaan kayu bakar dianggap lebih murah dibanding penggunaan bahan bakar lainnya. Is oke. Tapi tidak sepenuhnya benar pandangan itu. Ada satu keyakinan yang berakar di masyarakat Nusantara dan itu memang perlu senantiasa terjaga, yakni terkait cita rasa. Melestarikan cita rasa masakan ini menurut saya adalah satu bentuk perjuangan yang tak kalah penting, sebuah cita rasa mengisyaratkan adanya identitas, mencakup karakter sosial di  dalamnya. Begitupula pada produk kretek, apa coba yang bikin kretek tetap dikenal dunia (dibenci dan dirindu) kalau bukan citarasanya. Perjuangan melestarikan citarasa adalah perjuangan mempertahankan identitas. Itu intinya.

Baca Juga:  Pengamanan itu Bagi Kami adalah Penindasan
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah