Menguji Konsep Thirdhand Smoker Ala Anti Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kalau ada kelompok yang nggak pernah naik kelas, kelompok itu adalah anti rokok. Maksudnya, isu dan kampanye anti rokok dari dulu, ya, begitu-begitu saja. Tidak ada inovasi. Hanya repetisi isu lama yang itu-itu saja. Salah satu isu yang kerap direpetisi adalah kampanye hoaks perokok pasif (secondhand smoker dan thirdhand smoker).

Ya, anti rokok memang mengklasifikasikan perokok ke dalam tiga jenis; firsthand smoker adalah perokok aktif, secondhand smoker adalah perokok pasif atau orang yang tidak merokok namun terdampak asap rokok, dan yang terakhir adalah thirdhand smoker, yaitu orang yang tidak merokok, tidak terpapar asap rokok, namun terdampak akibat dari perokok melalui berbagai media. Seaneh-anehnya konsep secondhand smoker, ya thirdhand smoker inilah yang paling aneh.

Betapa tidak, sangking nafsunya menyalahkan perokok, mereka memaksakan keterkaitan rokok dengan berbagai penyakit, dengan berbagai cara. Bayi atau anak kecil adalah orang-orang yang sering dijadikan contoh korban thirdhand smoker oleh anti rokok. Bayi dan anak-anak sering dikaitkan dengan berbagai penyakit akibat racun yang menempel di pakaian, bantal, atau pun kasur yang digunakan oleh perokok.

Baca Juga:  Sudah Tepatkah Penggunaan Dana Rokok Untuk Menambal Defisit BPJS?

Dalam konsep thirdhand smoker, para anti rokok membangun narasi bahwa racun dalam rokok akan mengendap di pakaian dan semua medium di sekitar perokok. Nah, racun yang mengendap inilah yang kemudian dihirup oleh bayi dan anak dari perokok. Kurang lebih begitu.

Perlu diketahui, sebelum menguji konsepsi thirdhand smoker, konsep secondhand smoker sudah lebih dulu tidak lulus uji. Konsepsi secondhand smoker atau perokok pasif merupakan kebohongan kampanye anti rokok. Istilah ini populer setelah adanya penelitian dari Environmental Protection Agency (EPA) atau Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat. Dalam laporannya, mereka mengklaim perkara perokok pasif merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, yang membunuh sekitar 3.000 non perokok Amerika setiap tahun akibat kanker paru-paru.

Kemudian riset dari EPA menuai kritik. Salah satunya oleh Congressional Research Service (CRS) USA. Pada November tahun 1995, CRS merilis laporan analisis kritis terhadap metode dan kesimpulan EPA setelah melalui studi selama 20 bulan. Kemudian pada tahun 1998, hakim federal menyatakan riset EPA batal dan tidak berlaku.

Baca Juga:  Menyoal Yogya Tertib Merokok

Selain itu, pada tahun 2003 British Medical Journal merilis sebuah makalah definitif tentang perokok pasif dan kematian akibat kanker paru. Dalam makalah ini, dilakukan penelitian yang melibatkan sekitar 35 ribu warga California yang tidak merokok. Hasilnya, tidak ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara paparan asap rokok terhadap orang yang tidak merokok dan kematian akibat kanker paru-paru.

Kedua penelitian di atas cukup untuk membuktikan bahwa konsep perokok pasif hanyalah akal-akalan anti rokok belaka.

Kemudian, dalam konsep thirdhand smoker, tar dituduh sebagai unsur dalam rokok yang akan mengendap. Tar jugalah yang dianggap sebagai racun yang mengintai bayi dan anak kecil sebagai korban thirdhand smoker. Padahal, tar adalah zat kimia yang dilahirkan dari proses pembakaran, yang artinya tar juga terkandung dalam sate dan ayam bakar, atau produk konsumsi lainnya yang dibakar.

Nah, meski tak lolos uji validitas dan terbukti hoaks, isu-isu tersebut direpetisi secara intens oleh anti rokok. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Hitler bahwa propaganda yang efektif dan berkelanjutan dapat membuat seseorang mengira surga adalah neraka, dan neraka adalah surga. Mungkin falsafah itulah yang diyakini oleh anti rokok.

Baca Juga:  RUU Pertembakauan dan Penguatan Nasionalisme Konsumen
Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd