Belajar Bijaksana Dalam Merokok dan Menegur Perokok

Perokok Cebong Dan Kampret Bersatulah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Entah dari mana istilah Cebong dan kampret itu bermula. Satu hal yang pasti, bahwa cebong merupakan sapaan akrab pendukung fanatik Jokowi. Sedangkan kampret sebutan bagi pendukung garis keras Prabowo. Keduanya kerap terlibat tawuran opini tak pernah berhenti sepanjang tahapan pemilu serentak dimulai.

Tak ada isu yang luput dari gorengan mereka sebagai amunisi perang opini di ruang publik. Tak peduli substansi lagi, karena bagi mereka yang utama hanyalah adu kuat-kuatan di sosial media.

Pihak-pihak yang tidak terlibat di urusan keduanya tentu merasa pengap dengan rebutan klaim paling benar dengan simbolisasi identitas politik masing-masing. Nyaris tak ada yang mau mengalah sekali pun salah.

Beragam argumentasi pembenaran dibangun secara sahih guna menutup celah kekurangan. Bahkan kutipan ayat suci kerap dijadikan legitimasi demi membenarkan tindakan politik yang jelas keliru.

Kini pemilu sudah usai. Secara umum pemilu serentak berlangsung aman tanpa letupan berarti meski ada sejumlah hal yang patut dievaluasi. Pemenang tinggal menunggu hasil rekapitulasi perolehan suara oleh KPU.

Baca Juga:  Cebong Dan Kampret Masih Tegang, Elit Politik Nyebats Bareng

Sudah ya sudah. Kamu yang pendukung 01 dan pendukung 02 jangan ribut lagi. Siapapun yang menang, kembali ke sila ke 3 (persatuan Indonesia). Lagu kebangsaan kita juga masih sama. Perbedaan itu jangan jadi ajang untuk perpecahan. Tapi sebagai ajang saling menguatkan.

Sudah saatnya kembali ke rutinitas seperti biasanya. Petani pergi ke ladang, nelayan kembali melaut, buruh kembali bekerja. Pulihkan kembali hubungan keluarga dan keluarga, tetangga dan tetangga, hubungan dengan teman yang sempat renggang mari dirajut kembali. Group-group whatsapp yang sebelumnya dibanjiri sama konten-konten yang bermuatan kampanye, mari kita isi dengan konten-konten yang lebih menyejukkan.

Bagi kami sebagai kretekus, jangan gara-gara pilpres kita lupa kapan terakhir merokok bareng. Jangan gara-gara pilpres kita lupa bahwa negara ini masih tidak ramah untuk para perokok di tempat umum dan tempat kerja. Jangan sampai euforia pilpres memengendurkan perjuangan atas hak-hak perokok.

Inilah momentum yang tepat bagi ‘Perokok Cebong dan Kampret’ bersatu. Derasnya kampanye pengendalian tembakau kian hari kian menyudutkan perokok. Seringkali perokok mengalami perlakuan diskriminatif seperti distigmakan sebagai orang pesakitan, biang keladi permasalahan kesehatan, dituding sebagai beban bagi anggaran kesehatan nasional, hingga tudingan kontroversial tidak berhak mendapat pelayan kesehatan.

Baca Juga:  Sudah Tepatkah Penggunaan Dana Cukai dan Pembetukan Tim Monev DBHCHT di Kabupaten Sumenep?

Sebab sampai dengan hari ini, perokok masih belum mendapatkan hak-hak perlindungan konsumen dengan baik, bahkan seringkali dipisahkan sebagai bukan dari golongan konsumen. Sehingga menimbulkan permasalahan-permasalahan yang disebutkan di atas tadi, terlebih dengan derasnya kampanye pengendalian tembakau yang kian meminggirkan hak perokok sebagai konsumen.

Muhammad Yunus

Mahasiswa UIN Jakarta doyan ngisap Rokok