Philip Morris Mengeluarkan Rokok Tanpa Asap, Dagelan Macam Apa Lagi?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Perkembangan tekhnologi memang menjadi sebuah keniscayaan. Berbagai produk-produk dengan keunggulan tekhnologi yang kian canggih kini dengan mudahnya kita temukan di pasaran. Berkembangnya tekhnologi memang selalu diikuti dengan dalih memudahkan kehidupan manusia, meski tak sedikit yang menyatakan bahwa ada dampak tertentu dari hal tersebut.

Hal yang paling mudah dilihat adalah dari pasar penjualan telepon genggam atau yang biasa di sebut handphone. Ketika Steve Jobs menemukan penemuan yang ia beri nama Iphone, kini telepon genggam tak lagi dimaknai hanya sebatas sebagai alat komunikasi. Munculnya Iphone kemudian merangsang perusahaan tekhnologi besar Samsung untuk merancang handphone yang fungsinya lebih lengkap. Saat ini kita tentu lebih mengenal smartphone, sebuah perangkat yang mampu menjawab kebutuhan hari-harian kita.

Ragam perkembangan tekhnologi tak hanya muncul di dunia perangkat komunikasi, dunia pertembakauan hingga rokok pun juga.  Di tanah air, sejarah tentang rokok mengalami distorsi yang luar biasa, padahal awal penemuan adalah sebagai bentuk pengobatan alternatif. Temabakau dengan cita rasa lokal menjadi sebuah identitas kenusantaraan yang sangat mendunia selain kopi dan rempah-rempah.

Baca Juga:  Persiapan Buleleng Menghadapi Musim Tanam Tahun Ini

Industrialisasi produk hasil tembakau yang ramai di tanah air rupanya cukup menggiurkan bagi pemain besar di dunia internasional. Bermula dari akuisisi perusahaan rokok besar asal Surabaya, Sampoerna oleh Philip Morris, kini cita rasa itu agak dipaksakan untuk mengikuti tren global. Tentu saja ada yang terisisihkan.

Tak cukup sampai disitu, kretek yang merupakan jati diri bangsa kini dihadapkan dengan pertarungan menghadapi anak baru kemarin bernama rokok elektrik atau yang mempunyai panggilan keren Vape. Penyebarannya disasar  kepada anak muda yang masih berkecimpung, tidak ngevape tidak keren katanya. Akan tetapi, rokok elektrik yang juga bagian dari sebuah inovasi tekhnologi itu juga menghadapi masalah klasik yang juga dihadapkan pada kretek, mereka dianggap sama-sama tidak menyehatkan.

Nampaknya, rokok elektrik dianggap tidak berhasil menghadapi pertarungan ekonomi di skala global. Awal kehadirannya, ia digaung-gaungkan dan didewa-dewakan serta diiringi narasi-narasi positif. Kini ia mulai dicampakkan, termasuk oleh ahli-ahli kesehatan yang seenaknya saja menciptakan label produk sehat atau tidak sehat demi keuntungan mereka. Apa itu berarti mereka sudah habis akal? Tentu tidak.

Baca Juga:  Konsolidasi Antirokok Berujung Monopoli, Demi Menguntungkan Siapa?

Beberapa berita terbaru menyebutkan bahwa muncul sebuah inovasi tekhnologi bernama iQOS, sebuah rokok tanpa asap. Bahkan disebut-sebut, iQOS kini lebih aman ketimbang Vape dan kini sudah mulai popular di negara asalnya yaitu Jepang. Satu fakta yang menarik selanjutnya adalah Philip Morris mengklaim produk tersebut hasil ciptaan mereka, meski di lain pihak klaim tersebut digugat oleh Japan Tobacco.

Meski gunjang-ganjing tentang klaim tersebut berada nun jauh di sana, dampaknya mulai terasa di Indonesia. Februari lalu, Sampoerna yang notabene kini telah dimiliki oleh Philip Morris menyatakan keinginan mereka untuk menarik produk iQOS untuk dibawa ke tanah air.  Kerangka regulasi dijadikan acuan mereka atas wacana tersebut padahal patut sama disadari bahwa regulasi tentang peraturan kawasan tanpa rokok di Indonesia masih belum selaras dan bahkan diterjemahkan berlebihan oleh para anti rokok.

Tentu hadirnya iQOS sejatinya adalah dagelan baru yang diciptakan oleh moralis kesehatan dan para anti rokok. Melihat ada keuntungan besar dalam industri produk hasil tembakau, tingkah mereka bak tikus yang menggerogoti demi keuntungan pribadi. Lagi-lagi, perkembangan tekhnologi dan isu kesehatan menjadi senjata ampuh yang mereka gunakan untuk melanggengkan produk-produk aneh mereka yang temporer di pasar tersebut. Sedangkan kretek, meski bertahun-tahun mendapatkan stigma buruk, sebagai identitas dan jatidiri bangsa, ia berdiri tegak terus di berbagai jaman.

Baca Juga:  Apa Masih Mau Menaikkan Tarif Cukai Rokok?

Setelah iQOS hadir, yuk mari kita bertaruh, produk apalagi yang akan mereka keluarkan?

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta