Warung rokok

Bukan Hanya Korek, Kini Rokok pun Jadi Target Pencurian

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Harus diakui, rokok adalah salah satu komoditas dengan prevalensi konsumen yang cukup tinggi di Indonesia. Rokok bisa dengan mudah anda temui di warung atau toko swalayan. Pun demikian halnya dengan orang merokok. Cukup mudah untuk menemui mereka di ruang publik. Saking besarnya jumlah perokok, tak jarang rokok jadi target para kriminal saat terjadi pencurian di warung.

Ya, dari sekian banyak barang konsumsi di warung atau toko, rokok kerap menjadi sasaran utama operasi pencurian. Tak tanggung-tanggung, beberapa media bahkan menggunakan diksi “spesialis pencuri rokok” untuk menyebut komplotan yang melakukan pembobolan/pencurian warung. Politik judul berita daring kian memperparah citra perokok di media.

Sebuah kisah memilukan terjadi pada 21 dan 22 Mei 2019 yang lalu. Jakarta tidak kondusif. Aksi massa yang berujung kerusuhan menimbulkan kerugian bagi beberapa pihak. Tak terkecuali Pak Usma, seorang pedagang warung kelontong yang sudah puluhan tahun berjualan di Jalan KH Wahid Hasyim, lokasi terdampak aksi. Barang dagangannya ludes dijarah massa yang mengamuk.

Baca Juga:  Benarkah FCTC Adalah Solusi Impor Tembakau di Indonesia?

“Rugi kurang lebih Rp 20 juta. Yang diambil rokok sama minuman dagangan. Rokok sisa dua bungkus dari awalnya banyak slop,” lirih Usma.

Lihat, rokok (juga minuman) nampak menjadi target penjarahan. Para penjarah hanya menyisakan dua bungkus saja untuk dijual oleh Pak Usma.

Tak hanya itu, sebuah kios di Pasar Wates disambangi pencuri, Jumat (24/5) dini hari. Ratusan bungkus rokok senilai puluhan juta rupiah hilang digondol pencuri.

Adalah Sumilah (62), pemilik kios yang dibobol. Ia baru menyadari kemalingan saat sedang membuka kiosnya pada pagi hari. Ketika hendak menata barang dagangan, Sumilah mendapati gembok kotak penyimpanan rokok sudah hilang. Pun sebagian besar rokok di dalam kotak juga sudah raib, terutama yang masih dalam slop.

“Rokok yang sudah tidak di dalam slop tidak ikut diambil. Hanya yang masih dalam slop utuh yang diambil,” jelas Sumilah.

Lagi-lagi, rokok jadi target pembobolan warung. Tanpa bermaksud membenarkan perilaku mencuri, fenomena di atas setidaknya membuktikan bahwa rokok sudah menjadi kebutuhan sebagian masyarakat Indonesia. Tapi kenapa harus mencuri? Kenapa tidak membeli?

Baca Juga:  Ancaman Perda KTR Yogyakarta dan Alasan Mengapa Semua Itu Tidak Bakal Efektif

Kita memang tidak bisa memastikan, apakah rokok yang dijarah dan dicuri tersebut untuk dikonsumsi langsung atau untuk dijual ulang. Tapi, menjadikan rokok sebagai target pencurian seolah menjadi sesuatu yang lazim belakangan ini. Bisa disebut, rokok adalah salah satu komoditas dengan value yang cukup tinggi di mata masyarakat saat ini.

Sebagaimana pepatah lama Kongo berbunyi: “Semakin besar pertempuran, semakin indah kemenangan”. Filosofi itu yang sepertinya jadi pedoman para pencuri rokok. Mungkin bagi mereka, rokok semakin nikmat kalau cara mendapatkannya penuh adrenalin seperti menjarah, bukan dengan membeli. Mungkin.

Yang pasti, fenomena pencurian rokok ini sudah melampaui fenomena terbesar sebelumnya. Di dunia kretekus, pencurian korek (curanrek) adalah fenomena yang hingga saat ini belum ditemukan solusi menanggulanginya. Dengan adanya fenomena pencurian rokok, tantangan kita jelas meningkat.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd