Bukan Rokok Penyebab Stroke, Pola Konsumsi yang Berlebihan Pencetusnya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kebiasaan merokok seringkali dipercaya sebagai pemicu berbagai penyakit mematikan. Penyakit stroke salah satunya. Oleh sejumlah ahli kesehatan, penyakit stroke kerap dihubung-hubungkan dengan kebiasaan merokok seseorang. Terlalu banyak informasi kesehatan yang di-framing menyasar hanya pada rokok dan kebiasaan merokok. Menyebut rokok sebagai biang kerok semua penyakit. Celakanya, masyarakat umum terlalu mudah percaya pula terhadap informasi semacam itu.

Tidak banyak informasi yang menyebutkan bahwa pola konsumsi yang berlebihan adalah pencetus munculnya beragam penyakit. Tingginya kadar kolesterol dalam tubuh akibat pola konsumsi yang serampangan termasuk penyebab terjadinya stroke. Namun sedikit sekali informasi kesehatan yang mengungkap akan hal itu. Pasti saja oleh kalangan kesehatan, rokok lagi yang dipandang sebagai satu-satunya penyebab.

Sedikit orang memang yang mengetahui bahwa persoalan obesitas memiliki andil besar terhadap terjadinya penyakit stroke. Stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terputus atau bisa disebut juga mengalami penyumbatan bahkan sampai mengalami pecahnya pembuluh darah. Jika banyak jaringan otak kehilangan pasokan darah sudah bisa dipastikan serangan stroke parah akan dialami seseorang.

Baca Juga:  Rokok Bukanlah Penyebab Tindakan Kriminal

Namun permusuhan sebagian kalangan terhadap rokok telah membuat publik lebih terhasut untuk membenci rokok. Sementara persoalan obesitas seakan luput dari pergunjingan sebagai salah satu penyebab stroke. Penting untuk diketahui, bahwa lemak plak orang yang gemuk dapat menempel di saluran pembuluh darah, lalu akan timbul penyumbatan aliran darah ke otak, dan terjadilah stroke yang berbahaya bagi tubuh.

Pola konsumsi yang berlebihan tidaklah terlalu menjadi bahasan dalam berbagai kesempatan. Persoalan obesitas yang kerap dialami masyarakat tidak jarang berujung stroke. Sama seperti jantung, penyakit stroke biasanya disebabkan oleh tingginya kadar kolesterol dalam darah dan tingginya tekanan darah dalam tubuh. Dan hal itu terjadi karena kebiasaan masyarakat mengonsumsi makanan berkolesterol dan kadar gula yang tinggi. Sekali lagi tidak ada hubungannya dengan rokok.

Justru tembakau yang merupakan bahan baku utama pada rokok mampu menekan risiko penyakit alzheimer dan parkinson. Seorang ilmuwan dari Harvard School of Public Health, Dr. Edward Uthman MD, pernah melakukan analisa data dari penelitian rekam medis terhadap 79.977 wanita dan 63.348 pria selama 9 tahun. Hasilnya, beliau mendapati fakta bahwa seseorang yang pernah merokok dan telah berhenti, berisiko terkena parkinson 22% lebih rendah dari yang tidak merokok, sedangkan yang masih aktif merokok 73% lebih rendah dari yang tidak merokok.

Baca Juga:  Mereka yang Melampaui Waktu, Budaya dan Perokok Perempuan

Namun hal ini bukan berarti rokok tidak memiliki faktor risiko, hanya saja sedikit orang yang mau bersikap adil. Sesungguhnya pola hidup yang seimbang itulah kunci untuk dapat hidup sehat. Lebih lanjut menyoal penyakit stroke yang belakangan mengemuka pada sejumlah berita kesehatan jelas sangat tidak proporsional. Mestinya jika memang mau bersikap adil, kemukakan juga bahwa makanan cepat saji dan alpanya seseorang dari kegiatan berolahraga itu berpotensi besar menimbulkan penyakit obesitas dan stroke.

 

Farhan Fuadi

Mahasiswa, aktif di Lingkar Studi Aksi untuk Demokrasi Indonesia. Karena urusan perut adalah yang utama, maka kedaulatan pangan perlu dijaga.