Para Pekerja di Seluruh Dunia, Sebats Dulu Lah!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ragam perayaan besar terjadi di tiap titik belahan bumi ketika menginjak tanggal 1 Mei. Tentu saja tangal pertama di bulan kelima dalam kalender itu merupakan hari yang sakral bagi bara kelas pekerja di seluruh dunia. Ibarat hari raya, jutaan buruh di berbagai negara akan turun ke jalan, merayakan harinya mereka sekaligus membawa spanduk-spanduk protes serta menyuarakan perlawanan bagi nasib mereka yang hingga saat ini masih belum menentu di bawah cengkraman kapitalisme.

Meski diidentikkan dengan hari istimewanya kaum kiri, sejarah lahirnya hari buruh sedunia justru diawali dari Amerika Serikat. Kala itu pada 1Mei 1886, sejumlah Serikat Pekerja di Amerika Serikat melakukan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut diberlakukannya 8 jam kerja setiap hari serta kenaikan upah yang layak. Aksi tersebut kemudian mendapatkan perhatian di seluruh dunia. Tiga tahun kemudian pada Juli 1989 kongres sosialis dunia di paris menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari buruh sedunia.

Kini setiap tahunnya, jalanan selalu dipadati oleh para pekerja di tanggal 1 Mei. Tuntutannya berbeda-beda di tiap negara, ada yang meminta kenaikan upah dan tak sedikit juga yang menuntut penghapusan sistem kerja outsourcing. Kendati demikian, keramaian selalu ada di jalan-jalan besar, dengan barisan massa dalam jumlah yang besar. Biasanya, selain ragam panji-panji dari tiap organisasi yang berkibar, banyak pula aksi kreatif yang mengundang perhatian, mulai dari teaterikal hingga dengan kostum-kostum yang menarik untuk disaksikan.

Baca Juga:  Ruang Merokok Adalah Wujud Nyata Penyetaraan Hak

Meski tiap tahun peringatan hari buruh selalu dirayakaan, namun nasib meraka masih belum terang. Tingkat penghidupan mereka yang layak masih menjadi pertanyaan. Boleh saja di beberapa daerah upah mereka sudah tinggi, namun berita soal kemiskinan buruh masih saja nongol di media. Produk yang mereka ciptakan boleh saja laku di pasaran atau bahkan nangkring di etalase mall-mall mewah. Mirisnya, harga tinggi dari produk yang mereka ciptakan, tak sebanding dengan gaji yang harus diterima.

Jika bicara ragam permasalahan yang menimpa para buruh, satu tulisan ini tak muat bahkan hanya untuk merangkumnya. Sangat banyak dan sangat pelik, apalagi terkait nasib perusahaan yang kadang tak menentu. Rumitnya jadi buruh yang bekerja di sebuah pabrik yang akan gulung tikar adalah jika di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) maka uang pesangonnya hanya sebatas ucapan mohon maaf dan terimakasih. Paling-paling hanya mampu untuk bertahan hidup selama dua bulan saja.

Di bawah derasnya tuduhan mengerikan dan semakin masifnya diskriminasi negara terhadap para perokok membuat industri hasil tembakau sedikit tergoyangkan. Ini bukan bicara soal industrinya, tapi ketika para antirokok itu selalu berbicara soal pekerja, maka penutupan pabrik rokok juga sudah tentu akan merugikan mereka.

Baca Juga:  Memperingati Hari Petani Tembakau dengan Pameran Kartun

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa ada sekitar 6,1 juta orang yang diserap dari hulu-hilir industri nasional rokok kretek nasional. Tentu bukan jumlah yang sedikit bukan apalagi cukai hasil tembakau juga jadi primadona bagi pemasukan negara.

Sedikit cerita saja, dalam dunia pertembakauaan ada keuntungan lebih yang didapat dari para buruh petani cengkeh. Dalam tulisan komunitas kretek sebelumnya, ada keuntungan sebesar 60 ribu dari aktivitas ngepik (proses pemilahan bunga cengkeh dari batangnya). Tentu ini menguntungkan mereka para buruh dan petani yang bergantung pada pertanian cengkeh tersebut.

Rokok juga jadi aktivitas yang melekat pada kehidupan buruh. Ibarat kata, produk tersebut dibuat oleh para buruh dan juga dinikmati oleh mereka sendiri. Mengisi waktu istirahat kerja yang cepat, sebatang atau dua batang rokok jadi teman setia setelah makan siang. Tentu naiknya harga rokok yang kian meninggi akibat regulasi pemerintah juga membuat mereka sedikit kesulitan.

Sebagai penutup sebuah tulisan, bagaimana pun juga buruh adalah salah satu kelompok penting dalam proyek pembangunan sebuah negara. Maka sudah pasti harusnya keberadaan dan kesejahteraan mereka mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah maupun industrinya.

Baca Juga:  Omong Kosong Soal Pengendalian Rokok
Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta