Siasat Dagang Rokok Elektrik Memanfaatkan Resonasi Berita Dan Momentum Ramadhan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rokok elektrik atau vape beberapa waktu ini mendapatkan porsi bahasan tinggi oleh kelompok antirokok. Wacana-wacana diproduksi dengan tujuan untuk membuat regulasi yang secara langsung membedakan posisi rokok dan vape di masyarakat. Termasuk wacana soal rokok elektrik itu lebih sehat ketimbang rokok.

Momen bulan puasa seperti saat ini pun tak dilewatkan menjadi tunggangan antirokok. Terutama dalam melariskan paradigma hidup sehat dengan langgam hijrah dari rokok. Iya bagi saya itu hanya komodifikasi bahasa belaka. Pada intinya demi meraup keuntungan dari bisnis nikotin.

Selama ini, masyarakat melulu disuapi dengan wacana yang sama, baik soal vape dan pardigma sehat yang seragam. Selalu memusuhi rokok sebagai biang kerokok segala penyakit. Tujuannya jelas sudah, mengubah pasar konsumen Indonesia yang masih terbiasa dengan kretek. Agar pasarnya bisa berubah ke rokok elektrik, tentu itu diperlukan strategi untuk mengubah paradigma konsumsi masyarakat. Begitulah cara-cara yang mereka lakukan.

Sebagai catatan tambahan, belakangan ini pemerintah Selandia Baru bahkan merekomendasikan rokok elektrik sebagai salah satu solusi bagi perokok. Departemen Kesehatannya pun menilai rokok elektrik harus segera dikomunikasikan kepada publik sebagai produk yang lebih rendah risiko dibanding rokok. Tidak tanggung-tanggung pemerintahnya juga menyiapkan laman khusus yang menawarkan informasi dan tips tentang rokok elektrik, mulai ditayangkan pada bulan ini.

Baca Juga:  Kami Berjalan di Atas Tanah Sendiri, Dengan Kaki Sendiri

Sementara di Indonesia usaha untuk mendorong rokok elektrik terus gencar dikampanyekan. Mulai dari melibatkan akademisi juga institusi pendidikan ternama, terkesan betul ada usaha untuk mengelola kontroversi terhadap rokok elektrik, yang kerap menggunakan embel-embel kesehatan.

Menanggapi perkembangan yang terjadi di “Negeri Kiwi”, Aryo Andrianto, Ketua Gerakan Bebas Tar dan Asap Rokok (GEBRAK) bersama Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), meminta Kementerian Kesehatan untuk terbuka dalam melihat potensi produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik, dalam memberikan solusi bagi perokok untuk berhenti dan dapat mengikuti jejak Selandia Baru.

Industrialisasi produk hasil tembakau memang cukup menggiurkan bagi pemain besar di dunia internasional. Termasuk pula di Indonesia. Bermula dari akuisisi perusahaan rokok besar asal Surabaya, Sampoerna oleh Philip Morris, kini cita rasa itu agak dipaksakan untuk mengikuti tren global. Tentu saja ada yang terisisihkan. Kabarnya bakal segera pula meluncurkan produk rokok eletrik terbaru.

Dari nuansa itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa apa yang tengah dimainkan rezim antitembakau sudah semakin terbuka saja. Bahwa dalih kesehatan yang diangkat selama ini tak lain hanya untuk melariskan produk rokok elektrik. Pikiran publik terus dipaksa percaya pada paradigma ‘rendah risiko’ yang diasosiasikan sebagai produk yang lebih sehat. Padahal di balik itu semua, dan tentu bukan rahasia umum lagi, dampak yang ditimbulkan dari mengonsumsi rokok elektrik tercatat telah menimbulkan banyak korban.

Baca Juga:  Hari Perempuan Sedunia: Tuntutan Hak Perempuan dalam Merokok
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah