Lebaran Dan Kesantunan Sebagai Perokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pada momen kumpul-kumpul lebaran dimana kita bertemu saudara dari keluarga ibu ataupun ayah. Dari mulai keluarga baru bahagia hingga keluarga yang sudah meminang cucu banyak, sampai-sampai tiap tahun pasti ada cucu maupun canggah baru yang bermunculan. Semua berkumpul di dalam satu tempat, entah rumah nenek ataupun kakek. Saya sendiri tidak tahu pasti kenapa rumah nenek dan kakek saya sendiri terpisah, mungkin punya kilas sejarah yang cukup rumit. Ufp. Namun bukan hal itu yang ingin saya ceritakan, melainkan pada momen berkumpul lebaran ada yang seharusnya saudara-saudara saya perlu ketahui, yakni terkait norma baik sebagai perokok santun

Tentu tidak hanya saudara sepupu dan keponakan yang sudah dewasa saja yang terlihat gemar merokok. Secara turun temurun ada saja memang yang mewarisi habit merokok dalam satu keluarga. Tingkat pertama dimulai dari kakek, turun ke para bibi dan paman, lanjut kepada para keponakan yang telah dewasa, di antaranya pula saya, dan terakhir berujung pada si cucu yang baru menginjak fase dewasa dan sudah memiliki status pekerjaan.

Baca Juga:  Sandiaga Uno dan Janji-janji Mulianya Tentang Tembakau

Pada hari raya itu, saat berkumpul bersama dengan keluarga besar masih terlihat saudara yang menghisap rokok serta menghembuskan asapnya ngasal seenak jidat, tidak tahu sedang berada dimana dan dengan siapa, hal itulah yang harus sama-sama kita ketahui, bahwa merokok tidak boleh asal di sembarang tempat.

Hal pertama yang perlu dihindari adalah, jika di sekitar sedang ada banyak keponakan atau pula para cucu yang masih imut dan gemesin. Kita sebagai perokok sebaiknya jangan merokok di dekat mereka. Boleh dekati asal jangan merokok, beri saja yang umumnya mereka sukai dan yang biasanya diharap-harap. Ya, kalian tahulah itu, persenan lebaran yang paling mareka tunggu-tunggu.

Kedua, kalau sedang bersama para orangtua sebaiknya kita harus kenali terlebih dahulu mana para orangtua yang perokok atau yang tidak suka dengan asap rokok. Ataupun malah justru ada orangtua yang baru melihat kita mau membakar rokok saja sudah sigap menutup hidung dan mulut rapat, seraya menunjuk ke arah pintu; isyarat penolakan tegas. Beri senyum manis pada mereka dan segeralah pergi ke arah pintu keluar.

Baca Juga:  Kretek Dalam Pandangan Hukum (bagian-1)

Terakhir, jika momen berkumpul bersama seperti ini ingin lebih berkualitas, maka untuk para perokok ada baiknya mencari tempat yang asyik dan nyaman, cukup cari tempat yang lumayan agak jauh atau cari tempat yang biasanya dulu sering menjadi tempat berkumpul semasa kecil, di teras ataupun di pekarangan. Dengan seperti itu minimal sedikit melepas rasa rindu, bernostalgia kembali membahas masa-masa kecil ketika dulu bersama.

Masih banyak yang saudara-saudara saya belum ketahui kalau sebetulnya dalam merokok itu ada etikanya juga, pada hari raya Idul Fitri kemarin misalnya, tentu kita bertemu dengan banyak saudara yang masih berusia dini. Lantas kita dengan seenaknya merokok di dekat mereka. Nah, hal inilah yang kita perlu ketahui bersama, bahwa itu tindakan yang tidak dianjurkan oleh siapa pun, tentu akan menimbulkan risiko bagi mereka.

Saya sendiri sebagai perokok akan bangga jika penerapan perokok santun ini berhasil menjadi satu kesadaran yang dapat memberi teladan bagi pihak lain, dengan sendirinya pandangan buruk akan perokok tidak selamanya buruk, dengan menghargai mereka yang tidak seharusnya terpapar asap rokok, itu tandanya kita sudah berlaku santun, setidaknya kesantunan itu dapat mengambil hati mereka. Ya, syukur-syukur kita dihargai kembali. Diberi uang THR-an lebih.

Baca Juga:  Gas Radon Pencetus Kanker Paru, Mengapa Harus Selalu Rokok yang Disalahkan?
Muhammad Yunus

Mahasiswa UIN Jakarta doyan ngisap Rokok