Jangan Lagi Sebut Rokok Adalah Candu

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kalau ada yang bilang rokok adalah candu dan masuk kategori zat adiktif itu keliru dan salah kaprah. Aktivitas merokok bisa ditinggalkan. Contoh, saat bulan puasa banyak perokok dapat tidak merokok selama satu hari penuh, mereka tidak sakaw dan kejang-kejang.

Saya ibaratkan merokok sama dengan makan nasi. Kalau ada orang tidak kenyang jika tidak makan nasi, apakah ia termasuk kategori bahasa kecanduan? Kecanduan dalam arti keinginan makan nasi bagi mayoritas orang bisa dipastikan jawabannya.

Ada kelompok minoritas, yang gak makan nasi bahkan tidak doyan sama sekali. Ia tiap harinya hanya makan sayur sayuran, makan mie instan, makan buah buahan dan lain sebagainya.

Ada juga orang yang belum makan nasi rasanya belum puas, atau bahkan badannya gemetaran. Sekali lagi pertanyaan, apakah keadaan ini, masuk kategori kecanduan? Sehingga nasi masuk daftar sebagai zat adiktif?

Tentu tidak, makan nasi sebenarnya adalah pilihan, tidak makan nasi pun tidak mengapa. Itu hanya soal kebiasaan. Semua kebiasaan kalau dimasukkan kategori kecanduan, itu hal yang tidak tepat. Karena orang mempunyai kebiasaan adalah wajar, karena semua manusia punya akal pikiran yang memutuskan punya keinginan.

Tanpa keinginan, manusia dianggap tidak wajar, bahkan tidak waras.

Seperti halnya, aktivitas merokok itu hanya merupakan keinginan dan bisa ditinggalkan (tidak mencandu), dan jauh dari sifat adiktif.

Jika rokok dikategorikan mengandung zat adiktif, adalah tuduhan yang tidak beralasan. Hanya dipaksakan, tujuannya agar rokok tidak boleh dikonsumsi, terutama rokok kretek.

Dalam PP 109/012, rokok dimasukkan kategori barang yang mengandung zat adiktif. Kira kira penjelasannya, kalau tidak merokok, perokok merasa galau, merasa bingung dan sebagainya.

Hal ini tidak benar adanya, bisa ditanya ke para perokok, apakah kalau tidak merokok badannya kacau?. Saya pastikan jawabannya tidak.

Mereka yang merokok, pada dasarnya hanya keinginan untuk rekreasi dan relaksasi. Dalam keadaan apapun, sekalipun tertekan, teman sejati perokok ya rokok itu sendiri. Dan bahkan tidak sedikit, perokok bisa memunculkan ide ide cemerlangnya, saat merokok.

Ada cerita dari orang yang tiap harinya bekerja sebagai desain grafis dan percetakan, panggilan akrabnya Irwan asli Bandung, ia menggeluti pekerjaannya sudah hampir 30 tahun. Banyak orang yang memakai jasanya.

Saat akhir tahun, ia sering mendapatkan pesanan mencetak kalender. Dan kebanyakan pemesan pasrah sampai pada desainnya. Pemesan hanya memberikan bahan materi beberapa foto, kemudian olah desain pasrah sama irwan.

Dibulan bulan akhir tahun inilah, temenku Irfan sering mengalami stres (bukan arti sakit jiwa bikin gila permanen). Ia stres harus mengolah waktu, dan pikiran.

Masalah cetak ia biasa dibantu karyawannya berjumlah 6 orang. Tetapi masalah desain ia kerjakan sendiri. Karena banyak orang cocok dengan karyanya dan tidak mau digantikan dengan orang lain. Saat ia memunculkan ide ide pikirannya ada beberapa cara:

Pertama: pergi ketempat yang tenang sambil berpikir, bahasa sederhananya refresing atau rekreasi sambil kerja. Metode ini ia aku harus mengeluarkan rupiah lumayan gede untuk transportasi dan makan.

Kedua: merokok, ia akui lebih irit, bisa dilakukan di rumah, bahkan terkadang bisa dilakukan sambil bekerja membuat desain. Terlebih lagi menurutnya, lebih enak mikir saat beol sambil merokok. 

Maaf pembaca agak jorok, tetapi ini betulan apa yang telah di utarakan Irfan begitu adanya. Dan banyak orang ternyata juga mengalami kenikmatan tersebut.

Rokok bukan candu, bukan barang yang mengandung zat adiktif. Kalau ada yang bilang sebaliknya, mereka belum pernah merokok. Kalau pingin kebenaran coba merokoklah, maka anda akan menjadi orang yang bijak.

Baca Juga:  Kretek dan Cita Industrialisasi Indonesia (Bagian 2)
Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta