Agenda Bloomberg Initiative dan Tuduhan Eksploitasi Anak Pada PB Djarum

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Berhembusnya isu eksploitasi anak yang dialamatkan pada PB Djarum belakangan ini bikin saya jadi tepuk dengkul. Lantaran, logika yang dipakai oleh mereka para pendaku kepedulian pada persoalan anak memiliki kadar kengawuran luar biasa. Kenapa begitu? Iya karena mereka hanya menyasar yayasan PB Djarum yang diasosiakan sebagai baju lain dari pabrik rokok.

PB Djarum yang selama ini concern membina bibit-bibit muda dalam meraih prestasi di bidang badminton, oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Yayasan Lentera Anak, dituding telah melakukan tindakan eksploitasi anak melalui ajang pencarian bakat. Padahal kalau mau ditilik lagi, banyak ajang pencarian bakat yang menjadikan anak di bawah umur sebagai komoditas pendulang rating.

Pertanyaannya, apakah yang dilakukan PB Djarum itu salah? Hanya karena penggunaan logo yayasan yang mirip secara desain tapi berbeda secara prinsip? Lalu kenapa mereka tidak menyasar ajang ‘eksploitasi’ lain selain yang dilakukan oleh PB Djarum?

Gampangnya begini, yang menjadi target bidik mereka sesungguhnya lebih pada upaya menggolkan target dari kepentingan tertentu. Kepentingan tersebut bertolak dari framing isu kesehatan yang selama ini mendiskreditkan rokok sebagai biang kerok dari kemerosotan prestasi anak. Jika demikian, apa motif dari tujuan dari kepentingan tersebut? Jelas menyasar industri rokoknya.

Baca Juga:  Agar Lebih Dihargai oleh Mereka yang Tidak Merokok

Adakah penyokong modal dibalik agenda mereka yang selalu mengandalkan dalih kesehatan atas segala hal yang berhubungan dengan rokok? Jelas ada.

Sebagaimana kebiasaan kampanye mematikan kretek, bahasa tuduhan yang dipakai KPAI dan Lentera Anak lewat berbagai media kerap berbunyi; “diduga adanya tindakan eksploitasi anak untuk promosi produk rokok”. Lantas dengan tegas hal itu dijawab oleh pihak Djarum Foundation, Budi darmawan, bahwa kegiatan audisi umum bulutangkis secara tegas tidak atau kampanye rokok. Karena memang tidak terkait dengan merek rokok.

Hal ini, tentu saja, baru dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Terutama, setelah datangnya dana dari lembaga donor, barulah mereka ‘bekerja’ dengan kampanye-kampanye semacam ini. Berdasar telisik singkat melalui situsweb Bloomberg Initiative, terdapat kesepakatan untuk menjalankan target menghapus peran industri rokok di Indonesia demgan Yayasan Lentera Anak. Fokus program ini: Baik mematikan segala iklan dan promosi rokok.

Pada noktah kesepakatan itu tercantum pula kontrak yang dimulai sejak Maret 2019 dan akan berakhir pada Februari 2020. Target yang diemban oleh Lentera Anak akan menyasar pada kampanye-kampanye terkait perlindungan anak, seperti pada kasus PB Djarum ini. Kalaupun akan ada yang bilang wajar LSM menerima dana dari funding, di titik itu juga kita masyarakat bakal mewajarkan kalau wacana dan tuduhan terhadap PB Djarum adalah pesanan. Semua dilakukan  untuk memenuhi target keesepakatan dengan Bloomberg Initiative belaka.

Baca Juga:  Kita Hanya Tiada Mengerti: Kampanye Kesehatan Anti-Rokok
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah