Gas Radon Pencetus Kanker Paru, Mengapa Harus Selalu Rokok yang Disalahkan?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rokok seringkali dicap biang kerok dari segala penyakit. Termasuk penyakit kanker paru. Sebagian masyarakat mengamini cap negatif itu. Bahkan perokok terus saja dirisak sebagai pesakitan oleh para pembenci produk legal tersebut. Perokok distigma sebagai biang pemapat penyakit bagi lingkungannya sehingga perlu direhabilitasi. Kampanye kesehatan yang kelewat diskriminatif itu kerap memainkan peran penting dalam membentuk opini di masyarakat.

Lebih spesifik terkait penyakit kanker paru misalnya, sedikit sekali informasi kesehatan yang mengangkat faktor lain di lingkungan yang dapat memicu munculnya kanker paru. Hampir rata-rata para ahli kesehatan menyebut adanya lingkungan yang tak sehat karena terdapat aktivitas merokok di lingkungan itu. Salah satunya aktivitas merokok di dalam rumah.

Bilamana ada satu anggota keluarga kita yang terkena kanker paru, lantas saja rokok yang disebut sebagai biang keroknya. Hal ini bukan berarti merokok di dalam rumah tidak membawa risiko. Sebagaimana produk konsumsi lainnya, rokok juga memiliki faktor risiko.

Namun sebuah fakta menyebutkan, bahwa salah satu pencetus kanker paru yang perlu diwaspadai adalah keberadaan gas radon. Apa itu gas radon, dari mana gas radon berasal, bagaimana bisa gas semacam itu menjadi pencetus kanker? Mungkin itulah sederet pertanyaan mansyarakat umum yang tidak ngeh dengan keberadaan gas radon di sekitarnya. Padahal informasi terkait bahaya gas tersebut sangat mudah dicari, layaknya kita ingin mencari gosip artis terbaru di internet.

Baca Juga:  Kemana Uang Hasil Tembakau?

Jadi begini, dari sekian banyak sumber-sumber radiasi alam, radon merupakan sumber radiasi alam yang paling banyak mendapatkan perhatian di beberapa negara maju, sehubungan dengan efek negatif yang dapat ditimbulkannya. Efek ini berkaitan dengan sifat gas radon sebagai salah satu penyebab munculnya kanker paru-paru.

Efek merugikan dari radiasi yang dipancarkan gas radon ini sebetulnya telah diketahui sejak abad ke-19. Pada saat itu para pekerja tambang di Eropa Tengah banyak yang menderita gangguan kesehatan berupa kanker paru-paru karena diduga menghirup gas radon dalam jumlah berlebihan. Hasil penelitian yang dilakukan pada pertengahan abad ke-20 terhadap para pekerja tambang batubara ternyata memperkuat dugaan tersebut.

Bagi beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang dan negara-negara Eropa Barat, masalah gas radon ini telah mendapatkan perhatian yang serius. Pemerintah Australia misalnya, melalui Commonwealth of Health, Housing and Community Services telah membuka pusat-pusat informasi mengenai gas radon ini di setiap negara bagian.

Hal itu dimaksudkan agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang tepat mengenai risiko yang dapat ditimbulkan oleh gas radon tersebut. Pemerintah Amerika Serikat dan Jepang juga telah memetakan daerah-daerah dengan kadar gas radon tinggi.

Baca Juga:  Andai Susi Pudjiastuti Jadi Calon Presiden

Gas radon di dalam rumah terutama berasal dari tanah, dinding, lantai, langit-langit dan bahan-bahan lain di dalam rumah yang berasal dari perut bumi. Ini yang jarang sekali kita ketahui. Sumber utama gas radon di lingkungan kita adalah zat-zat radioaktif alamiah seperti uranium-238 dan thorium-232.

Kedua unsur tersebut dalam kadar yang relatif tinggi terdapat pada bahan-bahan tambang. Oleh sebab itu, penggunaan bahan tambang dan bahan-bahan sisa hasil pengolahan bahan tambang sebagai bahan bangunan untuk perumahan maupun gedung dapat memperbesar kadar gas radon di dalam ruangan.

Sudah bukan rahasia, bahwa di pasaran beredar beberapa jenis bahan bangunan yang dibuat dari bahan tambang maupun sisa pengolahan bahan tambang yang kemungkinannya berkadar radioaktif alam tinggi. Karena itu, diperlukan penelitian menyeluruh mengenai tingkat radioaktivitas bahan-bahan bangunan yang telah beredar dan digunakan secara luas oleh masyarakat, untuk mengatahui dan mengantisipasi dampak negatif yang dapat ditimbulkan.

Di tengah banyaknya tudingan negatif akan bahaya rokok bagi kesehatan, sedikit sekali pihak yang mengangkat fakta tentang bahaya gas radon. Sebagai salah satu faktor penyebab kanker paru, mestinya fakta ini diinformasikan juga ke publik.

Baca Juga:  Mengapa Rencana Kenaikan Tarif Cukai Rokok Harus Ditolak?

Utamanya di lingkungan kita, seringkali kita menganggap sepele juga terhadap unsur bangunan yang digunakan untuk hunian maupun kantor. Celakanya lagi, para pihak yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan masyarakat nyaris tidak pernah mengungkap fakta ini. Bahwa ada ancaman lain yang membawa risiko kesehatan selain perkara rokok.

Naomi Harley, profesor peneliti kesehatan lingkungan di Universitas New York, mendapatkan bahwa 60 persen gas radon di dalam rumah di New Yersey berasal dari dinding, fondasi dan lantai. Kadar gas radon di dalam rumah cukup bervariasi bergantung pada asal material bahan bangunannya. Kadar gas radon di dalam ruangan tertutup seperti rumah, apartemen, terusan bawah tanah dengan ventilasi sedikit, biasanya beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kadarnya di dalam udara bebas.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah