PB Djarum dan KPAI

Masyarakat Marah Pada KPAI Bukan Karena Rokok, Tapi Karena Persoalan Masa Depan Bulu Tangkis Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kemarin (9/9), seharian penuh masyarakat melampiaskan kemarahannya pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia terkait pamitnya PB Djarum dari ajang pembibitan atlet bulutangkis Indonesia. Hal ini terjadi karena desakkan KPAI yang meminta PB Djarum menghentikan audisi atlet mereka, hingga audiensi berujung deadlock antara kedua pihak. Pamitnya PB Djarum kemudian membuat masyarakat harap-harap cemas terhadap nasib cabang olahraga paling berprestasi dan membanggakan rakyat Indonesia.

Argumen KPAI dalam tudingannya menyebut jika PB Djarum telah melakukan promosi rokok dengan memanfaatkan anak-anak dalam kegiatan olahraga. Pihak KPAI dan Yayasan Lentera Anak menilai ajang audisi tersebut telah melanggar regulasi tentang pengendalian tembakau yang ada. Lebih seriusnya lagi, mereka menyatakan jika audisi atlet PB Djarum adalah eksploitasi anak terselubung.

Banyak pihak yang menyesalkan sikap KPAI dan Yayasan Lentera Anak terkait kekisruhan ini. Bukan apa-apa, argumen mereka yang terbilang cacat logika itu secara langsung telah mengebiri masa depan anak-anak bangsa dalam meraih prestasi di dunia bulu tangkis. Mematikan mimpi anak-anak Indonesia untuk menjadi atlet profesional yang bisa membanggakan bangsa dan negara.

Baca Juga:  Ideologi di Balik Rokokku

Bulu tangkis adalah olahraga yang memberi kebanggaan tersendiri bagi bangsa ini. Sebagian besar masyarakat menilai persoalan ini bukan lagi soal rokok dan kekisruhan lain yang melatarinya. Melainkan sudah menyangkut marwah suatu bangsa. Seperti yang kita ketahui, prestasi yang dihasilkan dari dunia bulu tangkis di Indonesia berbeda dengan kenyataan dunia sepak bola.

Semangat patriotik masyarakat pendukung bulu tangkis memang tidak bisa disamakan dengan semangat pendukung sepak bola nasional. Prestasi buruk yang dialami Timnas bisa berdampak langsung terhadap PSSI, sedangkan dalam bulu tangkis hal itu tak terjadi demikian. Warganet menjadi geram karena melihat apa yang dilakukan oleh PB Djarum selama 50 tahun terakhir telah menghasilkan sejumlah nama atlet bulu tangkis yang mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Setidaknya ada 5 nama legenda pebulutangkis Indonesia yang telah mencatatkan prestasi gemilang dalam sejarah. Salah satunya adalah Susi Susanti, yang pada kesempatan konferensi pers lalu turut memaparkan pandangan dan pengalamannya selama atas dedikasi PB Djjarum, sehingga dapat melahirkan banyak nama atlet muda berprestasi. Jauh dari yang ditudingkan pihak KPAI terkait eksploitasi anak yang pula dikaitkan dengan kepentingan pabrik rokok.

Baca Juga:  Jurus Kemenkes Menumbalkan Perokok Demi Merasionalisasi Duit Cukai Rokok

Kegeraman masyarakat dalam melihat kenyataan ini didasari oleh pertanyaan kritis menyoal minimnya perhatian pihak lain yang berkompeten dalam upaya pembinaan anak-anak bangsa dalam meraih prestasi olahraga, terutama di bidang bulu tangkis. Ketika sepak bola Indonesia dan PSSI gagal melakukan pembinaan terhadap anak-anak Indonesia, masyarakat cenderung tidak peduli. Malah, jika tim nasional gagal, dorongan agar sepak bola Indonesia dibekukan FIFA biasa diembuskan masyarakat.

Namun bulutangkis adalah urusanlain, ini sudah menyangkut marwah olahraga yang digandrungi masyarakat. Ada banyak anak Indonesia menautkan harapannya pada bulu tangkis. Hampir semua masyarakat Indonesia menaruh harapan besar pada cabang olahraga ini.

Pasca pamitnya PB Djarum kemarin, Menteri Pemuda dan Olahraga turut menyatakan pula sikapnya. Menurutnya tidak ada yang salah dari ajang audisi PB Djarum. Meski pada ujungnya menyayangkkan langkah pamit yang diambil PB Djarum.

Beragam ekspresi warganet yang terlontar di media sosial tentu bukan semata kemarahan pecinta bulu tangkis, tetapi pula masyarakat yang lebih luas. Masyarakat menjadi sangat kecewa atas tersingkirnya akal sehat dari kepala mereka yang mendaku peduli terhadap persoalan anak-anak Indonesia. Pasalnya, masyarakat tahu ada perkara yang lebih krusial dan lebih tepat dikatakan eksploitatif, namun itu terabaikan dari kerja-kerja lembaga semcam KPAI.

Baca Juga:  Raisa Himbau Perokok untuk Lebih Peduli Lingkungan
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah