Perempuan Diperbudak Industri, Salah Paham Gustika yang Tak Paham Soal Kretek

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Menjadi perokok di Indonesia itu sulit. Apalagi jika yang merokok itu perempuan. Sudah harus bayar mahal dan mau konsumsi dimana susah, harus juga menerima stigma buruk karena merokok. Katanya emansipasi, kesetaraan gender, tapi merokok aja diejek.

Yang lebih buruk, perempuan merokok kok ya dianggap diperbudak industri rokok. Sudah begitu,  yang bicara tentang hal kayak gini ya perempuan juga. Adalah Gustika, cucu dari salah satu pendiri bangsa kita yang bicara demikian. Katanya, Ia tak mau perempuan diperbudak indusri rokok. Nggak tahu aja dia kalau industri rokok justru yang banyak membutuhkan perempuan.

Sejarah kretek itu sejarahnya perempuan. Soekarno bisa kenal sama Nitisemito itu ya karena ada Nasilah di belakang sang raja kretek. Tanpa Nasilah, Nitisemito tidak akan jadi raja kretek, tidak akan memiliki pabrik kretek. Karena memang Nasilah lah yang memulai fondasi bisnis kretek, barulah kemudian Nitisemito yang melanjutkan.

Asal tahu saja, Gustika, tanpa keberadaan perempuan industri kretek tidak akan pernah maju. Dan mereka yang bekerja bersama kretek bukanlah budak, tapi individu-individu hebat yang bukan cuma mencari uang, tetapi juga menghidupi keluarganya. Tahukah mereka yang nyinyir ini, kalau pekerja perempuan di industri kretek jumlahnya lebih besar daripada laki-laki?

Baca Juga:  Pembuktian Kuba soal Tembakau dan Kesehatan

Tidak hanya itu, bagi sebagian besar keluarga pekerja perempuan industri kretek, mereka adalah pahlawan bagi keluarga. Ketika penghasilan para lelaki dirasa tak mencukupi penghidupan, maka perempuan banting stir menjadi pekerja. Menjadi ibu rumah tangga sekaligus pekerja. Mencari tambahan uang, yang pada sebagian kasus justru mendapatkan porsi upah lebih tinggi dari sekadar tambahan.

Bagi banyak orang, kesetaraan gender dan emansipasi bagi perempuan masih merupakan mitos. Namun, di industri kretek, para pekerja perempuan punya posisi tawar lebih di hadapan lelaki, juga di dalam keluarga. Mereka bukan hanya pelengkap, bukan sekadar mengurusi rumah tangga, tetapi juga mencari penghidupan. Di industri kretek inilah kemudian martabat mereka sebagai perempuan dinaikkan.

Karenanya ketika ada anggapan kalau di Indonesia perempuan itu diperbudak oleh industri rokok, saya kira orang tersebut tidak betul-betul paham soal kretek dan sejarahnya. Sekali lagi, sejarah kretek di Indonesia adalah sejarahnya perempuan. Nasilah dan Roro Mendut adalah bukti bahwa perempuan justru memegang peran penting dalam urusan kretek.

Baca Juga:  Benarkah Berhenti Merokok itu Sulit?

Kalau memang selama ini perempuan dianggap diperbudak oleh industri karena merokok dan bekerja di pabrik kretek, lantas mau disebut apa mereka yang bekerja di industri garmen? Perempuan merokok itu adalah hak, dan tidak sepantasnya seorang perempuan menghakimi pilihan hidup perempuan. Apalagi, ketika perempuan itu banyak bicara soal kesetaraan gender.

Ada banyak teman lelaki saya yang tidak suka kalau perempuan merokok, walau kemudian mereka ya merokok juga. Anggapan seperti ini memang menunjukkan kalau budaya patriarki di masyarakat kita masih terlalu tinggi. Sialnya, kini bukan hanya lelaki yang punya cara pikir seperti itu, tetapi juga perempuan macam Gustika, yang tidak paham soal kretek dan tidak suka kalau perempuan mengekspresikan dirinya sebagai perokok. Yang begitu kok bisa-bisanya ngomongin hak perempuan.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit