kretekus

APCAT 2019: Pesta Pora Antirokok atas Penderitaan para Kretekus

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ratusan orang dari delegasi 12 negara hadir langsung di Bogor, Jawa Barat untuk mengikuit kegiatan Asia Pacific Cities Alliance for Tobacco Control and NCDs Prevention (APCAT) 2019. Tentu dari namanya saja acara ini bermaksud untuk membahas pengendalian tembakau di negara-negara Asia Pasifik. Layaknya acara-acara yang memang sudah diselenggarakan sebelumnya dengan tema pengendalian tembakau, acara ini memang mirip perayaan pesta hura-hura atas diskriminasi para antirokok kepada para kretekus.

Kita tentu tahu apa isi acara tersebut, pembahasan soal pengendalian tembakau tentu hanya sekedar agenda seremonial belaka. Strategi soal pengendalian tembakau yang mereka bahas sudah barang tentu hanya memenuhi ego mereka para antirokok. Nyaris tak ada sifat kompromi yang mereka bahas dalam pengendalian tembakau. Sisanya? Dansa-dansi sambil menikmati keramah-tamahan warga Bogor.

Delegasi dari berbagai negara tersebut dihibur dengan berbagai sambutan dan agenda-agenda hiburan budaya. Kita beber saja seperti acara gala dinner di i Plaza Balai Kota Bogor dengan taksiran biaya yang pasti tak sedikit untuk dikeluarkan. Pertanyaan pertama, apakah bijak mengeluarkan uang untuk acara yang diskriminatif seperti ini? Apalagi tentu pasti banyak kebutuhan lainnya yang lebih bijak dikeluarkan oleh Pemerintah Bogor bagi masyarakatnya. Ketimbang jamuan mewah untuk mengendalikan tembakau yang sejatinya sudah terbukti bermanfaat bagi masyarakat.

Baca Juga:  Framing Negatif Media Soal Rokok yang Sesat

Tentu saya berani bilang tembakau sungguh bermanfaat bagi masyarakat. Anda bisa lihat banyak yang hidup dan tercukupi kebutuhan hidup para petani dari penanaman tembakau. Belum lagi bicara soal industri yang sudah pasti banyak buruh yang bergantung hidup didalamnya. Apalagi, negara yang juga mengeruk keuntungan dari hasil penjualan rokok. Lantas, apa manfaat acara APCAT di Bogor bagi masyarakat Indonesia, atau setidaknya bagi warga Bogor yang memang menjadi tuan rumah di acara tersebut.

Saya juga bertanya, apakah acara ini juga inklusif bagi Warga Bogor itu sendiri? Apakah memang seluruh warganya dilibatkan untuk acara APCAT yang sifatnya sekelas internasional. Ah mungkin Warga Bogor memang sibuk dengan kemacetan yang terjadi di wilayah mereka, mengingat macet adalah problem yang tak tuntas terselesaikan di Bogor. Belum lagi belum meratanya pembangunan di sana, terlebih problem eksploitasi alam yang selama ini seperti dibiarkan oleh pemerintah.

Bogor dipilih menjadi tuan rumah APCAT 2019 karena dinilai memiliki spirit dalam pengendalian tembakau. Sudah pasti peraturan daerah kawasan tanpa rokok yang mereka jadikan dalil utamanya. Jika itu alasannya, maka saya hanya bisa tersenyum tipis. Perda KTR di Indonesia saat ini masih multi tafsir penerapannya di tiap daerah. Pemda Bogor mungkin boleh berbangga diri bahwa mereka adalah daerah pertama yang secara nomenklatur berhasil menerbitkan Perda KTR. Tapi bagaimana dengan eksekusinya? Masih sangat serampangan dan diskriminatif.

Baca Juga:  Budidaya Tembakau Lokal di Kabupaten Bangli

Tentu masih segar dalam ingatan ketika pada awal 2019 ini Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia memberi kritikan terhadap Pemda Bogor. Alasannya adalah Perda KTR Bogor dinilai oleh Kemendagri dianggap kelewatan dalam menafsir PP 109/2012 sebagai payung hukum atas pembuatan Perda KTR.

Tafsir atas Perda KTR ini, selain sudah melampaui kewenangan, juga secara tidak langsung telah mengganggu pemasukan bagi negara. Lesunya pendapatan di tingkat ritel rokok adalah gambaran kecil yang bisa kita tengarai, bahwa Perda KTR yang masih kontroversi ini telah digunakan untuk mencitrakan satu kepentingan saja. Artinya, Perda KTR hadir bukan untuk memenuhi rasa keadilan semua lapisan masyarakat.

Sudah-sudah, berbagai argumen di atas sudah membuktikan bahwa APCAT 2019 hanyalah agenda tak bermanfaat yang menghabiskan uang rakyat secara sia-sia. Agenda ini juga hanyalah pesta pora para antirokok terhadap penderitaan para kretekus yang kian hari makin dihisap dan ditindas oleh negara.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta