perokok santun

Oknum Perokok Bandel dan Pentingnya Kampanye Perokok Santun

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jika semua menjadi perokok santun, kisah seorang pria yang mengalami sakit mata dan mendadak viral di media sosial tak bakal terjadi. Pria bernama lengkap Belva Damario mengalami sakit mata serius usai terkena abu rokok dari pengendara lain ketika berkendara. Belva mengunggah kisahnya melalui post Instagram Story akun @belvadamario. Tangkapan layar post Belva pun menyebar di platform media sosial lainnya.

“Buat yang masih suka nyetir motor sambil ngerokok, plis jangan. Mata kiri gw kemaren kena abu rokok yang masih ada baranya, dengan riding gear lengkap helm + kacamata andalan ternyata masih masuk dari samping,” tulis Belva.

Awalnya Belva merasa perih dan buram. Ia mencoba beberapa cara penanganan sesampainya di rumah. Ternyata, muncul bintik merah di bola matanya. Silakan bayangkan perihnya.

Sial bagi Belva, bintik merah itu membesar keesokan harinya. Hampir setengah matanya kemudian berwarna merah. Dokter menyebut Belva mengalami pecah pembuluh darah. Ya, pecah pembuluh darah.

Meski sebenarnya agak mengherankan, bagaimana abu rokok itu bisa sampai ke mata Belva, perilaku merokok saat berkendara tetap tak bisa dibenarkan. Di posisi Belva—sebagai terdampak, agak sulit untuk menindaklanjuti fenomena ini di jalan. Belva tentu harus berhenti dan mengurus matanya. Sedang si pengendara perokok terus melaju tanpa mengetahui abu rokoknya “mampir” ke mata Belva, atau bisa jadi ke beberapa mata orang lainnya.

Baca Juga:  Karena Perokok adalah Orang-orang Asik

Risiko lebih ngeri tentu bisa terjadi. Kondisi demikian berpotensi mengganggu fokus korban. Hilang keseimbangan. Hingga paling fatal berdampak pada kecelakaan lalu lintas. Bayangkan, hanya karena setitik abu/bara api, nyawa seseorang harus melayang.

Kalau hal semacam ini terus terjadi, kita tentu tak bisa membendung stigma negatif pada rokok dan perokok. Gara-gara satu dua perokok bandel, label ditempel ke semua perokok.

Sekilas, merokok saat mengendarai motor bukanlah satu masalah besar. Pertama pengendara motor merokok di ruang terbuka, yang kemungkinan orang lain terpapar asap rokok sebenarnya kecil. Kecuali, orang yang tidak suka asap rokok itu adalah orang yang anda bonceng. Masalahnya bukan pada asap, justru abu/bara rokoklah yang berpotensi mengganggu.

Dalam konteks ini kesadaran perokok perlu jadi perhatian. Saya sendiri pun mengutuk tabiat perokok bandel yang kerap ngudud semaunya. Kampanye Perokok Santun yang dilakukan oleh Komunitas Kretek adalah salah satu bentuk upaya dari kelompok perokok yang sadar akan etiket publik. Beberapa poin di antaranya adalah dengan tidak merokok saat berkendara, di dekat anak dan ibu hamil, juga tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Baca Juga:  Menghajar Perokok Lewat Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Memang masih banyak oknum perokok bandel yang pada titik tertentu menimbulkan dampak buruk sebagaimana yang dikeluhkan oleh Belva. Hal ini yang perlu diminimalisir dengan partisipasi aktif dari semua perokok dalam mendukung gerakan perokok santun.

Catatan yang juga perlu menjadi perhatian tentu soal ketersediaan ruang merokok. Kita tidak bisa menutup mata pada fakta bahwa sebagian orang yang merokok di ruang publik memang karena minimnya ruang merokok. Alhasil, banyak orang yang memutuskan untuk ngudud sambil bawa motor karena nggak ada tempat representatif untuk merokok.

Kejadian yang menimpa Belva harus jadi pelajaran bagi semua pihak yang berkepentingan. Semoga setelah ini tak ada kejadian serupa. Lekas pulih, Belva!

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd