merokok saat berkendara

Memarahi Orang yang Merokok Saat Berkendara Tidak Menyelesaikan Persoalan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kita memang hobi marah-marah. Masyarakat kita memang senang memarahi. Ketimbang melakukan edukasi, memberi pemahaman, melampiaskan amarah dan memberi hukuman lebih dianggap sebagai solusi. Termasuk pada perkara orang yang merokok saat berkendara.

Ada beberapa hal yang sebenarnya janggal di video yang viral itu. Misalnya, kok bisa helm dipasangin kamera, tapi kacanya tidak ditutup. Tapi ya, namanya juga viral, dan hobi misuh, hal macam begitu tidak penting. Toh perkara paling mendasar dari persoalan ini juga tidak banyak dibahas.

Ya, masih ada perokok yang tidak bertanggung jawab hingga merokok saat berkendara. Masih banyak perokok berengsek, yang ketika ditegur agar tidak merokok di sembarang tempat tapi tidak mau mendengarkan. Sebagian malah marah ketika ditegur. Ya, perokok seperti itu masih ada.

Namun, ketimbang marah-marah, ada baiknya kita berpikir jernih terlebih dahulu. Sebenarnya, apa sih yang dibutuhkan agar orang-orang mau berubah, agar mereka tidak lagi merokok sembarangan. Apakah pelampiasan amarah, sepertinya tidak. Atau sikap sinis, sepertinya juga tidak. Hal yang sebenarnya dibutuhkan adalah edukasi, pemahaman, agar mereka mengerti kenapa tidak boleh merokok saat berkendara, tidak merokok di sembarang tempat.

Baca Juga:  Kontroversi Ketentuan Pidana dalam Perda KTR

Sekali lagi, saya mengakui kalau ada perokok yang marah ketika ditegur. Kalau perkaranya begitu, kita marah balik pun tidak masalah. Namun, yang perlu diingat, tidak sedikit juga orang yang menegur perokok dengan nada sinis atau malah membentak. Siapa juga yang suka tiba-tiba dibentak?

Jika kemudian teguran dan perlakuan terhadap perokok melulu sinis dan penuh bentakkan, saya kira persoalan seperti ini akan terus berulang dan tidak akan pernah selesai. Yang merokok tidak ada pemahaman agar tidak merokok ketika berkendara, yang tidak merokok akan terus marah-marah karena ketidakpahaman orang yang merokok.

Ini sebenarnya perkara sederhana, hanya kebencian dan emosi saja yang membuat menjadi megah. Kalau memang kita mau serius membenahi persoalan ini, ayo berikan edukasi pada perokok. Tegur mereka agar tidak merokok sembarangan, minta mereka merokok pada tempatnya. Beri pemahaman kalau yang tidak merokok punya hak untuk tidak terganggu asap rokok, dan yang merokok punya hak untuk merokok pada tempat yang disediakan.

Baca Juga:  Mencurigai Antirokok di Balik Hoax Gajah Merokok

Di posisi seperti inilah kemudian saya teringat ajaran Nabi Muhammad SAW terkait bagaimana kita harus bersikap terhadap orang lain. Pun di dalam Al-Quran, perkara bersikap lembut terhadap orang lain ini juga dibahas; “Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” QS Ali Imran 159.

Maka jelas lah, sebenarnya, pada konteks ini, bagaimana seharusnya kita bersikap edukatif terhadap orang yang melakukan kesalahan. Orang yang merokok saat berkendara itu salah, karena itu harus ditegur dan diberi pemahaman agar tidak mengulangi kesalahan. Kalau hanya ditegur dan dibentak, tanpa diberi pemahaman, percayalah, ada kemungkinan Ia akan mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit