Cengkeh-Bali

Walau Ekspor Membaik, Harga Cengkeh Malah Jatuh

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Cengkeh kita kerap menjadi primadona di pasar dunia. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebagai komoditas perkebunan yang cukup strategis, cengkeh Indonesia banyak terserap untuk memenuhi permintaan industri kretek. Merujuk data dari berbagai sumber, 93% produksi dalam negeri terserap untuk memenuhi kebutuhan industri kretek.

Untuk tahun ini panen cengkeh cukup berlimpah, meski harga jualnya terbilang rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu harganya bisa di atas Rp 100,000 per kilogram, tahun ini justru di bawahnya. Perlu diketahui, hasil panen bisa disimpan sampai tahunan. Jadi, ketika harga anjlok, sebagian petani ada juga yang menyimpannya untuk kemudian dijual nanti pada waktu harga sudah menggembirakan.

Walaupun tahun ini harga terbilang jauh dari kata menggembirakan, tak dipungkiri permintaan cengkeh Indonesia untuk memenuhi pasar ekspor cukup memberi kabar baik. Berdasarkan data Kementrian Pertanian, selama lima tahun terakhir produksi cengkeh terbesar didominasi oleh provinsi Maluku, sebesar 21,16 % pada tahun 2019 atau sekitar 17,06% dari total produksi.

Baca Juga:  Peningkatan Teknologi Pertanian Adalah Hak Petani Tembakau

Perlu diketahui juga, total produksi cengkeh tahun ini mencapai 124 ribu ton dari luas lahan sekitar 561 ribu hektar. Di sini kabar baiknya, menurut data BPS, untuk periode Januari – Juli 2019 ekspor cengkeh dari Indonesia mencapai 54,91 juta dolar AS. Secara porsentase naik 137,60% dari periode sama pada tahun lalu yaitu sebesar 23,110 juta dolar AS.

Tanaman cengkeh adalah tanaman yang hidup baik pada musim dengan curah hujan yang rendah. Sepanjang tahun 2018 hingga tahun 2019, kemarau panjang cukup membantu kesuksesan panen di Indonesia. Begitu pula halnya dengan tembakau, panen tembakau di tahun ini cukup berlimpah, namun tembakau dari petani banyak yang tidak terserap pabrik akibat kenaikan cukai yang gila-gilaan.

Syukurnya masih ada pasar konsumen yang meminati rokok tingwe. Dengan cara membeli tembakau dari petani langsung, setidaknya itu cukup membantu mengurangi beban tembakau petani yang tak terserap pabrik.

Kembali ke komoditas, setelah sebagian besar cengkeh memenuhi permintaan industri kretek. Permintaan ekspor untuk Arab Saudi dan India, termasuk pula Sudan, telah membuktikan bahwa komoditas cengkeh Indonesia sangat diminati di luar negeri. Meski harga lagi turun, kondisi itu cukup diimbangi dengan permintaan ekspor yang terbilang tinggi. Artinya, petani tidaklah terlalu dibuat nelangsa oleh kondisi harga yang sedang tidak baik tahun ini.

Baca Juga:  Harga Rokok Naik, Aktivis Anti Rokok Sudah Siap Gulung Tikar?

Sebagai kretekus, tentulah kita turut senang jika petani cengkeh maupun petani tembakau turut mendapatkan kegembiraan. Bukan apa-apa, dari para petani itulah kita masih dapat merasakan nikmatnya kretek dalam isapan. Selain itu, negara pun mendapatkan pemasukan yang tidak sedikit dari dua komoditas perekebunan tersebut. Pemasukan yang turut memberi andil besar bagi kelangsungan pembangunan.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah