rokok

Budaya Koruptif Dalam Urusan Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jutaan orang tidak menyadari bahwa curanrek adalah salah satu bentuk budaya koruptif dalam urusan rokok. Ya, biar bagaimana pun, mengambil korek teman untuk dibawa pulang adalah hal yang korup. Atau boleh dibilang, itu adalah bibit tindakan dari tindakan korup yang harus kita hindari.

Secara prinsip pengertian dari korupsi adalah suatu tindakan penyalahgunaan jabatan atau wewenang yang dilakukan oleh seseorang demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ada dua kata kunci yang penting dalam urusan ini, menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Sepanjang memenuhi kedua hal tadi, saya kira apapun tindakannya, sudah layak disebut sebagai korupsi.

Tentu saja, tindak koruptif yang paling kita benci adalah yang biasa dilakukan koruptor. Merampas uang negara yang diambil dari pungutan rakyat, serta merugikan publik karena dana untuk kesejahteraan mereka dipakai demi keuntungan diri sendiri. Sungguh suatu perbuatan yang benar-benar kita benci.

Namun, sadarkah kalian jika hampir setiap hari ada banyak perokok yang juga melakukan perilaku koruptif dalam kehidupan masyarakat? Ya selain curanrek yang jelas-jelas mencuri walau hanya korek, tindakan paling korup yang biasa dilakukan perokok adalah menjadi perokok yang berengsek di hadapan publik.

Baca Juga:  Ruang Merokok, Mungkinkah?

Menjadi perokok yang berengsek berarti melakukan aktivitas merokok yang merugikan orang lain. Apa itu, merokok di sembarang tempat, merokok ketika berkendara, merokok di angkutan umum, merokok di dekat anak kecil dan ibu hamil., menyuruh anak kecil membeli rokok, dan masih banyak lainnya. Sepanjang aktivitas merokok dilakukan dengan merugikan orang lain, maka sepanjang itu juga tindakan yang dilakukan termasuk dalam kategori koruptif.

Biar bagaimana pun juga, merampas hak orang lain bukanlah perbuatan yang baik dan benar. Merokok memang merupakan aktivitas legal, melakukannya adalah hak bagi sebagian orang. Namun, perlu dipahami bahwa yang memiliki hak dalam hidup ini bukan hanya perokok. Kita juga harus memikirkan dan menghargai hak orang lain yang tidak merokok.

Saling menghargai adalah kunci dari penyelesaian konflik horizontal antara masyarakat perokok dan masyarakat yang tidak merokok. Walau memang, menurut saya, para perokok harus memulai kesadaran untuk lebih memahami dan menghargai hak yang bukan perokok. Jadi, sembari memperjuangkan hak kita, kita tidak boleh merampas hak orang lain. Begitu kira-kira.

Baca Juga:  Absurdnya Antirokok Memainkan Isu Sanksi Sosial

Karena itulah, menjadi perokok santun adalah kunci dari perlawanan perokok terhadap budaya koruptif di negara ini. Minimal, kita harus melakukannya mulai dari diri sendiri serta lingkungan terdekat. Jadilah perokok santun, dan ajak kenalanmu yang merokok untuk menjadi perokok santun. Sepanjang kita merokok dengan penuh rasa tanggung jawab, selama itu pula publik akan menilai bahwa perilaku perokok tidak seburuk dan sekorup yang mereka kira.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit