Mari Meluruskan Nalar, Wahai Pengguna Vape

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Butuh asupan nikotin? Gunakan vape saja, jangan rokok. Rokok berbahaya dan mematikan, sedang vape rendah risiko dan lebih aman. Begitu narasi yang bermunculan di berbagai laman berita. Benarkah demikian?

Beberapa penelitian sudah membantah anggapan yang menyebut vape lebih aman. Biar bagaimana pun, vape tetap mengandung nikotin, sama halnya dengan rokok konvensional. Metode penggunaan yang berbeda—dibakar dan dipanaskan—tidak akan membedakan efeknya. Maka, narasi yang membanding-bandingkan efek dari kedua produk olahan tembakau tersebut sudah sesat sejak awal. Lain hal kalau kalau bahas kasus alat hisap vape yang sering meledak. Rokok konvensional jelas tidak punya risiko itu.

Jujur, sebagai perokok saya gak masalah dengan keberadaan vape. Namun, kampanye vape kerap menjadikan rokok sebagai musuh yang harus dilawan. Alih-alih bersatu melawan kelompok anti-tembakau, kelompok vapers lebih sering menyudutkan rokok dan perokok. Mereka menawarkan vape sebagai jalan keluar bagi mereka yang “dibelenggu” oleh rokok.

Belakangan ini para vapers melakukan gerakan pamer foto rontgen paru-paru. Gerakan ini adalah respon pada wacana pelarangan vape oleh BPOM. Mereka coba meyakinkan publik bahwa paru-paru konsumen vape itu sehat, tak terdapat flek dan peradangan sebagaimana yang sering dituduhkan pada paru-paru perokok konvensional.

Baca Juga:  Bukan Masyarakat di Lingkup RW yang Butuh Sosialisasi Peda KTR, Tapi Aparatur Daerah

Mereka perlu memahami bahwa kampanye buruk tentang bahaya tembakau itu adalah politik dagangan, dimainkan oleh pihak-pihak berkepentingan. Maka, persatuan dengan konsumen rokok yang juga produk olahan tembakau adalah hal yang mutlak diperlukan. Lha, ini kok malah sikut-sikutan? Nalar para vapers ini yang perlu diluruskan. Edukasi perokok santun sebenarnya juga relevan untuk diterapkan oleh vapers.

Oh iya, rokok memberikan informasi tentang kandungan nikotin dan tar dalam produknya. Dengan demikian, konsumen bisa menentukan pilihan dengan kesadaran penuh akan konsekuensi dari produk yang dipakai. Hal tersebut sedikit berbeda dengan liquid vape atau e-juice. Ada beberapa liquid yang diproduksi secara rumahan atau non pabrikan. Liquid tersebut biasanya minim informasi soal komposisi dan kandungan di dalamnya. Dengan demikian konsumen seolah bertaruh pada risiko dan efek samping yang mungkin terjadi.

Tapi, kembali lagi, vapers dan perokok sebaiknya bergandengan memukul kampanye buruk soal tembakau. Gerakan edukasi vapers dan perokok juga harus saling terintegrasi demi menghancurkan stigma negatif yang beredar. Kalau kampanye vape tetap mendiskreditkan rokok dan perokok, kita perlu mempertanyakan ulang: apa mungkin vape sedang berusaha merebut pasar perokok dengan dalih kesehatan? Wallahu a’lam.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd