Hapus Cukai Rokok Kretek Tangan

Tarif Cukai Naik, Prevalensi Perokok Tidak Turun

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kenaikan cukai rokok oleh beberapa pengamat dinilai memberi dampak positif. Tetapi tidak tentunya bagi konsumen. Karena dampaknya jelas kepada mahalnya harga-harga rokok yang juga berpengaruh langsung terhadap hulu industri. Serapan tembakau dari petani untuk industri rokok menjadi menurun. Beberapa pabrikan besar membatasi kuota serapannya.

Tak ayal dampak dari mahalnya harga rokok, konsumen pada akhirnya mengambil beberapa opsi. Mulai dari beralih membeli rokok yang lebih terjangkau. Karena ada beberapa pilihan rokok yang harganya relatif murah. Mengingat begitu majemuknya varian produk dari industri kretek. Opsi lainnya, banyak konsumen yang juga beralih ke tingwe.

Cukai rokok sebagai instrumen pengendali menjadi alasan para pihak untuk mencapai tujuan tertentu, salah satu argumennya adalah untuk menekan angka perokok. Alasan itu seturut dengan agenda kesehatan yang selama ini kerap mendiskreditkan rokok sebagai biang kerok segala penyakit.

Namun pada faktanya, meski cukai rokok dikerek naik secara gila-gilaan, perokok tetap punya cara untuk bisa merokok. Itu artinya, argumen yang menyebut kenaikan cukai dapat menekan angka perokok jelas tak sepenuhnya terbukti.

Baca Juga:  Para Manusia Tertua Yang Membantah Dogma Rokok Membunuh

Justru menurunnya serapan tembakau petani, serta meningkatnya angka pengangguran akibat kena PHK dari pabrik rokok yang terdampak kenaikan cukai. Itu jelas bukan suatu kabar positif bagi cita-cita yang diemban pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya. Terlebih dampaknya bagi target penerimaan negara dari cukai rokok. Jelas akan sulit tercapai. Apa benar ada kabar positif yang dapat dirasakan dari persoalan itu?

Satu lagi yang absurd dari argumen mereka terkait dampak positif kenaikan cukai dapat mencegah tingginya angka perokok di bawah umur. Sementara dalam konteks ini, pabrik rokok sudah berlaku taat asas, di antaranya dengan mencantumkan peringatan pada produknya; untuk tidak dikonsumsi oleh anak di bawah umur. Tanda peringatan yang terpajang di etalase ritel rokok dengan menggunkan simbol 18+  itu sudah jelas bentuk taat asas. Bahwa para pihak yang berurusan dengan rokok sudah menjalankan aturan yang ditetapkan.

Pertnyaannya, kenapa kenaikan cukai ini dinilai berdampak positif dengan dalih bahwa harga rokok di Indonesia sangatlah murah. Digadang-gadang terlalu mudah diakses anak di bawah umur. Jika ditilik persoalannya, ada satu hal yang tidak menjadi perhatian para pihak, yakni tidak berjalannya proses edukasi yang tepat kepada anak. Tidak terjadi proses pemahaman yang diberikan secara tegas, bahwa rokok adalah produk konsumsi yang menuntut rasa tanggung jawab.

Baca Juga:  Menyoal Pemberitaan Media Tentang Rokok yang Berat Sebelah

Bukan melulu seperti yang dilakukan para pembenci rokok dengan cara menakut-nakuti anak, tanpa disertai itikad mengedukasi anak. Jangan sampai, kegagalan memberi edukasi kepada anak terkait rokok. Malah dikaburkan dengan menjadikan rokok sebagai kambing hitam. Mestinya para pihak jeli melihat kenyataan ini, mengingat bahwa sebetulnya tidak ada produk konsumsi yang tak memiliki faktor risiko. Tetapi kenapa selalu saja yang harus menanggung kecaman dan diskriminasi selalu terhadap produk rokok.

Bukan lagi rahasia memang, kalau di balik ini semua ada kepentingan tertentu dalam upaya menebalkan stigma negatif serta mendiskriminasi konsumen rokok.  Stigma ini terus saja dibunyikan untuk mengaburkan persoalan yang sebenarnya. Sementara proses edukasi malah terabaikan, bahkan seperti tidak dianggap penting. Hih.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah