Chef Renatta Pegang Rokok, Apa yang Salah?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Menjadi pesohor yang gemar merokok di negara ini memang menyebalkan. Apalagi pesohor itu seorang perempuan. Perlakuan diskriminatif dan pandangan negatif terhadap perempuan terus saja dimainkan oleh orang-orang yang mau mencari keuntungan dari perkara itu. Watak patriarki yang menjangkiti masyarakat membuat perempuan dan rokok kerap saja menjadi mangsa pemberitaan.

Seperti yang dialami Renatta Moeloek salah satunya. Aktivitasnya kerap jadi perbincangan karena dia menyandang popularitas sebagai chef ternama dan konsultan menu untuk restoran dan hotel berkelas. Kemunculan salah satu foto yang mirip dengannya menimbulkan kontroversi dan membuat heboh warganet. Beragam memang komentar-komentar yang dilayangkan.

Nah, pergunjingan warganet menyoal Renatta ini lantaran terdapat postingan foto yang diunggah akun instagram @lambenyinyir_official. Pada foto itu Renatta terlihat santai berswafoto di rumahnya sambil memegang sebatang rokok. Sekali lagi, ini karena dia seorang perempuan ditambah lagi terlihat pegang rokok. Coba kalau dia pegang benda lain yang bukan produk kontroversi, misal saja lagi pegang cotton bud atau obeng kembang, misalnya. Pokoknya asal bukan rokok, komentar warganet belum tentu seriuh itu.

Baca Juga:  Cap Jahat untuk Industri Tembakau

Spontan saja postingan foto dari akun gosip instagram itu menuai banyak komentar warganet. Sebagian besar bernada nyinyir, sebagian lainnya merasa itu hal biasa. Tidak ada bedanya perempuan maupun laki-laki yang merokok, merokok ataupun tidak itu sama-sama hak personal, dilindungi kok secara konstitusi. 

Ngeheknya tuh di sini, tidak hanya warganet, masyarakat kita pada umumnya kerap pula semacam memberi sanksi sosial terhadap perempuan merokok. Seringkali perempuan merokok dikait-kaitkan dengan tafsir-tafsir tentang kenakalan. Sementara berdasar informasi dari laman-laman berita yang ada, postingan foto tersebut masih kontroversi kebenarannya. 

Padahal, Renatta sendiri maupun orang-orang di lingkungan terdekatnya menganggap aktivitas merokok itu hal wajar, asal masih menjunjung semangat perokok santun, tentunya. Terlepas dari benar-tidaknya Renatta punya kebiasaan merokok, masyarakat sudah mestinya belajar menilai secara objektif dan proporsional, jangan pula jadi bias gender. Perempuan juga memiliki hak setara dalam menentukan pilihannya. Sekali lagi, merokok adalah pilihan personal.

Jika kita mau objektif bicara soal stigma yang ditimpakan kepada perokok, mari kita lihat fakta pembandingnya. Di berbagai pemberitaan kita tahu sendiri banyak pejabat publik maupun tokoh masyarakat yang tidak merokok tapi malah berkelakuan busuk bahkan sampai merugikan negara dan menyengsarakan orang banyak. Itu artinya, soal perilaku baik atau buruk seseorang tidak bisa dinilai dari aktivitas merokoknya.

Baca Juga:  Agar Lebih Dihargai oleh Mereka yang Tidak Merokok

Rokok sebagai salah satu produk konsumsi memang memiliki faktor risiko. Namun, kalau perkara kebiasaan merokok ini dikait-kaitkan dengan perilaku baik-buruk seseorang, apalagi sampai menistakan perempuan melalui anasir patriarki, maka kita akan selamanya menjadi masyarakat yang terbelah, tak mampu menghargai pilihan dan perbedaan. Iya jangan harap masyarakat yang adil dan sejahtera terwujud.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah